Aopok.com – #Dalam #ajaran #Islam, #kedudukan manusia di sisi Allah ﷻ tidak ditentukan oleh faktor lahiriah seperti suku, bangsa, warna kulit, maupun status sosial. Al-Qur’an menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang terletak pada iman dan ketakwaannya. Dari sinilah muncul pembahasan penting dalam aqidah Islam mengenai perbedaan kedudukan antara orang beriman dan orang yang menolak keimanan.
Baca juga: Tanggal Berapa Bulan Suci Puasa Ramadan 2026?

Kemuliaan Orang Beriman dalam Al-Qur’an
Allah ﷻ berfirman:
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran: 139)
Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan mengangkat derajat manusia. Kemuliaan tersebut bukan sekadar simbolik, tetapi berhubungan dengan rahmat, pertolongan, dan keberkahan Allah di dunia serta keselamatan di akhirat.
Sebaliknya, dalam perspektif teologi Islam, penolakan terhadap iman membawa konsekuensi spiritual yang berat di akhirat. Ini bukan karena faktor identitas sosial, tetapi karena sikap hati dan keyakinan terhadap kebenaran yang dibawa para rasul.
Bukan Soal Nama atau Identitas Lahiriah
Islam tidak membedakan manusia berdasarkan nama, etnis, atau kebiasaan budaya. Allah ﷻ menegaskan:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Artinya, ukuran kemuliaan bukan pada simbol luar seperti pakaian, gelar, atau keturunan, melainkan pada ketundukan hati kepada Allah, keimanan yang benar, dan amal saleh.
mukmin Dengan demikian, perbedaan mendasar antara seorang mukmin dan orang yang menolak iman dalam Islam terletak pada:
- Kerelaan menerima Allah sebagai Rabb
- Kerelaan menjadikan Islam sebagai jalan hidup
- Kerelaan mengikuti Rasulullah ﷺ sebagai utusan Allah
Zikir Ridha sebagai Inti Keimanan
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang mengucapkan: ‘Aku ridha Allah sebagai Rabbku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai rasulku,’ maka surga wajib baginya.”
(HR. Abu Dawud, dishahihkan Al-Albani)
Zikir ini bukan sekadar ucapan lisan, tetapi pernyataan komitmen iman. Para ulama seperti Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa hadis ini mencakup inti ajaran Islam:
Baca juga: Kisah Nabi Yunus Ditelan Ikan, Mukjizat, dan Kekuatan Doa di Saat Putus Asa
- Ridha kepada Allah berarti mentauhidkan-Nya dan bergantung hanya kepada-Nya
- Ridha kepada Rasul berarti mengikuti sunnahnya
- Ridha kepada Islam berarti menjadikannya pedoman hidup secara menyeluruh
Pentingnya Zikir dalam Menjaga Keimanan
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ bersabda ketika seorang sahabat merasa banyaknya syariat terasa berat:
“Hendaklah lisanmu selalu basah dengan zikir kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi, hasan)
Zikir menjadi amalan yang ringan namun berdampak besar. Ia menjaga hati tetap terhubung dengan Allah dan menambal kekurangan dalam amal ibadah lainnya.
Realitas Umat dan Tantangan Keimanan
Salah satu refleksi penting adalah kenyataan bahwa tidak semua kaum muslimin mencerminkan nilai Islam dalam akhlak dan kedisiplinan. Sebagian masyarakat non-Muslim justru terlihat unggul dalam kebersihan, manajemen, dan etos kerja.
Hal ini bukan bantahan terhadap kebenaran Islam, tetapi menjadi kritik bagi kualitas keimanan umat. Islam sebagai ajaran adalah sempurna, namun pemeluknya bisa lemah dalam pengamalan. Karena itu, solusi yang ditawarkan para ulama adalah:
- Memperdalam pengenalan kepada Allah
- Memahami Islam secara menyeluruh
- Meneladani akhlak Rasulullah ﷺ
Keadilan Allah dalam Memberi Balasan
Allah ﷻ menegaskan keadilan-Nya:
أَفَنَجۡعَلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ كَٱلۡمُجۡرِمِينَ
“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa?”
(QS. Al-Qalam: 35–36)مَا لَكُمۡ كَيۡفَ تَحۡكُمُونَ
“Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam 68: 36)
Jika mereka beriman seperti keimanan para pendahulunya yang shalih mereka akan terbimbing, sebaliknya jika mereka berpaling maka kehidupan mereka akan berantakan.
فَإِنۡ ءَامَنُواْ بِمِثۡلِ مَآ ءَامَنتُم بِهِۦ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْ ۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا هُمۡ فِي شِقَاقٍ ۖ فَسَيَكۡفِيكَهُمُ ٱللَّهُ ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ
“Maka jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sungguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu) maka Allah mencukupkan engkau (Muhammad) terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya). Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: 137)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Adil. Mereka yang beriman dan beramal saleh tidak disamakan dengan mereka yang menolak kebenaran dan berbuat kerusakan. Perbedaan balasan di akhirat adalah bentuk keadilan ilahi, bukan kezaliman.
Perbedaan kedudukan antara mukmin dan non-mukmin dalam Islam bukan didasarkan pada identitas sosial atau faktor biologis, melainkan pada sikap iman, penerimaan terhadap kebenaran, dan ketakwaan.
Baca juga: Belajar dari Sistem Ramadhan
Kemuliaan seorang muslim bukanlah label otomatis, melainkan tanggung jawab untuk:
- Menguatkan tauhid
- Mengamalkan ajaran Islam secara konsisten
- Meneladani Rasulullah ﷺ dalam seluruh aspek kehidupan
Semakin kuat iman dan ketakwaan seseorang, semakin tinggi pula derajatnya di sisi Allah ﷻ.






























Comments 1