
Tiga mahasiswa Program Studi Gizi Kesehatan Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan yoghurt berbahan dasar tempe.
“Tempe mengandung senyawa antioksidan. Tapi, pengolahan tempe dengan
digoreng maupun direbus ternyata bisa menurunkan kandungan antioksidan yang
terdapat di dalamnya. Jika diolah menjadi yoghurt, kadar antioksidan tempe
justru meningkat,” kata salah seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada
(UGM) yang mengembangkan olahan tersebut Rio Jati Kusuma di Yogyakarta,
baru-baru ini.
Dua mahasiswa Program Studi Gizi Kesehatan UGM yang mengembangkan inovasi
yoghurt tempe adalah Rifka Kumala Dewi dan Nuraini Wahyu Setyaningrum.
“Dalam tempe terdapat senyawa antioksidan yang cukup tinggi yaitu sekitar
60 persen. Kadar antioksidan tersebut akan meningkat jika tempe diolah menjadi
yoghurt,” katanya.
Selain itu, yoghurt tempe juga mengandung hydroxiantralinic acid (3-haa)
sebagai penangkal radikal bebas dan dapat memperbaiki kerusakan hati. “Hal
tersebut telah diujicobakan pada 24 tikus galur wistar yang berumur dua bulan
dengan berat badan rata-rata 100-150 gram,” katanya.
Dari hasil percobaan, tikus yang diberi yoghurt tempe memiliki kadar enzim
Serum Glutamic Pyruvate Transaminase (SGPT) dan Serum Glutamic Oxaloacetic
Transaminase (SGOT) lebih rendah dibanding tikus yang tidak diberi perlakuan.
“SGPT dan SGOT merupakan enzim pada hati yang akan meningkat jumlahnya
apabila hati mengalami kerusakan. Tikus yang diberi tempe yoghurt, enzim SGPT
dan SGOT turun hingga 50 persen,” katanya.
Secara teori, yoghurt tempe aman untuk dikonsumsi manusia. “Namun masih
perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui kandungannya secara
pasti,” katanya,
Dari 90 gram tempe dapat dihasilkan 600 mililiter yoghurt tempe. “Yoghurt
yang dihasilkan memiliki karakteristik hampir serupa dengan yoghurt susu, tapi
sedikit lebih encer. Rasanya pun agak lebih asam,” katanya. (*/Ant)
Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan yoghurt berbahan dasar tempe.
“Tempe mengandung senyawa antioksidan. Tapi, pengolahan tempe dengan
digoreng maupun direbus ternyata bisa menurunkan kandungan antioksidan yang
terdapat di dalamnya. Jika diolah menjadi yoghurt, kadar antioksidan tempe
justru meningkat,” kata salah seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada
(UGM) yang mengembangkan olahan tersebut Rio Jati Kusuma di Yogyakarta,
baru-baru ini.
Dua mahasiswa Program Studi Gizi Kesehatan UGM yang mengembangkan inovasi
yoghurt tempe adalah Rifka Kumala Dewi dan Nuraini Wahyu Setyaningrum.
“Dalam tempe terdapat senyawa antioksidan yang cukup tinggi yaitu sekitar
60 persen. Kadar antioksidan tersebut akan meningkat jika tempe diolah menjadi
yoghurt,” katanya.
Selain itu, yoghurt tempe juga mengandung hydroxiantralinic acid (3-haa)
sebagai penangkal radikal bebas dan dapat memperbaiki kerusakan hati. “Hal
tersebut telah diujicobakan pada 24 tikus galur wistar yang berumur dua bulan
dengan berat badan rata-rata 100-150 gram,” katanya.
Dari hasil percobaan, tikus yang diberi yoghurt tempe memiliki kadar enzim
Serum Glutamic Pyruvate Transaminase (SGPT) dan Serum Glutamic Oxaloacetic
Transaminase (SGOT) lebih rendah dibanding tikus yang tidak diberi perlakuan.
“SGPT dan SGOT merupakan enzim pada hati yang akan meningkat jumlahnya
apabila hati mengalami kerusakan. Tikus yang diberi tempe yoghurt, enzim SGPT
dan SGOT turun hingga 50 persen,” katanya.
Secara teori, yoghurt tempe aman untuk dikonsumsi manusia. “Namun masih
perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui kandungannya secara
pasti,” katanya,
Dari 90 gram tempe dapat dihasilkan 600 mililiter yoghurt tempe. “Yoghurt
yang dihasilkan memiliki karakteristik hampir serupa dengan yoghurt susu, tapi
sedikit lebih encer. Rasanya pun agak lebih asam,” katanya. (*/Ant)
Sumber :
ciputraentreprenuerchip.com
ADVERTISEMENT








