
Sore itu, mendung menggantung di langit kota Wonosobo, ditimpali rintik air hujan yang masih malu-malu untuk turun secara bersamaan. Cuaca di kota ini yang biasanya sudah dingin, menjadi lebih dingin lagi. Saat yang tepat mencari kehangatan.

Di kawasan Sudagaran, ada penjaja bubur sumsum dan candil yang sudah melegenda, namanya Bubur Candil Akmalia. Konon sudah berjualan sejak 63 tahun yang lalu dan hanya menempati teras sebuah rumah sederhana, Bubur sumsum dipadukan dengan candil alias biji salak, kemudian diguyur gula merah dan santan. Manis dan gurih akan bertarung di dalam mulut kita menghasilkan cita rasa nikmat. Apalagi jika dimakan langsung, kehangatannya dapat menyelimuti tubuh kita dari udara dingin kota Wonosobo .

Saat saya bersantap di sini, hampir tidak berhenti pelanggan yang datang menikmati hidangan ini, baik untuk dibawa pulang atau makan di tempat.










