Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan
menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya
kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka
tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang
yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).
ruhiyah (olah rohani) dari kehidupan materialistis kepada kehidupan
ruhiyah, dari kehidupan yang penuh dengan berbagai masalah keduniaan menuju
kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs
(pembersihan jiwa). Kaum muslimin mengisi kehidupan Ramadhan penuh dengan amal
taqarrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Quran, menahan syahwat dengan
shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Ramadhan
merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Semua
ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan, yaitu
agar menjadi orang yang bertaqwa.
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa…” (QS. Al-Baqarah:
183)
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al-Baqarah: 185)
الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكاَةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
وَحَجِّ البَيْتِ الحَرَامِ –
متفق عليه.
ilaha illallah’ dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan
zakat, haji, dan berpuasa ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16 dari Ibnu
Umar)
يَغْشَاكُم الله فِيْهِ، فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الخَطَايَا،
وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ الله إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ،
وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَهُ، فَأَرُوْا الله مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا،
فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ الله –
رواه الطبراني ورواته ثقات.
datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada
bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a.
Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia
membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah
hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang
tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani,
dan periwayatnya tsiqah).
minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya
matahari dengan diiringi niat.
(puasa) adalah perbuatan menahan diri dari semua pembatal puasa disertai dengan
niat (ibadah), sejak dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.” (Tafsir
Al-Qurthubi pada ayat 183 dari surah Al-Baqarah)
“Penahanan yang bersifat khusus, dari sesuatu yang tertentu, yang dikerjakan
pada waktu tertentu, dan dilakukan oleh orang tertentu.”
berakal, sehat dan muqim (bukan musafir). Puasa merupakan salah satu dari rukun
Islam, yang kewajibannya ditunjukkan oleh Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ umat
ini.
Hurairah RA secara marfu’ dalam hadits Qudsi:
ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ, فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
kecuali puasa, karena dia itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Puasa adalah perisai.” (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)
Dari Abu Said Al-Khudri secara marfu’:
سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِهَذاَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ
سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا
sehari di jalan Allah kecuali karenanya Allah akan menjauhkan wajahnya dari
neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Al-Bukhari no. 2840 dan Muslim no. 1153)
Dari Abu Hurairah RA:
الله يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُوْلُ:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ
صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ
الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ
شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ – رواه أحمد
والنسائي.
SAW biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan
kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini
malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh
kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (H.R. Ahmad dan An
Nasa’i)
الْجُمُعَةِ, وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ, مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا
اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
jumat satu ke shalat jumat selanjutnya, dari satu ramadhan ke ramadhan
berikutnya, semuanya adalah penghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya,
jika dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no.233)
sahnya puasa ada enam, yaitu:
tidak sah puasa orang kafir sebelum masuk islam.
tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal.
Tamyiz: tidak sah puasa anak kecil sebelum
dapat membedakan (yang baik dengan yang buruk).
haid: tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya.
nifas: tidak sah puasa wanita nifas, sebelum suci dari nifas.
Niat: dari malam hari untuk setiap hari dalam
puasa wajib. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW:
النِّيَّةَ قَبْلَ الفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ –
رواه الخمسة.
malam hari sebelum fajar maka tidak sah puasanya.” (HR. Ahmad, Abu
Daud, Ibnu Majah, An Nasa’i dan At
Tirmidzi).
yang Membatalkan Puasa.
Makan dan minum dengan sengaja. Jika
dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.
Jima’ (bersenggama).
Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk
dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan tranfusi darah bagi orang
yang berpuasa.
Karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun
keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa
sengaja.
seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada
pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.
atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW:
عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَعَلَيْهِ القَضَاءُ – رواه الخمسة إلا النسائي.
tidak wajib qadha’, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib
qadha.” (HR.
Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan At Tirmidzi).
kita darinya-. Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah SWT:
niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am:
88).
sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian
pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja.
sempurna empat puluh hari, maka hendaknya ia mandi shalat dan berpuasa.
Ramadhan
sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh: 183-187. Dan,
dalam berpuasa, orang beriman harus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW atau
sesuai dengan adab-adab Islam. Sehingga puasanya benar dan memberikan pengaruh
yang kuat dalam kehidupannya. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra., Nabi
SAW bersabda:
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
mengharapkan pahala maka akan diampuni seluruh dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1900 dan Muslim
no. 760)
Abdurrahman bin Auf RA bahwasanya
Rasulullah SAW menyebut bulan Ramadhan seraya bersabda:
رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ الله صِيَامَهُ وَإِنِّيْ سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِيْنَ
قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ
الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ –
أخرجه النسائي، وقال: الصواب عن أبي هريرة.
Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunnahkan shalat
malamnya. Maka barangsiapa menjalankan puasa dan shalat malam pada bulan itu
karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat
ketika dilahirkan ibunya.” (HR. An Nasa’i, katanya: yang benar adalah
dari Abu hurairah).
ini disunnahkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk
mengikuti jejak Nabi SAW, para sahabat dan
khulafa’ur rasyidin. Sabda Nabi SAW:
إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – متفق عليه.
mendirikan shalat
malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq
alaih).
At Tirmidzi dari Bilal, bahwa Nabi SAW bersabda:
دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ مَقْرَبَةٌ لَكُمْ
إِلَى رَبِّكُمْ، وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ عَن الإِثْمِ
وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَن ا لجَسَدِ –
صححه الحاكم ووافقه الذهبي.
kamu mendirikan shalat malam karena itu tradisi orang-orang shalih sebelummu.
Sungguh, shalat malam mendekatkan dirimu kepada Tuhanmu, menghapuskan kesalahan,
menjaga diri dari dosa dan mengusir penyakit dari tubuh.” (Hadits
ini dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi menyetujuinya. 1/308).
Al-Quran (QS 2: 185). Maka sebaik-baik aktifitas setelah puasa adalah interaksi
dengan Al-Quran. Iman Az-Zuhri pernah berkata, ”Apabila datang Ramadhan maka
kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Quran”. Allah SWT
berfirman:
turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An Nahl:
89).
القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ – رواه مسلم عن أبي أمامة.
Al Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi
pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
Utsman bin Affan RA, Rasulullah SAW
bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ –
رواه البخاري.
kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR.
Al-Bukhari).
bersabda:
بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ الله وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ
نَزَلَتْ عَلَيْهِم السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُم الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُم
المَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُم الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ
berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan
mempelajarinya diantara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta
mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah
kepada para malaikat di hadapan-Nya.” (HR. Muslim).
ramadhan adalah I’tikaf, yakni tetap berada di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Rasulullah SAW
mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang
tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lainnya.
RA:
النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ
الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari
terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim)
الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ
مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – هذا لفظ البخاري.
alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli
isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (Demikian menurut lafadz Al-Bukhari).
meriwayatkan dari aisyah RA:
رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ
الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ – رواه مسلم.
SAW bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak
beliau lakukan pada bulan lainnya.”
terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer dengan sebutan lailatul
qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS Al Qodr:1-5). Allah
memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu
malam yang penuh keberkahan. Allah SWT berfirman:
Kami menurunkan(Al-Quran) pada suatu
malam yang diberkahi.”
(Ad-Dukhan: 3).
pernah melewatkan bulan ramadhan untuk meraih lailatul qodr terutama pada
malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Sebagaimana sabdanya:
القَدْرِ فِيْ الوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ – رواه البخاري ومسلم وغيرهما.
Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR.
Al-Bukhari, muslim dan lainnya).
Rasulullah SAW bersabda,
لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ – متفق عليه.
melakukan shalat malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap
pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari
dan Muslim).
aku bertanya: “wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui Lailatul
Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?” Rasulullah SAW menjawab,
katakanlah:
إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ – رواه الترمذي وقال: حديث حسن
صحيح.
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai pengampunan maka ampunilah
aku.”
(HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih).
orang puasa adalah mustajab (dikabulkan), baik ketika dalam keadaan puasa
ataupun ketika berbuka. Allah memerintahkan agar kita senantiasa berdoa kepadanya. Allah pun menjamin mengabulkan doa kita.
Allah berfirman:
berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya untukmu.” (Ghafir:
60).
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 55).
berzikir kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
dzikir sebanyak-banyak nya.” (QS. Al Ahzab: 41)
mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allalh hati menjadi
tentaram.” (QS.Ar-Ra’d: 28)
memanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam sebuah
haditsnya beliau pernah bersabda,
مِنْهُمْ- الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ – رواه الإمام أحمد والترمذي والنسائي وابن
ماجة.
antaranya disebutkan, “orang yang berpuasa hingga ia berbuka.” (HR.
Ahmad, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).”
An-Nu’man bin Basyir RA, dari Nabi SAW,
beliau bersabda:
العِبَادَةُ – رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن صحيح.
adalah Ibadah.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi. At Tirmidzi berkata:
hadits hasan shahih).
terutama pada bulan Ramadhan.
adalah bulan penuh ampunan. Banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan Allah
SWT. Diantaranya adalah melalui taubat dan istighfar. Jika sebab-sebab ampunan
di bulan Ramadhan demikian banyak, maka orang yang tidak mendapatkan ampunan di
dalamnya adalah orang yang merugi. Kapan lagi kita mendapatkan ampunan-Nya,
jika tidak diampuni pada bulan ini?
berfirman:
hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
(Asy-syuura: 25).
memohon ampun kepadaNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Maidah: 74).
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).
Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan
menghapus kesalahan-kesalahan dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8).
bertaubat, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaaha: 82).
وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِيْ اليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ – رواه مسلم.
sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya,
sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR.
Muslim).
أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ – رواه مسلم.
bertaubat sebelum matahari terbit dari barat niscaya Allah menerima taubatnya.”
(HR.
Muslim).
Abbas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ
ضَيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ –
رواه أبو داود.
senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya
kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya
rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud)
berlipat ganda pada waktu-waktu tertentu, seperti bulan Ramadhan. Dan,
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan. Kedermawanan beliau pada
bulan Ramadhan berlipat ganda daripada bulan-bulan lainnya, sebagaimana
kedermawanan Tuhannya berlipat ganda pada bulan ini.
dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia
berkata:
النَّبِيُّ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ
أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ، حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فَيُدَارِسُهُ
القُرْآنَ وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ،
فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَكَانَ رَسُوْلُ الله
حِيْنَ يَلْقَاهُ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِن الرِّيْحِ المُرْسَلَةِ
amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau
ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap
malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan
daripada angin yang berhembus.”
jalan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik.” (Al Baqarah: 195)
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 261)
kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan
janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah.” (Al Baqarah: 272)
nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang
sebaik-baiknya” (QS: Saba’: 39).
Mu’adz RA Rasulullah SAW
bersabda:
الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الماَءُ النَّارَ وَقِيَامُ الرَّجُلِ فِيْ جَوْفِ
اللَّيْلِ
dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air
memadamkan api.” (Hadits riwayat At Turmudzi dan
katanya: “hadits hasan shahih”)
(menyediakan makanan) untuk berbuka puasa atau sahur akan mendapatkan pahala
yang sangat baik di sisi Allah. Dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi SAW
beliau bersabda:
فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ
الصَّائِمِ شَيْءٌ –
رواه أحمد والترمذي.
memberi makan pada orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang
yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun dari pahalanya.” (HR.
Ahmad dan At Tirmidzi).
Zakat Fithrah
kewajiban yang harus dipenuhi oleh seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun
perempuan, dewasa maupun anak-anak. Zakat fithrah ini dibayarkan dengan tujuan
untuk menyucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu kaum fakir
miskin.
harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS: At-Taubah: 103).
orang-orang fakir dan orang-orang miskin, para amilin, orang-orang muallaf,
budak belian yang akan dibebaskan, orang-orang yang diutang dan guna keperluan
di jalan Allah, serta orang-orang yang dalam perjalanan. Hal itu merupakan
suatu kewajiban dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.” (QS At-Taubah: 60).
قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ
الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ
وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ
الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى
الصَّلَاةِ
Ibn Umar berkata bahwa Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak
satu sha’ kurma atau gandum, atas budak, orang merdeka, laki-laki, wanita
baikpun kecil maupun besar, dari golongan Islam. Dan beliau saw menyuruh
membagikan sebelum orang-orang pergi shalat ‘Ied.” (HR. Bukhori dan
Muslim)
قَالَ: “فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ
اْلفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً
لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ،
وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ”.
[رواه أبو داود]
dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri untuk
mensucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan porno dan
sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa membayarkannya sebelum
shalat (Hari Raya) maka itu adalah zakat (fitri) yang diterima, dan barang
siapa membayarkannya setelah shalat maka itu hanyalah berupa sedekah dari
sedekah (biasa)”. [HR. Abu Dawud]
disyari’atkan adalah tidak sekedar menahan diri dari makan dan
minum. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ –
رواه البخاري وأحمد وغيرهما.
tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh
terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan
lainnya).
hadits lain dikatakan:
مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطْشُ –
رواه أحمد وهو حديث صحيح.
banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad, hadits hasan shahih)
jadikanlah kami dan segenap umat islam termasuk orang yang puasa dan
mendapatkan kemuliaan bulan Ramadhan tahun ini, yang pahalanya sempurna, yang
mendapatkan Lailatul Qadar, yang beruntung menerima hadiah dari-Mu, dan meraih
derajat ketakwaan tertinggi di sisi-Mu. Wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan
kemuliaan.



































