ADVERTISEMENT

Selama ini masyarakat mengenal sukun hanya diolah dengan
cara digoreng, direbus atau dibuat keripik. Ide membuat kue berbahan baku sukun
tercipta dari Gentur Adiprabawa, Inna Rachmawai, M. Ridwan Ansari mahasiswa
Progam Studi (Prodi) Ilmu Gizi Kesehatan dan Diah Nurpratami serta Dewi
Masyitoh Mubarok, mahasiswa Prodi Pendidikan Kedokteran Universitas Gadjah Mada
(UGM) Yogyakarta.
Produk olahan buah sukun ciptaan mereka ternyata tidak kalah nikmatnya dengan
produk kue lainnya yang sudah ada. Melihat potensi bisnis yang ada, mereka kemudian
mengembangkan usaha bakery berbahan buah sukun yang diberi nama sukun bakery
delicious (Sukrilicious). Usaha ini berawal dari kegiatan program kreativitas
mahasiswa (PKM). Kala itu, mereka bersamasama menciptakan inovasi produk dari
bahan pangan lokal. Gentur Adiprabawa menuturkan, dipilihnya sukun sebagai
bahan dasar kue karena mereka ingin meningkatkan nilai jual dan nilai gunanya.
Salah satu usaha yang dilakukan yakni dengan melakukan diversifikasi produk
dengan mengolah sukun menjadi berbagai panganan dalam bentuk berbagai macam
kue.
Produk pangan berbahan sukun ini, lanjut Gentur, juga memiliki kelebihan yang
baik bagi kesehatan. Buah sukun mengandung nilai gizi tinggi karena kaya akan
serat yakni 2% dan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sekitar 35,5%.
Selain kaya gizi,produk olahan mereka juga aman dikonsumsi bagi penderita
diabetes. “Sukun memiliki indeks glikemik yang rendah. Sehingga meski
mengandung karbohidrat tinggi namun masih aman dikonsumsi penderita gula darah,
bahkan sukun dapat menjadi panganan pengganti nasi bagi penderita diabetes,”
terang mahasiswa UGM angkatan 2008 ini.
Sebelum diolah menjadi berbagai macam kue, buah sukun terlebih dahulu dibuat
menjadi tepung sukun. Cara untuk mendapatkan tepung sukun,yakni dengan sukun
dikupas kemudian dipotong tipis-tipis dan direndam di air yang ditaburi garam
untuk mencegah timbulnya warna kecoklatan pada sukun. Selanjutnya, sukun
dikeringkan secara alami dengan sinar matahari atau dapat pula menggunakan
oven. Setelah kering, sukun lalu ditepungkan dengan blender atau alat penepung
khusus. “Tepung sukun bisa digunakan untuk membuat beraneka macam adonan kue.
Untuk produk Sukrilicious sendiri, kami mencampurkannya dengan tepung terigu
dengan perbandingan satu banding satu,” kata Gentur. Dijelaskannya, penambahan
tepung terigu dalam adonan bakery bertujuan untuk menjaga tekstur produk kue
mereka.
“Awalnya kami hanya memakai tepung sukun saja tapi hasilnya kurang bagus. Kue
jadi kurang mengembang dan teskturnya kasar,” katanya. Inna Rachmawati
menambahkan, dari 2 kg tepung sukun, mereka mampu menghasilkan sekitar 200 buah
kue.
Jenis produk yang hingga saat ini sudah mereka buat berupa bolu sukun, donat
sukun, muffin sukun, tart sukun, blackforest sukun,pukis sukun,pizza sukun,
seledri stick sukun, cheese stick sukun, brownis sukun, cake sukun dan aneka
kue kering lainnya. Harganya yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari kisaran
harga eceran Rp1.500 hingga Rp50.000 per kue.
“Untuk pengembangan pemasaran, kami akan membuka gerai di utara kampus Teknik
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tepatnya di Jalan Flamboyan, Karang Asem
pada Oktober mendatang,” ungkap gadis berjilbab ini.
Usaha yang baru dimulai sekitar 6 bulan lalu ini mulai meraih sukses. Hingga
saat ini, omzet yang dihasilkan mencapai Rp13juta perbulan. Dan saat ini
Sukrilicious sudah memiliki tiga orang karyawan. (*/Sindo/Ratih Keswara)
cara digoreng, direbus atau dibuat keripik. Ide membuat kue berbahan baku sukun
tercipta dari Gentur Adiprabawa, Inna Rachmawai, M. Ridwan Ansari mahasiswa
Progam Studi (Prodi) Ilmu Gizi Kesehatan dan Diah Nurpratami serta Dewi
Masyitoh Mubarok, mahasiswa Prodi Pendidikan Kedokteran Universitas Gadjah Mada
(UGM) Yogyakarta.
Produk olahan buah sukun ciptaan mereka ternyata tidak kalah nikmatnya dengan
produk kue lainnya yang sudah ada. Melihat potensi bisnis yang ada, mereka kemudian
mengembangkan usaha bakery berbahan buah sukun yang diberi nama sukun bakery
delicious (Sukrilicious). Usaha ini berawal dari kegiatan program kreativitas
mahasiswa (PKM). Kala itu, mereka bersamasama menciptakan inovasi produk dari
bahan pangan lokal. Gentur Adiprabawa menuturkan, dipilihnya sukun sebagai
bahan dasar kue karena mereka ingin meningkatkan nilai jual dan nilai gunanya.
Salah satu usaha yang dilakukan yakni dengan melakukan diversifikasi produk
dengan mengolah sukun menjadi berbagai panganan dalam bentuk berbagai macam
kue.
Produk pangan berbahan sukun ini, lanjut Gentur, juga memiliki kelebihan yang
baik bagi kesehatan. Buah sukun mengandung nilai gizi tinggi karena kaya akan
serat yakni 2% dan memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi sekitar 35,5%.
Selain kaya gizi,produk olahan mereka juga aman dikonsumsi bagi penderita
diabetes. “Sukun memiliki indeks glikemik yang rendah. Sehingga meski
mengandung karbohidrat tinggi namun masih aman dikonsumsi penderita gula darah,
bahkan sukun dapat menjadi panganan pengganti nasi bagi penderita diabetes,”
terang mahasiswa UGM angkatan 2008 ini.
Sebelum diolah menjadi berbagai macam kue, buah sukun terlebih dahulu dibuat
menjadi tepung sukun. Cara untuk mendapatkan tepung sukun,yakni dengan sukun
dikupas kemudian dipotong tipis-tipis dan direndam di air yang ditaburi garam
untuk mencegah timbulnya warna kecoklatan pada sukun. Selanjutnya, sukun
dikeringkan secara alami dengan sinar matahari atau dapat pula menggunakan
oven. Setelah kering, sukun lalu ditepungkan dengan blender atau alat penepung
khusus. “Tepung sukun bisa digunakan untuk membuat beraneka macam adonan kue.
Untuk produk Sukrilicious sendiri, kami mencampurkannya dengan tepung terigu
dengan perbandingan satu banding satu,” kata Gentur. Dijelaskannya, penambahan
tepung terigu dalam adonan bakery bertujuan untuk menjaga tekstur produk kue
mereka.
“Awalnya kami hanya memakai tepung sukun saja tapi hasilnya kurang bagus. Kue
jadi kurang mengembang dan teskturnya kasar,” katanya. Inna Rachmawati
menambahkan, dari 2 kg tepung sukun, mereka mampu menghasilkan sekitar 200 buah
kue.
Jenis produk yang hingga saat ini sudah mereka buat berupa bolu sukun, donat
sukun, muffin sukun, tart sukun, blackforest sukun,pukis sukun,pizza sukun,
seledri stick sukun, cheese stick sukun, brownis sukun, cake sukun dan aneka
kue kering lainnya. Harganya yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari kisaran
harga eceran Rp1.500 hingga Rp50.000 per kue.
“Untuk pengembangan pemasaran, kami akan membuka gerai di utara kampus Teknik
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tepatnya di Jalan Flamboyan, Karang Asem
pada Oktober mendatang,” ungkap gadis berjilbab ini.
Usaha yang baru dimulai sekitar 6 bulan lalu ini mulai meraih sukses. Hingga
saat ini, omzet yang dihasilkan mencapai Rp13juta perbulan. Dan saat ini
Sukrilicious sudah memiliki tiga orang karyawan. (*/Sindo/Ratih Keswara)
Sumber : ciputraentreprenuerchip.com








