Aopok – #Anak sering #memasukkan #benda ke #mulut merupakan hal yang kerap membuat #orang #tua #khawatir. Mulai dari mainan, tangan, #pakaian, hingga 3benda-benda yang #ditemukan di sekitar rumah, semuanya bisa menjadi #objek yang ingin dicoba oleh #bayi dan #anak #usia dini.
Namun, apakah kebiasaan anak memasukkan benda ke mulut merupakan tanda adanya masalah kesehatan atau justru bagian dari tumbuh kembang yang normal?
Menurut Dokter Spesialis Anak (DSA) dr. Aisya Fikritama, kebiasaan tersebut pada usia tertentu bukan sekadar perilaku aneh atau kebiasaan buruk. Anak, khususnya bayi dan toddler, memang menggunakan mulut sebagai salah satu cara untuk mengenali dan mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.

Baca: Pancaroba Bikin Gampang Sakit? Ini 5 Jus Buah untuk Bantu Jaga Daya Tahan Tubuh
Penjelasan tersebut disampaikan dr. Aisya melalui video di akun Instagram pribadinya dan dikutip pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Anak Memasukkan Benda ke Mulut Bisa Jadi Bagian dari Eksplorasi
Orang tua mungkin sering bertanya-tanya mengapa anak selalu ingin memasukkan berbagai benda ke dalam mulut. Padahal, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Bayi belum memiliki kemampuan seperti orang dewasa untuk memahami sebuah benda hanya dengan melihatnya. Mereka belajar melalui berbagai indra, termasuk penglihatan, sentuhan, penciuman, dan pengecapan.
Karena itu, ketika anak memasukkan benda ke mulut, sebenarnya ia sedang mencari informasi mengenai benda tersebut.
Anak bisa merasakan apakah benda tersebut keras atau lunak, halus atau kasar, dingin atau hangat, serta mengenali berbagai tekstur melalui mulutnya.
Sumber kesehatan anak juga menjelaskan bahwa memasukkan benda ke mulut merupakan salah satu cara bayi mengeksplorasi rasa dan tekstur sekaligus memperoleh informasi sensorik mengenai lingkungan.
Bukan Berarti Anak Nakal
Kebiasaan ini terkadang membuat orang tua langsung melarang atau memarahi anak.
Padahal, menurut dr. Aisya, perilaku tersebut tidak selalu berarti anak nakal atau sengaja melakukan sesuatu yang dilarang.
Rasa penasaran merupakan bagian penting dari proses perkembangan anak. Mereka sedang mencoba memahami lingkungan melalui pengalaman langsung.
Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada larangan, tetapi juga memastikan lingkungan bermain anak aman untuk dieksplorasi.
Dengan kata lain, rasa penasaran anak tidak perlu dimatikan, tetapi perlu diarahkan.
Mengenal Fase Oral pada Bayi dan Anak
Kebiasaan memasukkan benda ke mulut sering dikaitkan dengan fase oral, yaitu periode ketika mulut menjadi salah satu bagian tubuh yang sangat aktif digunakan anak untuk mengeksplorasi lingkungan.
Pada usia bayi hingga toddler, memasukkan tangan, mainan atau benda tertentu ke mulut merupakan perilaku yang umum. Cleveland Clinic juga menyebutkan bahwa hampir semua bayi mengalami fase memasukkan benda ke mulut dan sebagian anak dapat melakukannya lebih sering dibandingkan anak lainnya.
Dalam perkembangannya, kebiasaan tersebut biasanya akan berkurang seiring bertambahnya usia dan kemampuan anak dalam mengeksplorasi lingkungan dengan cara lain.
Namun, setiap anak memiliki pola perkembangan yang berbeda. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak membandingkan anak secara berlebihan dengan anak lain.
Tetap Waspada, Tidak Semua Benda Aman untuk Dimasukkan ke Mulut
Meskipun memasukkan benda ke mulut bisa normal, bukan berarti semua benda boleh dibiarkan masuk ke mulut anak.
Inilah bagian yang sangat penting bagi orang tua.
dr. Aisya mengingatkan agar orang tua segera menjauhkan benda-benda yang berbahaya apabila anak hendak memasukkannya ke mulut. Beberapa di antaranya adalah benda tajam, benda berukuran kecil, baterai, obat-obatan, maupun benda yang dapat menyebabkan tersedak.
Benda-benda tersebut dapat menimbulkan risiko serius, terutama pada bayi dan balita yang belum memahami bahaya.
Beberapa benda yang harus dijauhkan dari anak antara lain:
- Gunting dan benda tajam lainnya
- Baterai kancing
- Koin
- Obat-obatan
- Benda kecil yang mudah tertelan
- Bagian kecil dari mainan
- Benda dengan ujung tajam
- Bahan pembersih rumah tangga
- Benda yang mengandung bahan kimia
- Makanan yang berisiko menyebabkan tersedak
Orang tua sebaiknya melakukan pemeriksaan rutin terhadap area bermain anak. Benda kecil yang terlihat sepele bagi orang dewasa bisa menjadi ancaman serius bagi bayi dan balita.
Baca: Berapa Banyak Buah yang Sebaiknya Dimakan Setiap Hari? Ini Porsi dan Manfaatnya untuk Kesehatan
Jangan Hanya Mengatakan “Jangan”
Ketika melihat anak hendak memasukkan benda berbahaya ke mulut, orang tua tentu harus segera bertindak.
Namun, menurut penjelasan dr. Aisya, orang tua tidak cukup hanya mengatakan “jangan”.
Benda berbahaya sebaiknya segera diambil dan dijauhkan dari jangkauan anak. Setelah itu, berikan alternatif benda yang aman untuk dieksplorasi.
Misalnya, ketika anak mengambil benda kecil yang berbahaya, orang tua dapat mengalihkan perhatiannya dengan memberikan mainan yang memang dirancang sesuai usia anak.
Pendekatan seperti ini membantu anak tetap melakukan eksplorasi tanpa harus menghadapi risiko yang tidak perlu.
Bagaimana Cara Orang Tua Menghadapi Anak yang Suka Memasukkan Benda ke Mulut?
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua untuk menjaga keamanan anak.
1. Pastikan Lingkungan Bermain Aman
Periksa lantai, meja, tempat tidur, sofa, dan area bermain anak secara berkala.
Jangan biarkan benda kecil berserakan di tempat yang mudah dijangkau bayi atau balita.
2. Jauhkan Baterai dan Benda Kecil
Baterai kancing merupakan salah satu benda yang harus mendapat perhatian khusus.
Selain baterai, koin, manik-manik, bagian kecil mainan dan benda kecil lainnya juga sebaiknya disimpan di tempat yang tidak dapat dijangkau anak.
3. Pilih Mainan Sesuai Usia
Pastikan mainan yang diberikan kepada anak sesuai dengan rekomendasi usia dan tidak memiliki bagian kecil yang mudah terlepas.
Periksa mainan secara berkala, terutama jika sudah rusak atau terdapat bagian yang mulai longgar.
4. Awasi Anak Saat Bermain
Pengawasan orang tua tetap penting, terutama ketika anak sedang berada dalam fase aktif memasukkan berbagai benda ke mulut.
Pengawasan bukan berarti orang tua harus terus-menerus melarang, tetapi memastikan anak dapat mengeksplorasi lingkungan dalam kondisi yang aman.
5. Sediakan Alternatif yang Aman
Jika anak sedang senang menggigit atau memasukkan sesuatu ke mulut, orang tua dapat memberikan benda yang memang aman digunakan sesuai usianya.
Dengan begitu, kebutuhan eksplorasi anak tetap dapat terpenuhi tanpa harus membiarkannya menggunakan benda berbahaya.
Kapan Kebiasaan Memasukkan Benda ke Mulut Perlu Diwaspadai?
Kebiasaan memasukkan benda ke mulut pada bayi dan anak kecil umumnya merupakan bagian dari perkembangan. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan usia anak, jenis benda yang dimasukkan, frekuensi perilaku, serta apakah anak benar-benar menelan benda yang bukan makanan.
Jika anak sudah lebih besar tetapi terus-menerus memiliki dorongan untuk mengonsumsi benda yang bukan makanan, kondisi tersebut perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan. Salah satu kondisi yang dikenal dalam dunia medis adalah pica, yaitu pola mengonsumsi zat atau benda yang bukan makanan.
Orang tua juga perlu berkonsultasi dengan dokter jika muncul perilaku yang tidak biasa, terutama apabila disertai masalah tumbuh kembang, gangguan makan, atau anak berulang kali menelan benda yang berbahaya.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Menelan Benda?
Ini merupakan situasi yang tidak boleh dianggap sepele.
Jika anak menelan benda asing, tindakan yang perlu dilakukan bergantung pada jenis benda, ukuran benda, lokasi benda, dan kondisi anak.
Bila anak mengalami kesulitan bernapas, sulit berbicara, sulit menelan, tersedak berat, atau menunjukkan tanda kegawatan lainnya, anak harus segera mendapatkan pertolongan medis darurat.
Orang tua sebaiknya tidak mencoba mengeluarkan benda secara sembarangan karena tindakan yang salah dapat memperburuk kondisi.
Kesimpulan
Jadi, anak sering memasukkan benda ke mulut tidak selalu merupakan tanda adanya masalah kesehatan. Pada bayi dan toddler, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari proses eksplorasi dan pembelajaran.
Baca: Sering Lemas dan Mudah Memar? Kenali Tanda Kanker Darah yang Perlu Diwaspadai
Anak belajar mengenali dunia melalui berbagai indra, termasuk melalui mulut. Karena itu, orang tua tidak perlu langsung memarahi atau menganggap anak nakal ketika melakukan hal tersebut.
Namun, rasa penasaran anak harus diimbangi dengan keamanan.
Seperti yang disampaikan dr. Aisya Fikritama, tugas orang tua bukan mematikan rasa penasaran anak, tetapi menciptakan lingkungan yang aman agar anak tetap dapat belajar dan bereksplorasi.
Kuncinya adalah mengawasi, mengamankan benda berbahaya, memberikan alternatif yang aman, dan mengetahui kapan perilaku tersebut membutuhkan perhatian medis.























