globalisasi, sektor pendidikan harus diberdayakan setiap saat, berkelanjutan,
dan tersistem. Ini semua menuntut adanya tingkat unggulan kompetitif yang
tinggi. Sehingga kita memerlukan inovasi yang pesat dalam dunia pendidikan.
Karena, menjadi bangsa yang berharkat memerlukan unggulan kompetitif dalam
berbagai bidang. Jika kita ingin
menghasilkan berbagai unggulan kompetitif outcome pendidikan. Inovasi
harus menjadi prioritas penting dalam pengembangan sektor pendidikan. Tanpa ada
inovasi yang signifikan, pendidikan kita hanya akan menghasilkan lulusan yang
tidak mandiri, selalu tergantung pada pihak lain. Sector pendidikan juga perlu
difungsikan sebagai ujung tombak untuk mempersiapkan sumber daya manusia dan
sumber daya bangsa, agar kita memiliki unggulan kompetitif dalam berbangsa dan
bernegara di tengah-tengah kehidupan dunia yang semakin global.

kesadaran akan pentingnya memiliki unggulan kompetitif di masa yang akan
datang, agar anak bangsa mampu hidup dalam konteks interdependensi. Pendidikan sejatinya mampu melahirkan kader
terbaik bangsa yang memiliki pemahaman kebangsaan secara komprehensif,
integritas dan kredibilitas tinggi, berkepribadian, moderat serta peduli
terhadap kehidupan bangsa dan negara. Mereka adalah generasi kreatif, inovatif
dan kompetitif. Mereka adalah insan Indonesia yang unggul dengan
mempunyai kompetensi sebagai berikut.
yaitu:
Mampu bersaing, bertahan dengan integritas dan
disiplin
Mampu membuat solusi terhadap suatu resiko
Mampu memimpin, memberi keteladanan, dan menjadi
pengikut yang baik
Mampu bekerja secara tim maupun mandiri
budaya nasional, global dan spiritualitas
Menguasai wawasan kebangsaan dengan baik.
yang diperoleh selama pendidikan, para generasi
kreatif, inovatif dan kompetitif selain mempunyai kompetensi umum, juga
menguasai kompetensi khusus sebagai berikut:
Mampu mengaplikasikan bidang keahliannya dan kreatif
Mampu membaca, menganalisis dan memberdayakan sumber
daya secara efektif dan inovatif
Mampu berkomunikasi secara efektif, mendengarkan dan
berbicara di depan publik minimal dalam 2 (dua) bahasa
kompetitif dengan memiliki karakter sebagai berikut:
Talent (bakat) yaitu sesuatu yang alami bawaan lahir dan
kapasitas untuk melakukan sesuatu secara baik
Ability (kemampuan) yaitu berkembang dari pengalaman yang
memungkinkan seseorang untuk belajar atau menyelesaikan tugas
Belief (keyakinan)
yaitu pola pikir
yang memungkinkan seseorang untuk sukses dan berhasil
Attitude (perilaku)
yaitu persepsi
tentang dirinya dan lingkungan orang lain yang ada secara positif
Curiosity (selalu ingin tahu) adalah naluri alami untuk
menyelidiki, bertanya, memotivasi diri dari dalam untuk belajar dan mencari
tahu
Habits (kebiasaan)
adalah
perilaku/pola pikir yang berlangsung yang mengarahkan untuk tumbuh dan
berkembang
Skill (ketrampilan)
adalah
pola perilaku atau pola pikir yang spesifik, dalam belajar, praktek, dan
pengembangan yang mengarahkan seseorang untuk menjadi efisien dan berkemampuan
Nationalisme (paham kebangsaan) adalah
Pemahaman dan kesadaran berbangsa Indonesia seutuhnya.
berkompetisi untuk mengembangkan kreativitas siswa. Hal tersebut bisa
difasilitasi dengan cara menyelenggarakan berbagai lomba, sayembara, kompetisi,
atau olimpiade. Yang jelas, kegiatan semacam itu akan sangat membantu para
pelajar dan mahasiswa untuk memiliki mental kompetitif. Sehingga, mereka akan
terdorong untuk terus berkreasi serta mengeksplorasi bakat (Iba Ismail, 2004).
kepercayaan diri dan kematangan mental ketika harus berkompetisi dengan peserta
dari negara lain di tingkat dunia. Ahli strategi Sun Tzu (seorang tokoh yang
hidup pada zaman Tiongkok kuno, namun tulisannya banyak sekali dimanfaatkan
dalam strategi bisnis dan perang modern) menulis, suatu peperangan akan
dimenangkan pihak yang mempunyai rasa percaya diri yang besar. Dengan
kepercayaan diri yang besar atas kemampuan, akan semakin mantaplah langkah kita
menghadapi persaingan tingkat internasional, khususnya dalam era globalisasi
ini.
lebih indah, karena mereka akan dikelilingi oleh hal-hal yang bervariasi dan tidak
monoton. Sebaliknya, rutinitas yang monoton dalam pendidikan akan membuat anak
didik lebih cepat mengalami kebosanan dibanding melakukan berbagai hal yang
bervariasi yang memberikan sesuatu yang baru dan segar dalam kehidupan
sehari-harinya. Inilah yang membuat para peserta didik mengapa suka
berjalan-jalan, karena dengan berjalan-jalan kita akan menemukan berbagai hal
yang baru.
apresiasi mengenai berbagai gagasan baru, sesama manusia, dan dunia secara
umum. Orang yang kreatif senang akan ide baru dan memiliki apresiasi yang
tinggi, saat menemukan ide baru, baik yang dihasilkannya maupun orang lain. Berbeda
dengan orang yang tidak menghargai ide, tidak ada kesenangan yang muncul saat
dia melihat ide baru. Jelas, bahwa orang yang menghargai gagasan dan ide baru
memiliki satu kelebihan tentang kebahagiaan. Saat orang lain mencibir, dia
tersenyum.
dia tidak takut akan kehilangan peluang, karena orang kreatif bisa menciptakan
peluang sendiri. Dia tidak takut menghadapi masalah. Karena orang kreatif
memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang tinggi. Dia juga tidak hidup
dalam kebosanan, karena bisa menciptakan berbagai hal yang membuat dirinya
tidak bosan.
dengan cara berbeda dan baru. Orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui
permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, serta dapat melakukan sesuatu
yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreativitas melibatkan
adanya ide-ide baru yang berguna dan tidak terduga, namun dapat
diimplementasikan.
Inventing, Choosing dan Implementing.
saja yang ingin dilakukan dalam kondisi yang ada saat ini. Sekali mereka
mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut, maka proses kreativitas sudah
dimulai. Hal penting yang harus diperhatikan pada saat ini adalah menciptakan
iklim yang menunjang proses berpikir kreatif
mereview berbagai alat, teknik dan metode yang telah dimiliki yang mungkin
dapat membantu dalam menghilangkan cara berpikir yang traditional.
ide-ide yang paling mungkin untuk dilaksanakan.
bagaimana membuat suatu ide dapat diimplementasikan. Seseorang bisa saja
memiliki ide cemerlang, tetapi jika ide tersebut tidak dapat diimplementasikan,
maka hal itu menjadi sia-sia saja. Sama saja dengan syair lagu “layu sebelum
berkembang”.
Charles Prather, dalam bukunya Blueprint for Innovation, gaya atau model
kreativitas seseorang bersifat menetap. Prather membagi 2 gaya kreativitas,
yaitu: 1) Adaptive Problem Solving dan 2) Innovative Problem Solving.
dalam bekerja cenderung menggunakan kreativitas untuk menyempurnakan system
dimana mereka bekerja. Hal-hal yang terlihat pada anak didik yang memiliki gaya
ini adalah bahwa mereka akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat system
menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih murah dan efisien. Apa yang mereka lakukan
akan dapat dilihat hasilnya secara cepat. Oleh karena itu mereka lebih sering
mendapat penghargaan.
didik yang memiliki model kreatifitas Innovative Problem Solving biasanya dalam
bekerja mereka cenderung untuk menantang dan mengubah sistem yang sudah ada.
Mereka dapat disebut sebagai “agent of
change” karena lebih memfokuskan pada penemuan sistem baru daripada
menyempurnakan yang sudah ada. Dalam perusahaan mereka dapat dilihat pada
bagian-bagian yang melakukan riset, penciptaan produk baru, mengantisipasi
kebutuhan pelanggan tanpa diminta, dan orang-orang yang menjaga kelangsungan
hidup perusahaan di masa yang akan datang.
dalam praktik pendidikan adalah bagaimana agar anak didik tidak mendapatkan hambatan
untuk berpikir kreatif. Hambatan yang mengganggu kreativitas adalah jika pendidikan
yang kita jalani tidak sesuai dengan minat dan bakat peserta didik. Selain itu,
sehari-hari.
menjadi kreatif seseorang harus berani untuk dinilai aneh oleh orang lain.
Lihat saja para penemu dan seniman-seniman besar yang pada saat menciptakan
karyanya seringkali dianggap “gila”. Karena itu tidak semua peserta didik siap
untuk berbeda pendapat/ide dengan orang lain meskipun ide tersebut kemudian
terbukti benar. Pola pendidikan kita yang kurang mendorong adanya variasi atau
perbedaan pendapat juga sangat mendukung kurangnya kreativitas pada peserta
didik.
sebetulnya tidak sulit. Karena pada dasarnya kreativitas dapat terjadi di semua
bentuk dan model pendidikan sejauh lembaga tersebut menghargai atau mendorong
individu-individu untuk berkreasi. Jika tidak, maka anak didik yang kreatif akan menjadi frustrasi dan
selanjutnya terjebak dengan rutinitas yang ada.
lingkungan pendidikan kondusif yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor,
spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan
atau percobaan. Membentuk lingkungan pendidikan yang kondusif seperti itu sebenarnya
sangatlah mudah bagi sebuah institusi pendidikan. Mendorong kreativitas dalam
dunia pendidikan menuntut iklim yang permissif terhadap existensi
individualitas dan penerimaan terhadap rasa humor, disamping tetap memegang
teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitment sebagai norma yang berlaku.
imajinasi dan kreativitas anak justru telah membuat “gembok” dalam otak belahan
kanan anak-anak. Gembok itu harus segera dibuka sehingga perkembangan otak
kanan anak Indonesia bisa seimbang dengan otak kirinya. Cara untuk membuka
gembok itu antara lain dengan memberikan latihan kepada anak lewat kegiatan
pengamatan, interpretasi, ramalan, dan eksperimen atau penerapan teori.
ada inovasi. Sebaliknya, semakin tinggi kreatifitas, jalan ke arah inovasi
semakin lebar pula. Sayangnya, banyak pendapat keliru tentang kreatifitas.
Misalnya, kreatifitas itu hanya dimiliki segelintir orang berbakat. Lebih salah
kaprah lagi, kreatifitas itu pembawaan sejak lahir. John Kao, pengarang buku
Jamming: The Art and Discipline in Bussiness Creativity, (1996), membantah
pendapat ini. “Kita semua memiliki kemampuan kreatif yang mengagumkan. Dan
benar kreatifitas bisa diajarkan dan dipelajari,” kata Kao.
yang tinggi. Ini juga pendapat keliru. Berbagai penelitian membuktikan,
sekalipun kreatifitas bisa dirangsang dan ditingkatkan dengan latihan, namun
tidak berarti orang cerdas dan berkemampuan akademik tinggi otomatis bisa
kreatif. Lagi pula, untuk jadi kreatif ternyata tidak cukup berbekal skill dan
kemampuan kreatif belaka. John G. Young, pengarang buku berjudul Will and
Won’t: Autonomy and Creativity Blocks (2002), berkesimpulan bahwa kreatifitas
juga membutuhkan kemauan atau motivasi. Mengapa?
membuat seseorang melakukan aktivitas yang menghasilkan output kreatif. Ia bisa
memilih tidak melakukan aktivitas kreatif. Jadi faktor dorongan atau motivasi
sangat penting di sini,” tegas Young.
penyelenggaraan pendidikan yang difokuskan pada upaya pembentukan generasi
kreatif, inovatif dan kompetitif pada akhirnya akan melahirkan SDM unggul yang merupakan
sumber sekaligur modal keunggulan kompetitif yang potensial bagi sebuah bangsa.
Karena ia memiliki kompetensi-kompetensi pendukung berupa intelektualitas,
sifat, ketrampilan, karakter personal, serta proses intelektual dan kognitif, yang
tidak dapat ditiru begitu saja oleh orang lain.






































