Aopok.com – #Kun #fayakun — “#Jadilah, #maka #terjadilah.” #Kalimat #ini #menggambarkan #betapa #mutlaknya #kuasa Allah atas segala sesuatu. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Salah satu bukti nyata dari kekuasaan tersebut adalah kisah luar biasa Nabi Yunus ‘alaihissalam, seorang nabi yang pernah ditelan ikan besar namun tetap hidup atas izin Allah.
Baca juga: Belajar dari Sistem Ramadhan
Peristiwa ini bukan hanya mukjizat, tetapi juga pelajaran mendalam tentang harapan, taubat, dan kekuatan doa di saat manusia berada di titik paling gelap dalam hidupnya.

Siapakah Nabi Yunus?
Nabi Yunus bin Matta, yang juga dikenal dengan sebutan Dzun Nun (pemilik ikan), adalah nabi yang diutus kepada kaum Ninawa, wilayah yang kini dikenal sebagai bagian dari Irak. Kaumnya dikenal keras kepala dan menolak ajakan untuk menyembah Allah semata.
Setelah berbagai upaya dakwah tidak membuahkan hasil, Nabi Yunus meninggalkan kaumnya sebelum datang izin Allah. Di sinilah rangkaian peristiwa luar biasa itu dimulai.
Ditelen Ikan di Tengah Samudera
Dalam perjalanan meninggalkan kaumnya, kapal yang ditumpangi Nabi Yunus diterpa badai hebat. Para penumpang sepakat melakukan undian untuk mengurangi beban kapal, dan nama Nabi Yunus terpilih. Ia pun terjun ke laut, lalu ditelan oleh seekor ikan besar atas kehendak Allah.
Di sinilah mukjizat terjadi.
Bayangkan kondisi yang dihadapi:
- Gelapnya malam
- Gelapnya dasar lautan
- Gelapnya perut ikan
Tiga lapis kegelapan menyelimuti beliau. Secara logika manusia, mustahil seseorang bisa bertahan hidup dalam kondisi seperti itu. Namun kuasa Allah melampaui batas nalar manusia.
Baca juga: Makna Hadits “Agama Adalah Nasehat”: Tafsir Lengkap & Aplikasi dalam Kehidupan Muslim
Sebagian riwayat menyebut Nabi Yunus berada dalam perut ikan selama tiga hari, ada pula yang mengatakan 40 hari, dan ada juga yang menyebut hanya dari pagi hingga petang. Apa pun durasinya, yang jelas beliau tetap hidup atas izin Allah.
Doa Nabi Yunus yang Menggetarkan Langit
Dalam kegelapan itu, Nabi Yunus tidak berputus asa. Ia tidak menyalahkan keadaan. Ia tidak menyalahkan takdir. Yang ia lakukan adalah bertaubat dan berdoa dengan penuh kerendahan hati.
Doa yang ia panjatkan diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Lā ilāha illā Anta, subhānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.”
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Anbiya: 87)
Inilah doa pengakuan dosa, doa taubat, doa penuh kesadaran bahwa hanya Allah tempat kembali. Tidak ada kesombongan, tidak ada pembelaan diri, hanya penghambaan total.
Doa dari dasar samudera, dari dalam perut ikan, dari tempat yang secara logika adalah ujung kehidupan — ternyata menembus langit.
Diselamatkan dan Diberi Kesempatan Kedua
Allah pun mengabulkan doa Nabi Yunus. Ikan itu memuntahkannya ke daratan dalam keadaan lemah. Allah menumbuhkan pohon untuk menaunginya dan memulihkan kesehatannya. Setelah itu, Nabi Yunus kembali berdakwah kepada kaumnya.
Kali ini, kaumnya justru beriman. Mereka menerima ajakan tauhid dan selamat dari azab. Ini adalah salah satu kisah langka di mana satu kaum secara massal bertaubat dan beriman setelah peringatan datang.
Pelajaran Besar dari Kisah Nabi Yunus
1️⃣ Tidak Ada Situasi Tanpa Harapan
Jika di dalam perut ikan saja masih ada pertolongan Allah, maka masalah hidup kita hari ini sebenarnya belum seberapa. Selama kita masih bisa berdoa, harapan itu selalu ada.
2️⃣ Doa Lebih Kuat dari Logika
Secara ilmiah, manusia tak mungkin hidup di dalam perut ikan. Namun kuasa Allah mengalahkan hukum alam. Doa yang tulus mampu membuka jalan yang tak terlihat oleh akal.
3️⃣ Ilmu Harus Menguatkan Iman
Nabi Yunus adalah orang berilmu, tetapi ilmunya membuatnya semakin tunduk kepada Allah. Inilah perbedaan antara ilmu yang menuntun pada hidayah dan ilmu yang membuat manusia sombong.
4️⃣ Jangan Menunda Taubat
Doa Nabi Yunus adalah doa pengakuan kesalahan. Keselamatan datang setelah kerendahan hati. Semakin cepat seseorang kembali kepada Allah, semakin dekat pula pertolongan-Nya.
Relevansi dengan Kehidupan Kita
Sering kali manusia baru berdoa saat benar-benar terjepit. Padahal, Nabi Yunus mengajarkan bahwa kedekatan dengan Allah adalah sumber kekuatan di saat krisis.
Kita mungkin tidak berada di dasar lautan, tetapi bisa saja sedang:
- Terhimpit masalah ekonomi
- Tertekan secara mental
- Kehilangan arah hidup
- Merasa sendirian
Di saat itulah doa Nabi Yunus menjadi pengingat:
jangan menyerah, jangan sombong, dan jangan berhenti berharap kepada Allah.
Baca juga: Mengenal Syariat, Hakikat, dan Ma‘rifat dalam Islam: Pengertian, Perbedaan, dan Tahapannya
Kisah Nabi Yunus bukan sekadar cerita mukjizat, tetapi panduan hidup tentang taubat, kesabaran, dan kekuatan doa. Kun fayakun mengajarkan bahwa ketika Allah berkehendak, jalan keluar bisa datang dari arah yang tak pernah kita bayangkan.
Gelap tidak selalu berarti akhir. Kadang, justru di tempat paling gelap itulah cahaya pertolongan Allah mulai menyala.


























