Aopok – #Pare menjadi salah satu #sayuran yang #cukup #unik. Di balik #rasanya yang #pahit dan #khas, #pare ternyata #mengandung berbagai #nutrisi yang membuatnya menarik untuk #dikonsumsi sebagai bagian dari menu #sehari-hari.
Namun, cara mengolah pare ternyata juga perlu diperhatikan. Memasak sayuran terlalu lama, terutama dengan banyak air, dapat memengaruhi sebagian kandungan zat gizi yang sensitif terhadap panas dan air.
Karena itu, bagi Anda yang ingin menikmati pare sekaligus mempertahankan kandungan nutrisinya, pemilihan metode memasak menjadi hal penting.
Artikel Okezone Women yang terbit pada 23 September 2026 membahas dua cara memasak pare agar nutrisinya tetap terjaga, sekaligus mengingatkan bahwa pare tidak perlu direbus dalam waktu lama.

Baca: Apa Itu Etomidate? Zat dalam Vape yang Bikin Selebgram Jule Ditangkap Polisi
Pare, Sayuran Pahit yang Kaya Nutrisi
Pare atau Momordica charantia dikenal sebagai sayuran dengan rasa pahit yang sangat khas. Di Indonesia, pare cukup populer dan biasanya diolah menjadi tumis pare, pare isi, lalapan, hingga berbagai hidangan rumahan lainnya.
Meski rasanya pahit, pare memiliki kandungan gizi yang cukup beragam. Sayuran ini dikenal mengandung serat, vitamin C, folat, serta sejumlah mineral.
Data yang dikutip berbagai sumber menunjukkan pare juga termasuk sayuran rendah kalori. Kandungan seratnya membuat pare sering dimasukkan dalam menu makan yang lebih seimbang.
Namun, kandungan nutrisi tersebut tidak berarti semuanya akan bertahan dalam jumlah yang sama setelah dimasak. Proses pemanasan, lamanya memasak, serta banyaknya air yang digunakan dapat memengaruhi beberapa jenis vitamin.
Mengapa Pare Sebaiknya Tidak Direbus Terlalu Lama?
Merebus memang merupakan salah satu cara paling sederhana untuk memasak sayuran. Akan tetapi, perebusan dalam waktu lama dapat menyebabkan sebagian zat gizi yang larut dalam air berpindah ke air rebusan.
Selain itu, semakin lama proses pemanasan berlangsung, tekstur pare juga dapat berubah menjadi terlalu lunak.
Karena itu, prinsip yang bisa digunakan adalah memasak pare secukupnya hingga matang, tanpa membuatnya terlalu lama berada dalam suhu tinggi.
Bukan berarti pare sama sekali tidak boleh direbus. Perebusan tetap dapat dilakukan, tetapi waktu dan jumlah air sebaiknya diperhatikan.
1. Tumis Pare dengan Waktu Singkat
Salah satu cara praktis mengolah pare adalah dengan menumisnya.
Metode ini menggunakan sedikit minyak dan waktu memasak yang relatif singkat. Pare dapat dimasukkan setelah bumbu seperti bawang putih, bawang merah, cabai, atau bahan lainnya ditumis hingga harum.
Pare kemudian dimasak hingga matang sesuai tingkat kematangan yang diinginkan.
Selain lebih praktis, menumis juga membuat tekstur pare tidak terlalu lembek. Pare yang dimasak dengan waktu relatif singkat cenderung masih memiliki tekstur dan warna yang lebih menarik.
Agar tidak terlalu pahit, pare dapat dibersihkan terlebih dahulu. Belah pare, keluarkan bijinya, kemudian buang bagian putih di dalamnya.
Setelah itu, pare dapat diiris tipis.
Jika rasa pahit ingin dikurangi, irisan pare bisa diberi sedikit garam dan diremas secara perlahan. Setelah beberapa saat, bilas dengan air bersih sebelum dimasak.
Cara tersebut umum digunakan dalam pengolahan pare untuk mengurangi rasa pahit. Namun, prosesnya juga sebaiknya tidak berlebihan agar tekstur pare tidak menjadi terlalu lembek.
Baca: Tren Gen Z Makan Camilan Kenyal untuk Diet, Benarkah Bisa Turunkan Berat Badan?
2. Kukus Pare
Cara kedua yang dapat dipilih adalah mengukus pare.
Berbeda dengan merebus, proses mengukus tidak membuat pare terendam langsung di dalam air. Hal ini membuat metode kukus menjadi salah satu pilihan untuk mengolah sayuran dengan lebih sedikit kontak dengan air.
Pare dapat dipotong sesuai kebutuhan kemudian ditempatkan dalam kukusan yang sudah panas.
Waktu pengukusan sebaiknya disesuaikan dengan ukuran potongan dan menu yang dibuat. Jangan mengukus terlalu lama hingga pare kehilangan tekstur dan menjadi terlalu lembek.
Metode kukus juga dapat digunakan untuk membuat pare isi. Pare dapat diisi dengan campuran tahu, ikan, daging, atau bahan lainnya sebelum dikukus hingga matang.
Tips Memasak Pare agar Tidak Terlalu Pahit
Salah satu alasan banyak orang menghindari pare adalah rasa pahitnya. Padahal, rasa pahit tersebut bisa dikurangi dengan teknik pengolahan yang tepat.
Berikut beberapa tips yang dapat dicoba:
Pilih pare yang masih segar. Pare yang masih muda biasanya memiliki warna hijau yang lebih cerah dan karakter rasa yang berbeda dibandingkan pare yang sudah terlalu tua.
Buang bijinya. Belah pare dan keluarkan bagian bijinya menggunakan sendok.
Bersihkan bagian putihnya. Bagian putih di bagian dalam pare dapat dikikis sebelum pare diiris.
Iris sesuai kebutuhan. Irisan yang lebih tipis dapat membuat pare lebih cepat matang sehingga tidak perlu dimasak terlalu lama.
Gunakan garam secukupnya. Pare yang sudah diiris dapat diremas perlahan dengan garam untuk membantu mengurangi rasa pahit, kemudian dibilas sampai bersih.
Masak sebentar. Hindari memasak pare terlalu lama apabila ingin mempertahankan tekstur dan kualitas sayurannya.
Teknik penggunaan garam sebelum memasak memang banyak digunakan untuk mengurangi rasa pahit pare. Namun, proses perendaman atau peremasan juga sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan.
Jangan Hanya Mengejar Pare yang Tidak Pahit
Ada anggapan bahwa pare harus dibuat tidak pahit sama sekali agar lebih enak dimakan. Padahal, karakter pahit merupakan bagian khas dari sayuran tersebut.
Karena itu, tidak perlu menggunakan terlalu banyak garam atau melakukan proses pengolahan berulang hanya untuk menghilangkan rasa pahit.
Yang lebih penting adalah menemukan keseimbangan antara rasa, tekstur, dan cara memasak.
Pare yang ditumis bersama bawang putih, bawang merah, cabai, telur, tahu, tempe, atau ikan teri misalnya, dapat menghasilkan cita rasa yang lebih gurih sehingga rasa pahitnya menjadi lebih seimbang.
Nutrisi Pare Bisa Berkurang Jika Pengolahannya Kurang Tepat
Sayuran pada umumnya mengandung vitamin dan mineral yang dapat mengalami perubahan selama proses memasak. Beberapa vitamin juga dapat larut ke dalam air rebusan.
Karena itu, prinsip umum dalam pengolahan sayuran adalah menggunakan suhu dan waktu memasak secukupnya serta tidak menggunakan air secara berlebihan.
Penelitian dan literatur mengenai pengolahan sayuran juga menunjukkan bahwa waktu pemasakan, suhu, jumlah air, dan metode memasak dapat memengaruhi retensi zat gizi.
Dengan demikian, memasak pare bukan berarti harus selalu menggunakan metode tertentu. Yang perlu diperhatikan adalah jangan memasaknya secara berlebihan.
Tumis atau Kukus, Mana yang Dipilih?
Keduanya bisa menjadi pilihan, tergantung menu dan selera.
Jika ingin membuat hidangan cepat seperti tumis pare telur atau tumis pare teri, metode tumis bisa menjadi pilihan praktis.
Sementara itu, jika ingin mengurangi penggunaan minyak atau membuat pare isi, metode kukus dapat digunakan.
Yang perlu diperhatikan adalah waktu memasak. Hindari memasak pare terlalu lama hanya karena ingin membuat teksturnya benar-benar lunak.
Baca: Mengenal Mindfulness yang Ramai Dibahas karena Maudy Ayunda
Kesimpulan
Pare memang terkenal karena rasa pahitnya, tetapi sayuran ini juga memiliki kandungan nutrisi yang membuatnya menarik untuk dikonsumsi.
Agar kandungan nutrisinya tetap terjaga, pare sebaiknya tidak dimasak terlalu lama. Dua metode yang bisa digunakan adalah menumis dengan waktu singkat dan mengukus secukupnya.
Sementara itu, rasa pahit pare dapat dikurangi dengan memilih pare yang tepat, membuang biji dan bagian putihnya, mengirisnya, serta menggunakan sedikit garam sebelum dimasak.
Jadi, mulai sekarang jangan buru-buru merebus pare terlalu lama. Dengan teknik memasak yang lebih tepat, pare tetap bisa menjadi menu rumahan yang lezat, teksturnya menarik, sekaligus tetap mempertahankan nilai gizinya.
























Comments 1