ADVERTISEMENT

Peluang bisnis bisa datang dari mana saja, termasuk dalam
berbisnis perlengkapan shalat, seperti sajadah berhias yang mampu menarik
konsumen terutama mendorong anak supaya rajin mengerjakan kewajiban shalat.
Nursanti melihat peluang itu dengan memproduksi sajadah berhias untuk anak
terbuat dari aplikasi kain flanel yang ditempel pada kain felboa (kain bulu)
atau kain katun. Sajadah berhias itu ditempeli gambar-gambar seperti kupu-kupu,
bunga, kereta api, pesawat, dan tak lupa ornamen masjid.
Menurut perajin, Nursanti, ide ini tercetus ketika anaknya ingin melakukan
praktek shalat di sekolahnya dan minta dibuatkan sajadah baru. Maka dia memutar
otak, model seperti apa yang pantas dan cocok untuk anak-anak. Akhirnya
terciptalah sajadah berhias tersebut. ‘’Ketika anak saya memakai sajadah hias
tersebut, banyak temannya pengen dan akhirnya orang tuanya memesan kepada
saya,’’ ungkapnya.
Sebelumnya, dia memang sudah berbisnis perlengkapan shalat dan baju muslim di
tokonya di Ruko Villa Ngaliyan Permai I-A/10, Jalan Raya Ngaliyan, Semarang.
Selain sajadah hias yang merupakan inovasi terbarunya, dia juga menciptakan
mukena berhias dan mukena wisata.
Nursanti menjualnya dengan sistem eceran dan grosir. Bagi yang membeli secara
grosir minimal 6 sajadah akan dipotong 20% dari harga eceran. Sampai saat ini,
pemasarannya hingga luar kota dan luar Jawa seperti Pekalongan, Yogyakarta,
Solo, Jambi, dan Kalimantan.
Namun kendalanya dengan tenaga yang mengerjakan tidak sesuai pesanan yang dia
terima, karena saat ini dia hanya punya tujuh karyawan. Selain itu, dia
memberdayakan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya.
berbisnis perlengkapan shalat, seperti sajadah berhias yang mampu menarik
konsumen terutama mendorong anak supaya rajin mengerjakan kewajiban shalat.
Nursanti melihat peluang itu dengan memproduksi sajadah berhias untuk anak
terbuat dari aplikasi kain flanel yang ditempel pada kain felboa (kain bulu)
atau kain katun. Sajadah berhias itu ditempeli gambar-gambar seperti kupu-kupu,
bunga, kereta api, pesawat, dan tak lupa ornamen masjid.
Menurut perajin, Nursanti, ide ini tercetus ketika anaknya ingin melakukan
praktek shalat di sekolahnya dan minta dibuatkan sajadah baru. Maka dia memutar
otak, model seperti apa yang pantas dan cocok untuk anak-anak. Akhirnya
terciptalah sajadah berhias tersebut. ‘’Ketika anak saya memakai sajadah hias
tersebut, banyak temannya pengen dan akhirnya orang tuanya memesan kepada
saya,’’ ungkapnya.
Sebelumnya, dia memang sudah berbisnis perlengkapan shalat dan baju muslim di
tokonya di Ruko Villa Ngaliyan Permai I-A/10, Jalan Raya Ngaliyan, Semarang.
Selain sajadah hias yang merupakan inovasi terbarunya, dia juga menciptakan
mukena berhias dan mukena wisata.
Nursanti menjualnya dengan sistem eceran dan grosir. Bagi yang membeli secara
grosir minimal 6 sajadah akan dipotong 20% dari harga eceran. Sampai saat ini,
pemasarannya hingga luar kota dan luar Jawa seperti Pekalongan, Yogyakarta,
Solo, Jambi, dan Kalimantan.
Namun kendalanya dengan tenaga yang mengerjakan tidak sesuai pesanan yang dia
terima, karena saat ini dia hanya punya tujuh karyawan. Selain itu, dia
memberdayakan ibu rumah tangga di sekitar rumahnya untuk membantu pekerjaannya.
Sumber : ciputraentreprenuerchip.com









