Pemenuhan tiga tujuan
pendidikan, paralel dengan upayap dalam
peningkatan bakat dan kecerdasan peserta didik. Bakat
atau aptitude menurut Hilgard adalah the capacity to learn. Bakat merupakan
kemampuan untuk belajar. Secara umum bakat merupakan kemampuan potensial yang
dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang
(Chaplin 1997). Kemampuan potensial itu baru akan terealisir menjadi kecakapan
yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Dalam hal ini bakat identik dengan intelegensi.

pendidikan, paralel dengan upayap dalam
peningkatan bakat dan kecerdasan peserta didik. Bakat
atau aptitude menurut Hilgard adalah the capacity to learn. Bakat merupakan
kemampuan untuk belajar. Secara umum bakat merupakan kemampuan potensial yang
dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang
(Chaplin 1997). Kemampuan potensial itu baru akan terealisir menjadi kecakapan
yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Dalam hal ini bakat identik dengan intelegensi.

Dalam perkembangan selanjutnya, bakat diartikan sebagai
kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada
upaya pendidikan dan pelatihan (Tohirin, 2005). Itulah yang kemudian disebut
sebagai bakat khusus (specific aptitutude)
yang konon tidak dapat dipelajari karena merupakan karunia dari Allah
(pembawaan sejak lahir).
kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada
upaya pendidikan dan pelatihan (Tohirin, 2005). Itulah yang kemudian disebut
sebagai bakat khusus (specific aptitutude)
yang konon tidak dapat dipelajari karena merupakan karunia dari Allah
(pembawaan sejak lahir).
Dalam banyak kasus, bakat
mempengaruhi hasil belajar. Apabila pelajaran yang dipelajari sesuai dengan
bakatnya, hasil belajarnya akan lebih baik karena ia senang belajar dan
selanjutnya ia akan lebih giat mempelajarinya. Proses pendidikan sudah
semestinya memperhatikan bakat-bakat khusus yang ada pada diri peserta didik
dan memberikan stimulus kepada semua peserta didik untuk menemukan dan
menumbuhkembangkan bakat mereka masing-masing. Prinsipnya, belajar sesuai bakat
(yang pada gilirannya menumbuhkan minat) akan lebih mudah karena proses belajar
menjadi menyenangkan. Hal ini sesuai dengan dengan
kalimat motivasi: do what you love and
love what you do.
mempengaruhi hasil belajar. Apabila pelajaran yang dipelajari sesuai dengan
bakatnya, hasil belajarnya akan lebih baik karena ia senang belajar dan
selanjutnya ia akan lebih giat mempelajarinya. Proses pendidikan sudah
semestinya memperhatikan bakat-bakat khusus yang ada pada diri peserta didik
dan memberikan stimulus kepada semua peserta didik untuk menemukan dan
menumbuhkembangkan bakat mereka masing-masing. Prinsipnya, belajar sesuai bakat
(yang pada gilirannya menumbuhkan minat) akan lebih mudah karena proses belajar
menjadi menyenangkan. Hal ini sesuai dengan dengan
kalimat motivasi: do what you love and
love what you do.
Di luar peningkatan dan pengembangan bakat dan minat, dunia
pendidikan mengenal konsepsi intelegensi atau kecerdasan. Tujuan pendidikan secara nyata adalah
mencerdasarkan manusia. Sejak saat itu berkembang berbagai tingkat dan varian
teori kecerdasan. Teori kecerdasan berkembang sejalan dengan pemahaman dan
penemuan baru terkait faktor-faktor penting yang menjadikan manusia dapat
meraih kesuksesan, keberhasilan, serta dalam mewujudkan kebahagiaan di dalam
kehidupan.
pendidikan mengenal konsepsi intelegensi atau kecerdasan. Tujuan pendidikan secara nyata adalah
mencerdasarkan manusia. Sejak saat itu berkembang berbagai tingkat dan varian
teori kecerdasan. Teori kecerdasan berkembang sejalan dengan pemahaman dan
penemuan baru terkait faktor-faktor penting yang menjadikan manusia dapat
meraih kesuksesan, keberhasilan, serta dalam mewujudkan kebahagiaan di dalam
kehidupan.
ADVERTISEMENT
Dalam mengartikan kecerdasan
para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Menurut Feldman (1990), kecerdasan
dapat dipandang sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan
menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan.
Menurut Gregory (2000), inteligensi adalah kemampuan atau keterampilan untuk memecahkan
masalah atau menciptakan produk yang bernilai dalam satu atau lebih bangunan
budaya tertentu. Sementara itu pengertian lain menyatakan bahwa intelegensi
adalah kemampuan berpembawaan ganda yang mampu mewujudkan berbagai kemungkinan.
Kemampuan ini dapat berkembang atau menurun bergantung pada motivasi dan
keadaan pengalaman pendidikan yang relevan pada diri seseorang. Menurut Alfred
dan Simon (1996), inteligensi atau kecerdasan terdiri dari tiga komponen: (a)
kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan; (b) kemampuan untuk mengubah
sesuatu; dan (c) kemampuan untuk mengubah diri sendiri.
para ahli mempunyai pengertian yang beragam. Menurut Feldman (1990), kecerdasan
dapat dipandang sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan
menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat dihadapkan dengan tantangan.
Menurut Gregory (2000), inteligensi adalah kemampuan atau keterampilan untuk memecahkan
masalah atau menciptakan produk yang bernilai dalam satu atau lebih bangunan
budaya tertentu. Sementara itu pengertian lain menyatakan bahwa intelegensi
adalah kemampuan berpembawaan ganda yang mampu mewujudkan berbagai kemungkinan.
Kemampuan ini dapat berkembang atau menurun bergantung pada motivasi dan
keadaan pengalaman pendidikan yang relevan pada diri seseorang. Menurut Alfred
dan Simon (1996), inteligensi atau kecerdasan terdiri dari tiga komponen: (a)
kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan; (b) kemampuan untuk mengubah
sesuatu; dan (c) kemampuan untuk mengubah diri sendiri.
Revolusi
kecerdasan mula-mula mengemuka sejak ditemukannya teori kecerdasan intelektual
(Intelectual Quotient-IQ) – istilah Quotient jamak digunakan, padahal yang
lebih tepat mewakili arti kecerdasan adalah Intelligence.
Kecerdasan Intelektual (IQ) berkembang sejak awal abad ke-20. Ia menjadi
penemuan fenomenal karena untuk pertama kali mampu menguak misteri kecerdasan
otak manusia dengan ukuran yang relatif akurat. Tes evaluasi untuk IQ ini
mula-mula dikembangkan oleh Alfred Binet dan dan Theodor Simon, dua orang psikolog asal Perancis (Binet, 1996). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini
kemudian direvisi pada tahun 1911. Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog
dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan
utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai
rasio (perbandingan) antara mental age
dan chronological age. Hasil
perbaikan ini disebut Tes Stanford-Binet. Perkembangannya
diteruskan oleh Carl Brigham dengan merancang tes IQ yang diperbaharui dengan
nama Scholastic Aptitute Test (SAT). Berdasarkan tes ini terbentuk suatu pola
pikir: kita cerdas atau tidak, seperti
sudah taken for granted.
kecerdasan mula-mula mengemuka sejak ditemukannya teori kecerdasan intelektual
(Intelectual Quotient-IQ) – istilah Quotient jamak digunakan, padahal yang
lebih tepat mewakili arti kecerdasan adalah Intelligence.
Kecerdasan Intelektual (IQ) berkembang sejak awal abad ke-20. Ia menjadi
penemuan fenomenal karena untuk pertama kali mampu menguak misteri kecerdasan
otak manusia dengan ukuran yang relatif akurat. Tes evaluasi untuk IQ ini
mula-mula dikembangkan oleh Alfred Binet dan dan Theodor Simon, dua orang psikolog asal Perancis (Binet, 1996). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini
kemudian direvisi pada tahun 1911. Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog
dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan
utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai
rasio (perbandingan) antara mental age
dan chronological age. Hasil
perbaikan ini disebut Tes Stanford-Binet. Perkembangannya
diteruskan oleh Carl Brigham dengan merancang tes IQ yang diperbaharui dengan
nama Scholastic Aptitute Test (SAT). Berdasarkan tes ini terbentuk suatu pola
pikir: kita cerdas atau tidak, seperti
sudah taken for granted.
Kekhasan pola pikir IQ terletak pada
pemikiran rasional dan logis. Oleh karena itu, dalam perkembangannya cerdas IQ
sering dipadankan dengan cerdas komputer. Oleh karenanya kecerdasan ini awalnya
cenderung dipahami linear dan matematis. Nyatanya hingga saat ini, IQ masih
dijadikan ukuran (paling mudah) untuk mengukur kemampuan seseorang. Proses
masuk sekolah, penelusuran minat dan bakat, hingga proses seleksi karyawan
menggunakan serangkaian tes IQ yang sudah baku. Namun, apakah IQ menjadi
satu-satunya faktor kesuksesan seseorang?
pemikiran rasional dan logis. Oleh karena itu, dalam perkembangannya cerdas IQ
sering dipadankan dengan cerdas komputer. Oleh karenanya kecerdasan ini awalnya
cenderung dipahami linear dan matematis. Nyatanya hingga saat ini, IQ masih
dijadikan ukuran (paling mudah) untuk mengukur kemampuan seseorang. Proses
masuk sekolah, penelusuran minat dan bakat, hingga proses seleksi karyawan
menggunakan serangkaian tes IQ yang sudah baku. Namun, apakah IQ menjadi
satu-satunya faktor kesuksesan seseorang?
Adalah Howard Gardner (1993) yang menegaskan bahwa skala kecerdasan yang
selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat
meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Gardner
mengembangkan pemahaman melalui konsepnya mengenai multiple intelligences atau
kecerdasan jamak/majemuk dengan mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang
konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi jamak.
selama ini dipakai, ternyata memiliki banyak keterbatasan sehingga kurang dapat
meramalkan kinerja yang sukses untuk masa depan seseorang. Gardner
mengembangkan pemahaman melalui konsepnya mengenai multiple intelligences atau
kecerdasan jamak/majemuk dengan mengoreksi keterbatasan cara berpikir yang
konvensional mengenai kecerdasan dari tunggal menjadi jamak.
Kecerdasan menurut Gardner tidak terbatas
pada kecerdasan intelektual yang diukur dengan menggunakan beberapa tes
inteligensi yang sempit saja. Atau sekadar melihat prestasi yang ditampilkan
seorang peserta didik melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Tetapi kecerdasan juga menggambarkan
kemampuan peserta didik pada bidang seni, spasial, olah-raga, berkomunikasi,
dan cinta akan lingkungan.
pada kecerdasan intelektual yang diukur dengan menggunakan beberapa tes
inteligensi yang sempit saja. Atau sekadar melihat prestasi yang ditampilkan
seorang peserta didik melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Tetapi kecerdasan juga menggambarkan
kemampuan peserta didik pada bidang seni, spasial, olah-raga, berkomunikasi,
dan cinta akan lingkungan.
Lazaer
(2000:7) mengemukakan bahwa kecerdasan jamak (multiple Inteligences) merupakan
perkembangan mutakhir dalam bidang intelligensi yang menjelaskan hal-hal yang
berkaitan dengan jalur-jalur yang digunakan oleh manusia untuk menjadi cerdas.
(2000:7) mengemukakan bahwa kecerdasan jamak (multiple Inteligences) merupakan
perkembangan mutakhir dalam bidang intelligensi yang menjelaskan hal-hal yang
berkaitan dengan jalur-jalur yang digunakan oleh manusia untuk menjadi cerdas.
Jalur-jalur yang membuat manusia menjadi cerdas merupakan
dasar untuk membedakan jenis-jenis kecerdasan jamak. Berdasarkan hal tersebut
Gardner (1993:73-237) mengemukakan ada tujuh jenis kecerdasan jamak.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Lazaer (2000: 25) memperkaya temuan
Gardner dengan menambah satu jenis kecerdasan yaitu kecerdasan naturalis.
dasar untuk membedakan jenis-jenis kecerdasan jamak. Berdasarkan hal tersebut
Gardner (1993:73-237) mengemukakan ada tujuh jenis kecerdasan jamak.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Lazaer (2000: 25) memperkaya temuan
Gardner dengan menambah satu jenis kecerdasan yaitu kecerdasan naturalis.
Sejalan
dengan penelitian di bidang ini maka untuk masa yang akan datang jenis-jenis
kecerdasan jamak mungkin akan bertambah. Dengan kecerdasan jamak sedikitnya
terdiri dari delapan jenis kecerdasan, seperti yang dijelaskan pada bagian
berikut ini.
dengan penelitian di bidang ini maka untuk masa yang akan datang jenis-jenis
kecerdasan jamak mungkin akan bertambah. Dengan kecerdasan jamak sedikitnya
terdiri dari delapan jenis kecerdasan, seperti yang dijelaskan pada bagian
berikut ini.
a. Kecerdasan verbal/linguistik
Kecerdasan verbal/linguistik adalah bagian dari kecedasan jamak berkaitan
dengan kepekaan terhadap bunyi, struktur, makna dan fungsi kata serta bahasa
yang muncul melalui kegiatan bercakap-cakap, berdiskusi dan membaca.
Selanjutnya kecerdasan jamak muncul pula dalam bentuk kemampuan dalam
menggunakan kata-kata secara efektif, secara lisan atau tulisan, termasuk
kemampuan untuk memanipulasi sintaks atau struktur bahasan, fonologi atau bunyi
dalam bahasa, semantik atau pemak-naan bahasa, dan dimensi pragmatik atau
penggunaan secara praktis bahasa. Di antara penggunaannya termasuk retorik
(mempengaruhi orang lain untuk bertindak), mnemonik (menggunakan bahasa untuk
mengingat informasi), menjelaskan (menggunakan bahasa untuk menjelaskan), dan
metabahasa (menggunakan bahasa untuk membahasnya sendiri). Ciri-ciri yang dapat
diidentifikasi dari kemunculan kecerdasan ini adalah : senang membaca, menulis,
bercerita, bermain games kata-kata dsbnya.
dengan kepekaan terhadap bunyi, struktur, makna dan fungsi kata serta bahasa
yang muncul melalui kegiatan bercakap-cakap, berdiskusi dan membaca.
Selanjutnya kecerdasan jamak muncul pula dalam bentuk kemampuan dalam
menggunakan kata-kata secara efektif, secara lisan atau tulisan, termasuk
kemampuan untuk memanipulasi sintaks atau struktur bahasan, fonologi atau bunyi
dalam bahasa, semantik atau pemak-naan bahasa, dan dimensi pragmatik atau
penggunaan secara praktis bahasa. Di antara penggunaannya termasuk retorik
(mempengaruhi orang lain untuk bertindak), mnemonik (menggunakan bahasa untuk
mengingat informasi), menjelaskan (menggunakan bahasa untuk menjelaskan), dan
metabahasa (menggunakan bahasa untuk membahasnya sendiri). Ciri-ciri yang dapat
diidentifikasi dari kemunculan kecerdasan ini adalah : senang membaca, menulis,
bercerita, bermain games kata-kata dsbnya.
b. Kecerdasan logika
matematika
matematika
Kecerdasan logika matematika adalah bagian dari kecerdasan jamak berkaitan
dengan kepekaan dalam mencari dan menemukan pola yang digunakan untuk melakukan
kalkuasi hitung dan berpikir abstrak serta berpikir logis dan berpikir ilmiah.
Kemunculan kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan menemukan perbedaan
pola-pola logika dan numerik, kemampuan melakukan argumentasi yang panjang
teratur dengan pola pikir yang terstruktur secara logis dan ilmiah. Jenis
proses yang digunakan dalam pemecahan logika matematika termasuk :
kategorisasi, klasifikasi, inferensi, generalisasi, kalkulasi dan tes
hipotesis.
dengan kepekaan dalam mencari dan menemukan pola yang digunakan untuk melakukan
kalkuasi hitung dan berpikir abstrak serta berpikir logis dan berpikir ilmiah.
Kemunculan kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan menemukan perbedaan
pola-pola logika dan numerik, kemampuan melakukan argumentasi yang panjang
teratur dengan pola pikir yang terstruktur secara logis dan ilmiah. Jenis
proses yang digunakan dalam pemecahan logika matematika termasuk :
kategorisasi, klasifikasi, inferensi, generalisasi, kalkulasi dan tes
hipotesis.
c. Kecerdasan
Intrapersonal
Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal adalah bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan
dengan kepekaan dalam melakukan instrospeksi terhadap diri sendiri dan
membandingkannya dengan kelemahan dan kekuatan orang lain. Kecerdasan ini
termasuk memiliki gambaran akurat tentang diri sendiri (kekuatan sendiri dan
keterbatasan sendiri), kesadaran tentang perasaan dalam diri, intensi,
motivasi, temperamen dan keinginan-keinginan; dan kemampuan untuk disiplin diri
sendiri, pemahaman sendiri dan percaya diri. Ciri-ciri dari kemunculan
kecerdasan ini dapat dilihat dari sikap bebas dan memiliki pandangan sendiri,
memiliki kemauan yang kuat, belajar dan bekerja sendiri, belajar dari pengalaman
masa lalu, mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan tepat, dapat mengarahkan
kegiatan dalam mencapai tujuan yang diharapkan, memiliki hobi.
dengan kepekaan dalam melakukan instrospeksi terhadap diri sendiri dan
membandingkannya dengan kelemahan dan kekuatan orang lain. Kecerdasan ini
termasuk memiliki gambaran akurat tentang diri sendiri (kekuatan sendiri dan
keterbatasan sendiri), kesadaran tentang perasaan dalam diri, intensi,
motivasi, temperamen dan keinginan-keinginan; dan kemampuan untuk disiplin diri
sendiri, pemahaman sendiri dan percaya diri. Ciri-ciri dari kemunculan
kecerdasan ini dapat dilihat dari sikap bebas dan memiliki pandangan sendiri,
memiliki kemauan yang kuat, belajar dan bekerja sendiri, belajar dari pengalaman
masa lalu, mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan tepat, dapat mengarahkan
kegiatan dalam mencapai tujuan yang diharapkan, memiliki hobi.
d. Kecedasan Interpersonal
Bagian dari kecerdasan jamak (multiple intelligences) yang berkaitan
dengan kepekaan dalam membedakan dan merespon perilaku yang ditampilkan orang
lain. Kemunculan dari kecerdasan ini dapat dilihat kemampuan menggerakkan dan
berkomunikasi dengan orang lain, bekerja sama dalam tim, disenangi oleh
orang-orang lain yang berada disekitarnya, kemampuan menggerakkan dan
berkomunikasi dengan orang lain, bekerja sama dalam tim, disenangi oleh
orang-orang lain yang berada disekitarnya. Selanjutnya kecerdasan ini juga
menyangkut kemampuan mempersepsikan dan membedakan berbagai modus, maksud
tertentu, motivasi, dan perasaan dari orang-orang lain. Di dalam kecerdasan ini
termasuk kepekaan ekspresi muka, suara, dan gerak-gerik, kemampuan untuk
membedakan hal-hal dari banyak jenis tanda-tanda interpersonal, kemampuan untuk
bereaksi secara efektif terhadap tanda-tanda demikian secara pragmatik
(misalnya mempengaruhi sekelompok orang untuk ikut dengannya dalam suatu
tindakan).
dengan kepekaan dalam membedakan dan merespon perilaku yang ditampilkan orang
lain. Kemunculan dari kecerdasan ini dapat dilihat kemampuan menggerakkan dan
berkomunikasi dengan orang lain, bekerja sama dalam tim, disenangi oleh
orang-orang lain yang berada disekitarnya, kemampuan menggerakkan dan
berkomunikasi dengan orang lain, bekerja sama dalam tim, disenangi oleh
orang-orang lain yang berada disekitarnya. Selanjutnya kecerdasan ini juga
menyangkut kemampuan mempersepsikan dan membedakan berbagai modus, maksud
tertentu, motivasi, dan perasaan dari orang-orang lain. Di dalam kecerdasan ini
termasuk kepekaan ekspresi muka, suara, dan gerak-gerik, kemampuan untuk
membedakan hal-hal dari banyak jenis tanda-tanda interpersonal, kemampuan untuk
bereaksi secara efektif terhadap tanda-tanda demikian secara pragmatik
(misalnya mempengaruhi sekelompok orang untuk ikut dengannya dalam suatu
tindakan).
e. Kecerdasan naturalis
Kecerdasan
naturalis adalah bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan
dalam mengapresiasi alam dan lingkungan sekitar. Kemunculan kecerdasan ini
dapat dilihat dari kecintaan terhadap alam dan lingkungan melalui berbagai
kegiatan seperti kepedulian terhadap lingkungan atau konservasi lingkungan alam
sekitar.
naturalis adalah bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan dengan kepekaan
dalam mengapresiasi alam dan lingkungan sekitar. Kemunculan kecerdasan ini
dapat dilihat dari kecintaan terhadap alam dan lingkungan melalui berbagai
kegiatan seperti kepedulian terhadap lingkungan atau konservasi lingkungan alam
sekitar.
f. Kecerdasan
kinestetik dan gerakan tubuh ( bodily – kinesthetic).
kinestetik dan gerakan tubuh ( bodily – kinesthetic).
Kecerdasan kinestetik adalah bagian dari kecerdasan jamak yang
berkaitan dengan kepekaan dan keterampilan dalam mengontrol koordinasi gerakan
tubuh melalui gerakan motorik kasar dan halus, seperti menggunakan alat-alat
secara terampil, melompat, berlari, berhenti secara tiba-tiba dengan terampil
dalam rangka melakukan gerakan senam atau gerakan menari, silat, dll.
Selanjutnya kemampuan ini terwujud dalam kemampuan menggunakan keseluruhan
potensi tubuh untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan (misalnya, sebagai
aktor, pantomim, sebagai atlit, atau penari, dll), kemampuan untuk menggunakan
tangan untuk memproduksikan atau mentransfor-masikan sesuatu/benda (misalnya,
sebagai pemahat, pelukis, mekanik, ahli bedah). Kecerdasan ini juga mencakup
keterampilan tubuh khusus seperti koordinasi, keseimbangan, kekuatan,
fleksibiltas, kecepatan, taktil dan kemampuan haptik.
berkaitan dengan kepekaan dan keterampilan dalam mengontrol koordinasi gerakan
tubuh melalui gerakan motorik kasar dan halus, seperti menggunakan alat-alat
secara terampil, melompat, berlari, berhenti secara tiba-tiba dengan terampil
dalam rangka melakukan gerakan senam atau gerakan menari, silat, dll.
Selanjutnya kemampuan ini terwujud dalam kemampuan menggunakan keseluruhan
potensi tubuh untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan (misalnya, sebagai
aktor, pantomim, sebagai atlit, atau penari, dll), kemampuan untuk menggunakan
tangan untuk memproduksikan atau mentransfor-masikan sesuatu/benda (misalnya,
sebagai pemahat, pelukis, mekanik, ahli bedah). Kecerdasan ini juga mencakup
keterampilan tubuh khusus seperti koordinasi, keseimbangan, kekuatan,
fleksibiltas, kecepatan, taktil dan kemampuan haptik.
g. Kecerdasan Musik-Irama
Kecerdasan musik irama adalah bagian dari kecerdasan jamak yang berkaitan
dengan kepekaan dalam mendengarkan suara, musik, dan suara lainnya. Kemunculan
kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan dalam menghasilkan dan
mengapresiasi ritme dan musik yang dapat diwujudkan dalam kemampuan
mempersepsikan, misalnya sebagai pemain musik, membedakan, misalnya sebagai
kritisi musik, dan mengekspresikan, misalnya sebagai pelaku musik bentuk-bentuk
musik. Kecerdasan ini melibatkan kepekaan terhadap ritme, melodi, dan bunyi
musik lainnya dari sesuatu ciptaan musik.
dengan kepekaan dalam mendengarkan suara, musik, dan suara lainnya. Kemunculan
kecerdasan ini dapat dilihat dari kemampuan dalam menghasilkan dan
mengapresiasi ritme dan musik yang dapat diwujudkan dalam kemampuan
mempersepsikan, misalnya sebagai pemain musik, membedakan, misalnya sebagai
kritisi musik, dan mengekspresikan, misalnya sebagai pelaku musik bentuk-bentuk
musik. Kecerdasan ini melibatkan kepekaan terhadap ritme, melodi, dan bunyi
musik lainnya dari sesuatu ciptaan musik.
h. Kecerdasan Visual-Spatial
Kecerdasan visual-spatial adalah bagian dari kecerdasan jamak yang
berkaitan dengan kepekaan dalam memadukan kegiatan persepsi visual (mata)
maupun pikiran serta kemampuan mentransformasikan persepsi visual spatial seperti
yang dilakukan dalam kegiatan melukis, mendesain pola, merancang bangunan, dll.
Kecerdasan ini melibatkan kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ukuran, luas,
dan hubungan-hubungannya yang ada di anatara unsur-unsur itu. Di dalamnya
termasuk kemampuan memvisualisasikan, dan secara grafis menggambarkan ide-ide
visual dan spasial, serta secara tepat mengorientasikan diri sendiri ke dalam
matriks spasial.
berkaitan dengan kepekaan dalam memadukan kegiatan persepsi visual (mata)
maupun pikiran serta kemampuan mentransformasikan persepsi visual spatial seperti
yang dilakukan dalam kegiatan melukis, mendesain pola, merancang bangunan, dll.
Kecerdasan ini melibatkan kepekaan terhadap warna, garis, bentuk, ukuran, luas,
dan hubungan-hubungannya yang ada di anatara unsur-unsur itu. Di dalamnya
termasuk kemampuan memvisualisasikan, dan secara grafis menggambarkan ide-ide
visual dan spasial, serta secara tepat mengorientasikan diri sendiri ke dalam
matriks spasial.
Kecerdasan jamak yang dikembangkan oleh
Gardner memberikan penekanan bahwa seseorang dapat meraih kesuksesan dalam
berbagi jalur dengan strategi pemfokusan. Proses yang dilakukan adalah belajar
dan menghasilkan sesuatu (karya atau prestasi) dari proses belajar tersebut.
Seseorang yang belajar musik hingga mampu meenciptakan lagu atau mengubah
aransemen lagu menjadi nada-nada yang indah ia dikatakan cerdas musikal.
Seorang atlet bola basket yang serius berlatih hingga berprestasi, seperti
Michael Jordan, ia dikatan cerdas kinestetis, dan seterusnya.
Gardner memberikan penekanan bahwa seseorang dapat meraih kesuksesan dalam
berbagi jalur dengan strategi pemfokusan. Proses yang dilakukan adalah belajar
dan menghasilkan sesuatu (karya atau prestasi) dari proses belajar tersebut.
Seseorang yang belajar musik hingga mampu meenciptakan lagu atau mengubah
aransemen lagu menjadi nada-nada yang indah ia dikatakan cerdas musikal.
Seorang atlet bola basket yang serius berlatih hingga berprestasi, seperti
Michael Jordan, ia dikatan cerdas kinestetis, dan seterusnya.
Penemuan ini mengubah paradigma dan
pendekatan dalam dunia pendidikan termasuk pemahaman baru bagi peserta didik
dan orang tua bahwa kecerdasan anak akan menjadi sangat beragam. Bisa jadi
seorang anak lemah dalam satu bidang studi, namun memiliki keunggulan atau
kelebihan dalam bidang lain. Sehingga yang perlu dilakukan adalah pemfokusan
pada bidang-bidang yang menjadi keunggulan dan kelebihan anak. Dahulu jika
anak, melalui tes IQ, dinyatakan memiliki IQ rendah (di bawah 100 misalnya),
hal ini akan menjadi pukulan tersendiri baik bagi si anak maupun orang tua.
Namun kini, terutama orang tua, lebih bisa memahami bahwa mungkin anaknya
memiliki kelebihan dalam bidang-bidang lain.
pendekatan dalam dunia pendidikan termasuk pemahaman baru bagi peserta didik
dan orang tua bahwa kecerdasan anak akan menjadi sangat beragam. Bisa jadi
seorang anak lemah dalam satu bidang studi, namun memiliki keunggulan atau
kelebihan dalam bidang lain. Sehingga yang perlu dilakukan adalah pemfokusan
pada bidang-bidang yang menjadi keunggulan dan kelebihan anak. Dahulu jika
anak, melalui tes IQ, dinyatakan memiliki IQ rendah (di bawah 100 misalnya),
hal ini akan menjadi pukulan tersendiri baik bagi si anak maupun orang tua.
Namun kini, terutama orang tua, lebih bisa memahami bahwa mungkin anaknya
memiliki kelebihan dalam bidang-bidang lain.
Teori Gardner ini selanjutnya dikembangkan dan dilengkapi
oleh para ahli lain. Diantaranya yang paling terkenal adalah Daniel Goleman
(1995) melalui bukunya yang terkenal, Emotional
Intelligence atau Kecerdasan Emosional. Goleman mencoba memberi tekanan
pada aspek kecerdasan interpersonal atau antarpribadi. Kecerdasan
Emosional dapat dirumuskan sebagai kemampuan menyelaraskan antara emosi dan
nalar, berupa keterampilan mengenali emosi dan mengolahnya, keterampilan
memotivasi diri, kemampuan empati dan ketrampilan memelihara hubungan sosial.
oleh para ahli lain. Diantaranya yang paling terkenal adalah Daniel Goleman
(1995) melalui bukunya yang terkenal, Emotional
Intelligence atau Kecerdasan Emosional. Goleman mencoba memberi tekanan
pada aspek kecerdasan interpersonal atau antarpribadi. Kecerdasan
Emosional dapat dirumuskan sebagai kemampuan menyelaraskan antara emosi dan
nalar, berupa keterampilan mengenali emosi dan mengolahnya, keterampilan
memotivasi diri, kemampuan empati dan ketrampilan memelihara hubungan sosial.
Goleman
(1995), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan
sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana
hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki
tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam
pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa
kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam
memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan
menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional
tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah
kepuasan dan mengatur suasana hati.
(1995), mengatakan bahwa koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan
sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana
hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki
tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam
pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengatakan bahwa
kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam
memotivasi diri, ketahanan dalam meghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan
menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional
tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah
kepuasan dan mengatur suasana hati.
Menurut Goleman faktor emosi ini sangat penting dan memberikan suatu warna
yang kaya dalam kecerdasan antarpribadi ini. Ada lima wilayah kecerdasan
pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional. Lima wilayah tersebut adalah
kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi
diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan.
yang kaya dalam kecerdasan antarpribadi ini. Ada lima wilayah kecerdasan
pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional. Lima wilayah tersebut adalah
kemampuan mengenali emosi diri, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi
diri, kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kemampuan membina hubungan.
Penemuan
kecerdasan emosional, menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang tidak semata-mata
dipengaruhi oleh prestasi akademisnya. Terutama setelah memasuki dunia kerja,
mengembangkan karir, dan hidup bermasyarakat, kemampuan seseorang dalam membina
relasi dengan orang lain dan kemampuan menempatkan diri dengan tepat sangat
mendukung kesuksesan seseorang.
kecerdasan emosional, menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang tidak semata-mata
dipengaruhi oleh prestasi akademisnya. Terutama setelah memasuki dunia kerja,
mengembangkan karir, dan hidup bermasyarakat, kemampuan seseorang dalam membina
relasi dengan orang lain dan kemampuan menempatkan diri dengan tepat sangat
mendukung kesuksesan seseorang.
Di
sekolah-sekolah, banyak dijumpai peserta didik yang begitu
cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun tidak mampu
mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa, atau angkuh dan
sombong, sehingga prestasi tersebut tidak banyak bermanfaat untuk dirinya.
Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada
peserta didik sejak usia dini karena hal inilah yang mendasari keterampilan
seseorang di tengah masyarakat kelak sehingga akan membuat seluruh potensinya
dapat berkembang secara lebih optimal.
sekolah-sekolah, banyak dijumpai peserta didik yang begitu
cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun tidak mampu
mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa, atau angkuh dan
sombong, sehingga prestasi tersebut tidak banyak bermanfaat untuk dirinya.
Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada
peserta didik sejak usia dini karena hal inilah yang mendasari keterampilan
seseorang di tengah masyarakat kelak sehingga akan membuat seluruh potensinya
dapat berkembang secara lebih optimal.
Perkembangan mutakhir teori kecerdasan –
sebagai pelengkap penemuan-penemuan sebelumnya – adalah hadirnya teori
kecerdasan spiritual (Spiritual
Quotient-SQ). Perkembangan ini diperkenalkan oleh Denah Zohar dan Ian
Marshal (2001). Zohar dan Marshall menyebut SQ sebagai The Ultimate Intelligence (puncak kecerdasan). Jika EQ disandarkan
pada nalar, rasio, dan intelektual, sementara EQ pada emosi, maka SQ disandarkan
pada kecerdasan jiwa/hati (the soul’s
intelligence) (Sukidi, 2001).
sebagai pelengkap penemuan-penemuan sebelumnya – adalah hadirnya teori
kecerdasan spiritual (Spiritual
Quotient-SQ). Perkembangan ini diperkenalkan oleh Denah Zohar dan Ian
Marshal (2001). Zohar dan Marshall menyebut SQ sebagai The Ultimate Intelligence (puncak kecerdasan). Jika EQ disandarkan
pada nalar, rasio, dan intelektual, sementara EQ pada emosi, maka SQ disandarkan
pada kecerdasan jiwa/hati (the soul’s
intelligence) (Sukidi, 2001).
Denah Zohar menyatakan IQ bekerja untuk
melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga
perasaan), maka SQ ( spiritual quotient ) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’
(Danah Zohar & Ian Marshall: 2001). Kecerdasan spiritual lebih berurusan
dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan
hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan
penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu
membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual selalu diliputi oleh kebahagiaan
karena penerimaan dan pemaknaan terhadap dirinya.
melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga
perasaan), maka SQ ( spiritual quotient ) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’
(Danah Zohar & Ian Marshall: 2001). Kecerdasan spiritual lebih berurusan
dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber – SQ tinggi mampu memaknai penderitaan
hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan
penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu
membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual selalu diliputi oleh kebahagiaan
karena penerimaan dan pemaknaan terhadap dirinya.
Robert Coles (1997)
dalam bukunya yang berjudul The Moral Intelligence of Children menyatakan bahwa di samping IQ (Intelligence
Quotient) ada suatu jenis kecerdasan yang disebut sebagai kecerdasan
moral yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang
dalam hidupnya. Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang peserta didik untuk
bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan
terdalam orang-orang di sekelilingnya, dan mengikuti aturan-aturan yang
berlaku, yang semuanya ini merupakan kunci keberhasilan bagi seorang peserta
didik di masa depan. Sebagai individu, peserta didik berada dalam komunitas sekolah selalu
berkomunikasi dengan sesama teman, guru, dan orang lain. Namun sebagai makhluk
Tuhan peserta didik mempunyai kewajiban untuk selalu taat menjalankan perintah
agamanya (Emotionally and Spiritual
Quotient). Oleh karena itu harus dijaga hubungan yang seimbang antara diri
individu (IQ), sosial (EQ), dan hubungan dengan Tuhan (ESQ).
dalam bukunya yang berjudul The Moral Intelligence of Children menyatakan bahwa di samping IQ (Intelligence
Quotient) ada suatu jenis kecerdasan yang disebut sebagai kecerdasan
moral yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang
dalam hidupnya. Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang peserta didik untuk
bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan
terdalam orang-orang di sekelilingnya, dan mengikuti aturan-aturan yang
berlaku, yang semuanya ini merupakan kunci keberhasilan bagi seorang peserta
didik di masa depan. Sebagai individu, peserta didik berada dalam komunitas sekolah selalu
berkomunikasi dengan sesama teman, guru, dan orang lain. Namun sebagai makhluk
Tuhan peserta didik mempunyai kewajiban untuk selalu taat menjalankan perintah
agamanya (Emotionally and Spiritual
Quotient). Oleh karena itu harus dijaga hubungan yang seimbang antara diri
individu (IQ), sosial (EQ), dan hubungan dengan Tuhan (ESQ).
Dari pembahasan
perkembangan dan penemuan teori-teori kecerdasan di atas sesungguhnya satu sama
lain saling melengkapi. Dimensi kecerdasan manusia dalam kerangka pendidikan
tidak bisa dipahami secara linier dan monolitik. Pendidikan tidak boleh lagi
hanya mementingkan satu dimensi kecerdasan. Semua kecerdasan harus dikembangkan
secara simultan dalam proporsi yang optimal. Dengan demikian, pendidikan akan
menemukan esensinya sebagai upaya pembangunan manusia seutuhnya.
perkembangan dan penemuan teori-teori kecerdasan di atas sesungguhnya satu sama
lain saling melengkapi. Dimensi kecerdasan manusia dalam kerangka pendidikan
tidak bisa dipahami secara linier dan monolitik. Pendidikan tidak boleh lagi
hanya mementingkan satu dimensi kecerdasan. Semua kecerdasan harus dikembangkan
secara simultan dalam proporsi yang optimal. Dengan demikian, pendidikan akan
menemukan esensinya sebagai upaya pembangunan manusia seutuhnya.
Dalam konteks tersebut,
kerangka pendidikan nasional kita sebenarnya sudah menggariskan visi yang tepat
dalam mengembangkan berbagai potensi kecerdasan yang dimiliki oleh SDM bangsa.
Visi sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan ”keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta memajukan
ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan
persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia,” adalah bentuk kesadaran negara untuk mengembangkan potensi
spiritual, emosional, dan intelektual secara optimal.
kerangka pendidikan nasional kita sebenarnya sudah menggariskan visi yang tepat
dalam mengembangkan berbagai potensi kecerdasan yang dimiliki oleh SDM bangsa.
Visi sistem pendidikan nasional untuk meningkatkan ”keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta memajukan
ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan
persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia,” adalah bentuk kesadaran negara untuk mengembangkan potensi
spiritual, emosional, dan intelektual secara optimal.
Kesadaran pentingnya,
terutama kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, bagi suksesnya seorang
siswa setelah kelak hidup di masyarakat, telah diyakini oleh berbagai kalangan.
Bahkan sudah sangat aktual menjadi pembicaraan para pemerhati pendidikan.
Tetapi pada tataran inplementasinya masih belum memadai. Di lembaga-lembaga
pendidikan formal (sekolah-universitas) kadang-kadang masih terhambat aturan
formal dan tuntutan target kurikulum yang cenderung semata-mata menekankan
aspek kognitif siswa dalam evaluasi pembelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan
kreativitas dari seluruh elemen pendidikan dalam mengembangkan model pendidikan
yang menekankan dimensi kecerdasan emosional dan spiritual siswa.
terutama kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, bagi suksesnya seorang
siswa setelah kelak hidup di masyarakat, telah diyakini oleh berbagai kalangan.
Bahkan sudah sangat aktual menjadi pembicaraan para pemerhati pendidikan.
Tetapi pada tataran inplementasinya masih belum memadai. Di lembaga-lembaga
pendidikan formal (sekolah-universitas) kadang-kadang masih terhambat aturan
formal dan tuntutan target kurikulum yang cenderung semata-mata menekankan
aspek kognitif siswa dalam evaluasi pembelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan
kreativitas dari seluruh elemen pendidikan dalam mengembangkan model pendidikan
yang menekankan dimensi kecerdasan emosional dan spiritual siswa.
Proses pembelajaran bisa
dikembangkan untuk meningkatkan dimensi emosional dan spiritual dengan metode
dan praktik sederhana misalnya diskusi interaktif, menghindarkan celaan kepada
siswa, bila ada masalah di selesaikan dengan menang-menang, mengembangkan
toleransi yang tulus (belajar menerima orang lain apa adanya), dan banyak cara
lagi. Semuanya dapat diserap melalui proses pembelajaran pada setiap bidang
studi, guru tidak terlalu letih/lelah berceramah sepanjang jam pelajaran,
karena realitanya masih ada guru yang merasa sebagai satu-satunya sumber
belajar. Dalam konsep belajar yang berpusat pada siswa (student centered), guru berfungsi sebagai fasilitar, motivitor dan
sebagai model.
dikembangkan untuk meningkatkan dimensi emosional dan spiritual dengan metode
dan praktik sederhana misalnya diskusi interaktif, menghindarkan celaan kepada
siswa, bila ada masalah di selesaikan dengan menang-menang, mengembangkan
toleransi yang tulus (belajar menerima orang lain apa adanya), dan banyak cara
lagi. Semuanya dapat diserap melalui proses pembelajaran pada setiap bidang
studi, guru tidak terlalu letih/lelah berceramah sepanjang jam pelajaran,
karena realitanya masih ada guru yang merasa sebagai satu-satunya sumber
belajar. Dalam konsep belajar yang berpusat pada siswa (student centered), guru berfungsi sebagai fasilitar, motivitor dan
sebagai model.
Pendidikan moral atau pendidikan akhlak bisa dimodifikasi sedemikian rupa
melalui berbagai kegiatan yang aplikatif dan tepat sasaran dalam menuntun
akhlak sehari-hari peserta didik. Pengembangan “kantin kejujuran” di sejumlah
sekolah misalnya, adalah bentuk terobosan kegiatan pendidikan moral. Di
sejumlah madarasah bahkan telah pula dikembangkan “kelas kejujuran” dimana
siswa terbiasa mengerjakan soal-soal ujian tanpa pengawasan guru. Semua upaya
tersebut akan bermanfaat bagi pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual
peserta didik. Tentu saja masih perlu pengembangan model pendidikan dan
pembelajaran emosional dan spiritual yang terintegrasi dalam kurikulum
pendidikan.
melalui berbagai kegiatan yang aplikatif dan tepat sasaran dalam menuntun
akhlak sehari-hari peserta didik. Pengembangan “kantin kejujuran” di sejumlah
sekolah misalnya, adalah bentuk terobosan kegiatan pendidikan moral. Di
sejumlah madarasah bahkan telah pula dikembangkan “kelas kejujuran” dimana
siswa terbiasa mengerjakan soal-soal ujian tanpa pengawasan guru. Semua upaya
tersebut akan bermanfaat bagi pengembangan kecerdasan emosional dan spiritual
peserta didik. Tentu saja masih perlu pengembangan model pendidikan dan
pembelajaran emosional dan spiritual yang terintegrasi dalam kurikulum
pendidikan.

































