“Telah datang kepadamu bulan
Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan
menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya
kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka
tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang
yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).
Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan
menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya
kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka
tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang
yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).
Muqoddimah
Bulan Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah (tamasya) dan riyadhotur
ruhiyah (olah rohani) dari kehidupan materialistis kepada kehidupan
ruhiyah, dari kehidupan yang penuh dengan berbagai masalah keduniaan menuju
kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs
(pembersihan jiwa). Kaum muslimin mengisi kehidupan Ramadhan penuh dengan amal
taqarrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Quran, menahan syahwat dengan
shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Ramadhan
merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Semua
ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan, yaitu
agar menjadi orang yang bertaqwa.
ruhiyah (olah rohani) dari kehidupan materialistis kepada kehidupan
ruhiyah, dari kehidupan yang penuh dengan berbagai masalah keduniaan menuju
kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs
(pembersihan jiwa). Kaum muslimin mengisi kehidupan Ramadhan penuh dengan amal
taqarrub kepada Allah, mulai dari tilawah Al-Quran, menahan syahwat dengan
shiyam, sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Ramadhan
merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Semua
ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa Ramadhan, yaitu
agar menjadi orang yang bertaqwa.
Allah SWT berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa…” (QS. Al-Baqarah:
183)
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa…” (QS. Al-Baqarah:
183)
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al-Baqarah: 185)
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al-Baqarah: 185)
ADVERTISEMENT
Nabi SAW bersabda,
بُنِيَ
الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكاَةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
وَحَجِّ البَيْتِ الحَرَامِ –
متفق عليه.
الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكاَةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
وَحَجِّ البَيْتِ الحَرَامِ –
متفق عليه.
“Islam dibangun di atas lima perkara: Syahadat ‘laa
ilaha illallah’ dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan
zakat, haji, dan berpuasa ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16 dari Ibnu
Umar)
ilaha illallah’ dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan
zakat, haji, dan berpuasa ramadhan.” (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16 dari Ibnu
Umar)
Dari Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ،
يَغْشَاكُم الله فِيْهِ، فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الخَطَايَا،
وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ الله إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ،
وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَهُ، فَأَرُوْا الله مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا،
فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ الله –
رواه الطبراني ورواته ثقات.
يَغْشَاكُم الله فِيْهِ، فَيُنَزِّلُ الرَّحْمَةَ، وَيَحُطُّ الخَطَايَا،
وَيَسْتَجِيْبُ فِيْهِ الدُّعَاءَ، يَنْظُرُ الله إِلَى تَنَافُسِكُمْ فِيْهِ،
وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلاَئِكَتَهُ، فَأَرُوْا الله مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا،
فَإِنَّ الشَّقِيَّ مَنْ حُرِمَ فِيْهِ رَحْمَةَ الله –
رواه الطبراني ورواته ثقات.
“Telah
datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada
bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a.
Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia
membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah
hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang
tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani,
dan periwayatnya tsiqah).
datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada
bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a.
Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia
membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah
hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang
tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani,
dan periwayatnya tsiqah).
Makna Puasa.
Puasa secara bahasa bermakna menahan. Puasa ialah menahan diri dari makan,
minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya
matahari dengan diiringi niat.
minum dan bersenggama mulai dari terbit fajar yang kedua sampai terbenamnya
matahari dengan diiringi niat.
Sementara menurut syariat, Imam Al-Qurthubi -rahimahullah- berkata, “Dia
(puasa) adalah perbuatan menahan diri dari semua pembatal puasa disertai dengan
niat (ibadah), sejak dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.” (Tafsir
Al-Qurthubi pada ayat 183 dari surah Al-Baqarah)
(puasa) adalah perbuatan menahan diri dari semua pembatal puasa disertai dengan
niat (ibadah), sejak dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.” (Tafsir
Al-Qurthubi pada ayat 183 dari surah Al-Baqarah)
Imam An-Nawawi berkata -memberikan definisi puasa- dalam Al-Majmu’ (6/247),
“Penahanan yang bersifat khusus, dari sesuatu yang tertentu, yang dikerjakan
pada waktu tertentu, dan dilakukan oleh orang tertentu.”
“Penahanan yang bersifat khusus, dari sesuatu yang tertentu, yang dikerjakan
pada waktu tertentu, dan dilakukan oleh orang tertentu.”
Hukum Puasa Ramadhan.
Puasa ramadhan hukumnya adalah wajib atas setiap muslim yang baligh,
berakal, sehat dan muqim (bukan musafir). Puasa merupakan salah satu dari rukun
Islam, yang kewajibannya ditunjukkan oleh Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ umat
ini.
berakal, sehat dan muqim (bukan musafir). Puasa merupakan salah satu dari rukun
Islam, yang kewajibannya ditunjukkan oleh Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ umat
ini.
Keutamaan Puasa Ramadhan
Di antara dalil-dalil keutamaannya adalah:
1. Dari Abu
Hurairah RA secara marfu’ dalam hadits Qudsi:
Hurairah RA secara marfu’ dalam hadits Qudsi:
كلُّ عَمَلِ
ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ, فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ, فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ.
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
“Semua amalan anak Adam adalah untuknya
kecuali puasa, karena dia itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Puasa adalah perisai.” (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)
kecuali puasa, karena dia itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Puasa adalah perisai.” (HR. Al-Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)
2.
Dari Abu Said Al-Khudri secara marfu’:
Dari Abu Said Al-Khudri secara marfu’:
مَا مِنْ عَبْدٍ يَصُوْمُ يَوْمًا فِي
سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِهَذاَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ
سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا
سَبِيْلِ اللهِ إِلاَّ بَاعَدَ اللهُ بِهَذاَ الْيَوْمِ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ
سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا
“Tidaklah seorang hamba berpuasa
sehari di jalan Allah kecuali karenanya Allah akan menjauhkan wajahnya dari
neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Al-Bukhari no. 2840 dan Muslim no. 1153)
sehari di jalan Allah kecuali karenanya Allah akan menjauhkan wajahnya dari
neraka sejauh 70 tahun perjalanan.” (HR. Al-Bukhari no. 2840 dan Muslim no. 1153)
3.
Dari Abu Hurairah RA:
Dari Abu Hurairah RA:
كَانَ رَسُوْلُ
الله يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُوْلُ:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ
صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ
الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ
شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ – رواه أحمد
والنسائي.
الله يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُوْلُ:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، كَتَبَ الله عَلَيْكُمْ
صِيَامَهُ، فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوِابُ
الجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ
شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ – رواه أحمد
والنسائي.
“Rasulullah
SAW biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan
kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini
malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh
kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (H.R. Ahmad dan An
Nasa’i)
SAW biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan
kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka,
pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini
malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh
kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (H.R. Ahmad dan An
Nasa’i)
4. Dari Abu Hurairah secara marfu’:
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسَةُ, وَالْجُمُعَةُ إِلَى
الْجُمُعَةِ, وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ, مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا
اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
الْجُمُعَةِ, وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ, مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا
اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
“Shalat yang lima waktu, shalat
jumat satu ke shalat jumat selanjutnya, dari satu ramadhan ke ramadhan
berikutnya, semuanya adalah penghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya,
jika dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no.233)
jumat satu ke shalat jumat selanjutnya, dari satu ramadhan ke ramadhan
berikutnya, semuanya adalah penghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya,
jika dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no.233)
Syarat Sahnya Puasa.
Syarat
sahnya puasa ada enam, yaitu:
sahnya puasa ada enam, yaitu:
a. Islam:
tidak sah puasa orang kafir sebelum masuk islam.
tidak sah puasa orang kafir sebelum masuk islam.
b. Berakal:
tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal.
tidak sah puasa orang gila sampai kembali berakal.
c.
Tamyiz: tidak sah puasa anak kecil sebelum
dapat membedakan (yang baik dengan yang buruk).
Tamyiz: tidak sah puasa anak kecil sebelum
dapat membedakan (yang baik dengan yang buruk).
d. Tidak
haid: tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya.
haid: tidak sah puasa wanita haid, sebelum berhenti haidnya.
e. Tidak
nifas: tidak sah puasa wanita nifas, sebelum suci dari nifas.
nifas: tidak sah puasa wanita nifas, sebelum suci dari nifas.
f.
Niat: dari malam hari untuk setiap hari dalam
puasa wajib. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW:
Niat: dari malam hari untuk setiap hari dalam
puasa wajib. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ
النِّيَّةَ قَبْلَ الفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ –
رواه الخمسة.
النِّيَّةَ قَبْلَ الفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ –
رواه الخمسة.
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada
malam hari sebelum fajar maka tidak sah puasanya.” (HR. Ahmad, Abu
Daud, Ibnu Majah, An Nasa’i dan At
Tirmidzi).
malam hari sebelum fajar maka tidak sah puasanya.” (HR. Ahmad, Abu
Daud, Ibnu Majah, An Nasa’i dan At
Tirmidzi).
Hal-hal
yang Membatalkan Puasa.
yang Membatalkan Puasa.
a.
Makan dan minum dengan sengaja. Jika
dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.
Makan dan minum dengan sengaja. Jika
dilakukan karena lupa maka tidak batal puasanya.
b.
Jima’ (bersenggama).
Jima’ (bersenggama).
c.
Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk
dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan tranfusi darah bagi orang
yang berpuasa.
Memasukkan makanan ke dalam perut. Termasuk
dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan tranfusi darah bagi orang
yang berpuasa.
d. Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga
Karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun
keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa
sengaja.
Karena onani, bersentuhan, ciuman atau sebab lainnya dengan sengaja. Adapun
keluar mani karena mimpi tidak membatalkan puasa karena keluarnya tanpa
sengaja.
e. Keluarnya darah haid dan nifas. Manakala
seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada
pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.
seorang wanita mendapati darah haid, atau nifas batallah puasanya, baik pada
pagi hari atau sore hari sebelum terbenam matahari.
f. Sengaja muntah, degan mengeluarkan makanan
atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW:
atau minuman dari perut melalui mulut. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW:
مَنْ ذَرَعَهُ – غَلَبَهُ – القَيْءُ فَلَيْسَ
عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَعَلَيْهِ القَضَاءُ – رواه الخمسة إلا النسائي.
عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنِ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَعَلَيْهِ القَضَاءُ – رواه الخمسة إلا النسائي.
“Barangsiapa muntah tanpa sengaja maka
tidak wajib qadha’, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib
qadha.” (HR.
Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan At Tirmidzi).
tidak wajib qadha’, sedang barangsiapa yang muntah dengan sengaja maka wajib
qadha.” (HR.
Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan At Tirmidzi).
g. Murtad dari Islam –semoga Allah melindungi
kita darinya-. Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah SWT:
kita darinya-. Perbuatan ini menghapuskan segala amal kebaikan. Firman Allah SWT:
“…seandainya mereka mempersekutukan Allah,
niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am:
88).
niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al An’am:
88).
Tidak batal puasa orang yang melakukan
sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian
pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja.
sesuatu yang membatalkan puasa karena tidak tahu, lupa atau dipaksa. Demikian
pula jika tenggorokannya kemasukan debu, lalat, atau air tanpa disengaja.
Jika wanita nifas telah suci sebelum
sempurna empat puluh hari, maka hendaknya ia mandi shalat dan berpuasa.
sempurna empat puluh hari, maka hendaknya ia mandi shalat dan berpuasa.
Amaliyah
Ramadhan
Ramadhan
1. Shiyam (puasa)
Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adalah shiyam (puasa),
sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh: 183-187. Dan,
dalam berpuasa, orang beriman harus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW atau
sesuai dengan adab-adab Islam. Sehingga puasanya benar dan memberikan pengaruh
yang kuat dalam kehidupannya. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra., Nabi
SAW bersabda:
sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat al Baqoroh: 183-187. Dan,
dalam berpuasa, orang beriman harus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW atau
sesuai dengan adab-adab Islam. Sehingga puasanya benar dan memberikan pengaruh
yang kuat dalam kehidupannya. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah ra., Nabi
SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan
mengharapkan pahala maka akan diampuni seluruh dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1900 dan Muslim
no. 760)
mengharapkan pahala maka akan diampuni seluruh dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1900 dan Muslim
no. 760)
Dari
Abdurrahman bin Auf RA bahwasanya
Rasulullah SAW menyebut bulan Ramadhan seraya bersabda:
Abdurrahman bin Auf RA bahwasanya
Rasulullah SAW menyebut bulan Ramadhan seraya bersabda:
إِنَّ
رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ الله صِيَامَهُ وَإِنِّيْ سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِيْنَ
قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ
الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ –
أخرجه النسائي، وقال: الصواب عن أبي هريرة.
رَمَضَانَ شَهْرٌ فَرَضَ الله صِيَامَهُ وَإِنِّيْ سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِيْنَ
قِيَامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ
الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ –
أخرجه النسائي، وقال: الصواب عن أبي هريرة.
“Sungguh,
Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunnahkan shalat
malamnya. Maka barangsiapa menjalankan puasa dan shalat malam pada bulan itu
karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat
ketika dilahirkan ibunya.” (HR. An Nasa’i, katanya: yang benar adalah
dari Abu hurairah).
Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan Allah puasanya dan kusunnahkan shalat
malamnya. Maka barangsiapa menjalankan puasa dan shalat malam pada bulan itu
karena iman dan mengharap pahala, niscaya bebas dari dosa-dosa seperti saat
ketika dilahirkan ibunya.” (HR. An Nasa’i, katanya: yang benar adalah
dari Abu hurairah).
2. Qiyam Ramadhan (Shalat Taawih)
Pada bulan
ini disunnahkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk
mengikuti jejak Nabi SAW, para sahabat dan
khulafa’ur rasyidin. Sabda Nabi SAW:
ini disunnahkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan, untuk
mengikuti jejak Nabi SAW, para sahabat dan
khulafa’ur rasyidin. Sabda Nabi SAW:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ
إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – متفق عليه.
إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ – متفق عليه.
“Barangsiapa
mendirikan shalat
malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq
alaih).
mendirikan shalat
malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Hadits Muttafaq
alaih).
Diriwayatkan oleh
At Tirmidzi dari Bilal, bahwa Nabi SAW bersabda:
At Tirmidzi dari Bilal, bahwa Nabi SAW bersabda:
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ
دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ مَقْرَبَةٌ لَكُمْ
إِلَى رَبِّكُمْ، وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ عَن الإِثْمِ
وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَن ا لجَسَدِ –
صححه الحاكم ووافقه الذهبي.
دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ، وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ مَقْرَبَةٌ لَكُمْ
إِلَى رَبِّكُمْ، وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ عَن الإِثْمِ
وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَن ا لجَسَدِ –
صححه الحاكم ووافقه الذهبي.
“Hendaklah
kamu mendirikan shalat malam karena itu tradisi orang-orang shalih sebelummu.
Sungguh, shalat malam mendekatkan dirimu kepada Tuhanmu, menghapuskan kesalahan,
menjaga diri dari dosa dan mengusir penyakit dari tubuh.” (Hadits
ini dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi menyetujuinya. 1/308).
kamu mendirikan shalat malam karena itu tradisi orang-orang shalih sebelummu.
Sungguh, shalat malam mendekatkan dirimu kepada Tuhanmu, menghapuskan kesalahan,
menjaga diri dari dosa dan mengusir penyakit dari tubuh.” (Hadits
ini dinyatakan shahih oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi menyetujuinya. 1/308).
3. Berinteraksi dengan Al-Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya
Al-Quran (QS 2: 185). Maka sebaik-baik aktifitas setelah puasa adalah interaksi
dengan Al-Quran. Iman Az-Zuhri pernah berkata, ”Apabila datang Ramadhan maka
kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Quran”. Allah SWT
berfirman:
Al-Quran (QS 2: 185). Maka sebaik-baik aktifitas setelah puasa adalah interaksi
dengan Al-Quran. Iman Az-Zuhri pernah berkata, ”Apabila datang Ramadhan maka
kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Quran”. Allah SWT
berfirman:
“Dan Kami
turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An Nahl:
89).
turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan
petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An Nahl:
89).
Rasulullah SAW bersabda,
اقْرَؤُوْا
القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ – رواه مسلم عن أبي أمامة.
القُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِيْ يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيْعًا لِأَصْحَابِهِ – رواه مسلم عن أبي أمامة.
“Bacalah
Al Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi
pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
Al Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi
pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
Dari
Utsman bin Affan RA, Rasulullah SAW
bersabda:
Utsman bin Affan RA, Rasulullah SAW
bersabda:
خَيْرُكُمْ
مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ –
رواه البخاري.
مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ –
رواه البخاري.
“Sebaik-baik
kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR.
Al-Bukhari).
kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR.
Al-Bukhari).
Rasulullah SAW
bersabda:
bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ
بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ الله وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ
نَزَلَتْ عَلَيْهِم السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُم الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُم
المَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُم الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ
بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ الله وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ
نَزَلَتْ عَلَيْهِم السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُم الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُم
المَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُم الله فِيْمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah
berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan
mempelajarinya diantara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta
mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah
kepada para malaikat di hadapan-Nya.” (HR. Muslim).
berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan
mempelajarinya diantara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta
mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah
kepada para malaikat di hadapan-Nya.” (HR. Muslim).
4. I’tikaf
Di antara amaliyah sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah pada bulan
ramadhan adalah I’tikaf, yakni tetap berada di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Rasulullah SAW
mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang
tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lainnya.
ramadhan adalah I’tikaf, yakni tetap berada di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Rasulullah SAW
mengkhususkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan amalan-amalan yang
tidak beliau lakukan pada bulan-bulan yang lainnya.
Dari Aisyah
RA:
RA:
أَنَّ
النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ
الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله
النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ
الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله
“Bahwasanya
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari
terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari
terakhir dari Ramadhan, sehingga Allah mewafatkan beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Dari Aisyah RA, ia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ
الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ
مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – هذا لفظ البخاري.
الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ
مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – هذا لفظ البخاري.
“Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli
isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (Demikian menurut lafadz Al-Bukhari).
alaihi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli
isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (Demikian menurut lafadz Al-Bukhari).
Imam Muslim
meriwayatkan dari aisyah RA:
meriwayatkan dari aisyah RA:
كَانَ
رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ
الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ – رواه مسلم.
رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ
الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ – رواه مسلم.
“Rasulullah
SAW bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak
beliau lakukan pada bulan lainnya.”
SAW bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, hal yang tidak
beliau lakukan pada bulan lainnya.”
5. Mencari Lailatul Qodar
Selama bulan ramadhan
terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer dengan sebutan lailatul
qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS Al Qodr:1-5). Allah
memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu
malam yang penuh keberkahan. Allah SWT berfirman:
terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer dengan sebutan lailatul
qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan (QS Al Qodr:1-5). Allah
memberitahukan bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar, yaitu
malam yang penuh keberkahan. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya
Kami menurunkan(Al-Quran) pada suatu
malam yang diberkahi.”
(Ad-Dukhan: 3).
Kami menurunkan(Al-Quran) pada suatu
malam yang diberkahi.”
(Ad-Dukhan: 3).
Rasulullah tidak
pernah melewatkan bulan ramadhan untuk meraih lailatul qodr terutama pada
malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Sebagaimana sabdanya:
pernah melewatkan bulan ramadhan untuk meraih lailatul qodr terutama pada
malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan ramadhan. Sebagaimana sabdanya:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ
القَدْرِ فِيْ الوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ – رواه البخاري ومسلم وغيرهما.
القَدْرِ فِيْ الوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ – رواه البخاري ومسلم وغيرهما.
“Carilah
Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR.
Al-Bukhari, muslim dan lainnya).
Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR.
Al-Bukhari, muslim dan lainnya).
Dalam hadits lain,
Rasulullah SAW bersabda,
Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ قَامَ
لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ – متفق عليه.
لَيْلَةَ القَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ – متفق عليه.
“Barangsiapa
melakukan shalat malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap
pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari
dan Muslim).
melakukan shalat malam pada malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap
pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari
dan Muslim).
Aisyah RA berkata,
aku bertanya: “wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui Lailatul
Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?” Rasulullah SAW menjawab,
katakanlah:
aku bertanya: “wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui Lailatul
Qadar, apa yang harus aku ucapkan di dalamnya?” Rasulullah SAW menjawab,
katakanlah:
اللَّهُمَّ
إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ – رواه الترمذي وقال: حديث حسن
صحيح.
إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ – رواه الترمذي وقال: حديث حسن
صحيح.
“Ya Allah,
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai pengampunan maka ampunilah
aku.”
(HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih).
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau mencintai pengampunan maka ampunilah
aku.”
(HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih).
6. Memperbanyak Do’a dan Zikir
Doa
orang puasa adalah mustajab (dikabulkan), baik ketika dalam keadaan puasa
ataupun ketika berbuka. Allah memerintahkan agar kita senantiasa berdoa kepadanya. Allah pun menjamin mengabulkan doa kita.
Allah berfirman:
orang puasa adalah mustajab (dikabulkan), baik ketika dalam keadaan puasa
ataupun ketika berbuka. Allah memerintahkan agar kita senantiasa berdoa kepadanya. Allah pun menjamin mengabulkan doa kita.
Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu
berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya untukmu.” (Ghafir:
60).
berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya untukmu.” (Ghafir:
60).
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 55).
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raf: 55).
Allah SWT juga memerintahkan kita untuk senantiasa
berzikir kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
berzikir kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah ,
dzikir sebanyak-banyak nya.” (QS. Al Ahzab: 41)
dzikir sebanyak-banyak nya.” (QS. Al Ahzab: 41)
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allalh hati menjadi
tentaram.” (QS.Ar-Ra’d: 28)
mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allalh hati menjadi
tentaram.” (QS.Ar-Ra’d: 28)
Rasulullah SAW juga mengajarkan agar orang-orang yang berpuasa banyak
memanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam sebuah
haditsnya beliau pernah bersabda,
memanjatkan do’a, sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam sebuah
haditsnya beliau pernah bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ، -وَذَكَرَ
مِنْهُمْ- الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ – رواه الإمام أحمد والترمذي والنسائي وابن
ماجة.
مِنْهُمْ- الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ – رواه الإمام أحمد والترمذي والنسائي وابن
ماجة.
“Ada tiga macam orang yang tidak ditolak doanya; di
antaranya disebutkan, “orang yang berpuasa hingga ia berbuka.” (HR.
Ahmad, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).”
antaranya disebutkan, “orang yang berpuasa hingga ia berbuka.” (HR.
Ahmad, At-Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).”
Dari
An-Nu’man bin Basyir RA, dari Nabi SAW,
beliau bersabda:
An-Nu’man bin Basyir RA, dari Nabi SAW,
beliau bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ
العِبَادَةُ – رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن صحيح.
العِبَادَةُ – رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن صحيح.
“Doa
adalah Ibadah.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi. At Tirmidzi berkata:
hadits hasan shahih).
adalah Ibadah.” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi. At Tirmidzi berkata:
hadits hasan shahih).
Hendaknya setiap muslim memperbanyak zikir dan do’a di setiap waktu,
terutama pada bulan Ramadhan.
terutama pada bulan Ramadhan.
7. Taubat dan Istighfar
Ramadhan
adalah bulan penuh ampunan. Banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan Allah
SWT. Diantaranya adalah melalui taubat dan istighfar. Jika sebab-sebab ampunan
di bulan Ramadhan demikian banyak, maka orang yang tidak mendapatkan ampunan di
dalamnya adalah orang yang merugi. Kapan lagi kita mendapatkan ampunan-Nya,
jika tidak diampuni pada bulan ini?
adalah bulan penuh ampunan. Banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan Allah
SWT. Diantaranya adalah melalui taubat dan istighfar. Jika sebab-sebab ampunan
di bulan Ramadhan demikian banyak, maka orang yang tidak mendapatkan ampunan di
dalamnya adalah orang yang merugi. Kapan lagi kita mendapatkan ampunan-Nya,
jika tidak diampuni pada bulan ini?
Allah SWT
berfirman:
berfirman:
“Dan Dialah yang menerima taubat dari
hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
(Asy-syuura: 25).
hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
(Asy-syuura: 25).
“Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan
memohon ampun kepadaNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Maidah: 74).
memohon ampun kepadaNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Maidah: 74).
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An-Nur: 31).
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada
Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan
menghapus kesalahan-kesalahan dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8).
Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan
menghapus kesalahan-kesalahan dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir
di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8).
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang
bertaubat, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaaha: 82).
bertaubat, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar.” (Thaaha: 82).
Rasulullah SAW bersabda,
يَاأَيُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ
وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِيْ اليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ – رواه مسلم.
وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّيْ أَتُوْبُ فِيْ اليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ – رواه مسلم.
“Wahai
sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya,
sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR.
Muslim).
sekalian manusia, bertaubatlah kepada Allah dan memohonlah ampun kepada-Nya,
sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR.
Muslim).
مَنْ تَابَ قَبْلَ
أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ – رواه مسلم.
أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللهُ عَلَيْهِ – رواه مسلم.
“Barangsiapa
bertaubat sebelum matahari terbit dari barat niscaya Allah menerima taubatnya.”
(HR.
Muslim).
bertaubat sebelum matahari terbit dari barat niscaya Allah menerima taubatnya.”
(HR.
Muslim).
Dari Ibnu
Abbas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
Abbas RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ
لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ
ضَيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ –
رواه أبو داود.
لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا وَمِنْ كُلِّ
ضَيْقٍ مَخْرَجًا وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ –
رواه أبو داود.
“Barangsiapa
senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya
kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya
rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud)
senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya
kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya
rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud)
8. Ith’am Ath-Tho’am, Infaq dan Shodaqah.
Allah SWT Maha Pemurah dan Dermawan kepada hamba-Nya. Kedermawanan-Nya
berlipat ganda pada waktu-waktu tertentu, seperti bulan Ramadhan. Dan,
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan. Kedermawanan beliau pada
bulan Ramadhan berlipat ganda daripada bulan-bulan lainnya, sebagaimana
kedermawanan Tuhannya berlipat ganda pada bulan ini.
berlipat ganda pada waktu-waktu tertentu, seperti bulan Ramadhan. Dan,
Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan. Kedermawanan beliau pada
bulan Ramadhan berlipat ganda daripada bulan-bulan lainnya, sebagaimana
kedermawanan Tuhannya berlipat ganda pada bulan ini.
Diriwayatkan
dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia
berkata:
dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radiyallahu anhuma, ia
berkata:
كَانَ
النَّبِيُّ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ
أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ، حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فَيُدَارِسُهُ
القُرْآنَ وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ،
فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَكَانَ رَسُوْلُ الله
حِيْنَ يَلْقَاهُ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِن الرِّيْحِ المُرْسَلَةِ
النَّبِيُّ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ
أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِيْ رَمَضَانَ، حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ فَيُدَارِسُهُ
القُرْآنَ وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ،
فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَكَانَ رَسُوْلُ الله
حِيْنَ يَلْقَاهُ أَجْوَدَ بِالخَيْرِ مِن الرِّيْحِ المُرْسَلَةِ
“Nabi SAW adalah orang yang
amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau
ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap
malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan
daripada angin yang berhembus.”
amat dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau
ditemui Jibril untuk membacakan padanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap
malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan padanya Al-Qur’an. Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam ketika ditemui jibril lebih dermawan dalam kebaikan
daripada angin yang berhembus.”
Allah memerintahkan agar kita berinfaq dan membelanjakan harta di
jalan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
jalan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Dan belanjakanlah (harta bendamu)
di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik.” (Al Baqarah: 195)
di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam
kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang berbuat baik.” (Al Baqarah: 195)
“Perumpamaan (nafkah yang
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 261)
dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah
serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki.
Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 261)
“Dan apa saja harta yang baik yang
kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan
janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah.” (Al Baqarah: 272)
kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan
janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah.” (Al Baqarah: 272)
“Dan barang apa saja yang kamu
nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang
sebaik-baiknya” (QS: Saba’: 39).
nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang
sebaik-baiknya” (QS: Saba’: 39).
Dalam hadits
Mu’adz RA Rasulullah SAW
bersabda:
Mu’adz RA Rasulullah SAW
bersabda:
الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ
الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الماَءُ النَّارَ وَقِيَامُ الرَّجُلِ فِيْ جَوْفِ
اللَّيْلِ
الخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الماَءُ النَّارَ وَقِيَامُ الرَّجُلِ فِيْ جَوْفِ
اللَّيْلِ
“Sedekah
dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air
memadamkan api.” (Hadits riwayat At Turmudzi dan
katanya: “hadits hasan shahih”)
dan shalat seseorang di tengah malam dapat menghapuskan dosa sebagaimana air
memadamkan api.” (Hadits riwayat At Turmudzi dan
katanya: “hadits hasan shahih”)
Pada bulan Ramadhan, orang yang bershadaqoh dengan ith’am ath-tho’an
(menyediakan makanan) untuk berbuka puasa atau sahur akan mendapatkan pahala
yang sangat baik di sisi Allah. Dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi SAW
beliau bersabda:
(menyediakan makanan) untuk berbuka puasa atau sahur akan mendapatkan pahala
yang sangat baik di sisi Allah. Dalam hadits Zaid bin Khalid dari Nabi SAW
beliau bersabda:
مَنْ
فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ
الصَّائِمِ شَيْءٌ –
رواه أحمد والترمذي.
فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ
الصَّائِمِ شَيْءٌ –
رواه أحمد والترمذي.
“Barangsiapa
memberi makan pada orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang
yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun dari pahalanya.” (HR.
Ahmad dan At Tirmidzi).
memberi makan pada orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala orang
yang berpuasa itu tanpa mengurangi sedikit pun dari pahalanya.” (HR.
Ahmad dan At Tirmidzi).
9.
Zakat Fithrah
Zakat Fithrah
Zakat Fithrah dibayar pada hari-hari terakhir ramadhan. Ia merupakan
kewajiban yang harus dipenuhi oleh seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun
perempuan, dewasa maupun anak-anak. Zakat fithrah ini dibayarkan dengan tujuan
untuk menyucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu kaum fakir
miskin.
kewajiban yang harus dipenuhi oleh seluruh umat Islam, baik laki-laki maupun
perempuan, dewasa maupun anak-anak. Zakat fithrah ini dibayarkan dengan tujuan
untuk menyucikan orang yang melaksanakan puasa dan untuk membantu kaum fakir
miskin.
Allah SWT berfirman:
“Ambillah zakat dari sebagian
harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS: At-Taubah: 103).
harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS: At-Taubah: 103).
“Hanyalah Zakat itu adalah buat
orang-orang fakir dan orang-orang miskin, para amilin, orang-orang muallaf,
budak belian yang akan dibebaskan, orang-orang yang diutang dan guna keperluan
di jalan Allah, serta orang-orang yang dalam perjalanan. Hal itu merupakan
suatu kewajiban dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.” (QS At-Taubah: 60).
orang-orang fakir dan orang-orang miskin, para amilin, orang-orang muallaf,
budak belian yang akan dibebaskan, orang-orang yang diutang dan guna keperluan
di jalan Allah, serta orang-orang yang dalam perjalanan. Hal itu merupakan
suatu kewajiban dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.” (QS At-Taubah: 60).
Dalam hadits Rasulullah SAW ditegaskan:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ
الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ
وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ
الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى
الصَّلَاةِ
قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ
الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ
وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ
الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى
الصَّلَاةِ
“Dari
Ibn Umar berkata bahwa Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak
satu sha’ kurma atau gandum, atas budak, orang merdeka, laki-laki, wanita
baikpun kecil maupun besar, dari golongan Islam. Dan beliau saw menyuruh
membagikan sebelum orang-orang pergi shalat ‘Ied.” (HR. Bukhori dan
Muslim)
Ibn Umar berkata bahwa Rasulullah saw telah mewajibkan zakat fitrah sebanyak
satu sha’ kurma atau gandum, atas budak, orang merdeka, laki-laki, wanita
baikpun kecil maupun besar, dari golongan Islam. Dan beliau saw menyuruh
membagikan sebelum orang-orang pergi shalat ‘Ied.” (HR. Bukhori dan
Muslim)
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ: “فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ
اْلفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً
لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ،
وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ”.
[رواه أبو داود]
قَالَ: “فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ
اْلفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً
لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ،
وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ”.
[رواه أبو داود]
“Diriwayatkan
dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri untuk
mensucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan porno dan
sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa membayarkannya sebelum
shalat (Hari Raya) maka itu adalah zakat (fitri) yang diterima, dan barang
siapa membayarkannya setelah shalat maka itu hanyalah berupa sedekah dari
sedekah (biasa)”. [HR. Abu Dawud]
dari Ibn Abbas, ia berkata: “Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri untuk
mensucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan porno dan
sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barang siapa membayarkannya sebelum
shalat (Hari Raya) maka itu adalah zakat (fitri) yang diterima, dan barang
siapa membayarkannya setelah shalat maka itu hanyalah berupa sedekah dari
sedekah (biasa)”. [HR. Abu Dawud]
Penutup
Puasa yang
disyari’atkan adalah tidak sekedar menahan diri dari makan dan
minum. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
disyari’atkan adalah tidak sekedar menahan diri dari makan dan
minum. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan:
مَنْ لَمْ يَدَعْ
قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ –
رواه البخاري وأحمد وغيرهما.
قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ
طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ –
رواه البخاري وأحمد وغيرهما.
“Barangsiapa
tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh
terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan
lainnya).
tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh
terhadap puasanya dari makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari, Ahmad dan
lainnya).
Dalam
hadits lain dikatakan:
hadits lain dikatakan:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ
مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطْشُ –
رواه أحمد وهو حديث صحيح.
مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطْشُ –
رواه أحمد وهو حديث صحيح.
“Betapa
banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad, hadits hasan shahih)
banyak orang puasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad, hadits hasan shahih)
Ya Allah,
jadikanlah kami dan segenap umat islam termasuk orang yang puasa dan
mendapatkan kemuliaan bulan Ramadhan tahun ini, yang pahalanya sempurna, yang
mendapatkan Lailatul Qadar, yang beruntung menerima hadiah dari-Mu, dan meraih
derajat ketakwaan tertinggi di sisi-Mu. Wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan
kemuliaan.
jadikanlah kami dan segenap umat islam termasuk orang yang puasa dan
mendapatkan kemuliaan bulan Ramadhan tahun ini, yang pahalanya sempurna, yang
mendapatkan Lailatul Qadar, yang beruntung menerima hadiah dari-Mu, dan meraih
derajat ketakwaan tertinggi di sisi-Mu. Wahai Dzat Yang Memiliki keagungan dan
kemuliaan.






























