ADVERTISEMENT

Kulit jagung juga
bisa menjadi bahan baku pengganti plastik. Mohamad Fasiol menggunakannya
sebagai bahan baku dalam pembuatan gelas dan botol. Selain kualitasnya tak
kalah dengan bahan plastik, gelas atau botol bekas itu bisa diserap tanah dan
menjadi pupuk.
Permintaan gelas plastik terus meningkat dari tahun ke tahun. Maklum, banyak
produk barang-barang konsumsi yang menggunakan plastik sebagai bungkusnya.
Tengok saja, setiap gerai dari jenis booth hingga restoran yang menyediakan
minuman soda, teh, kopi, maupun sirup, memakai gelas plastik sebagai wadah.
Namun, tanpa disadari, proses pembuatan gelas dari plastik ini bisa
menghasilkan limbah berbahaya. Begitu juga sampah yang dihasilkan dari gelas
plastik lantaran tak bisa didaur ulang tanah.
Asal tahu saja, 10.000 gelas plastik berukuran 240 mililiter bisa membuat
tumpukan sampah 2 mยณ-3 mยณ. Meski daur ulang plastik banyak dilakukan, tak semua
sampah plastik itu bisa diolah kembali.
Mohamad Faisol, pemilik Mitradata Plastic Packaging, produsen plastik di
Surabaya, Jawa Timur, menyadari betul dampak negatif tersebut. Karena itulah,
dia mencoba bahan baku alternatif pengganti plastik, yakni kulit jagung dan
biji ketela.
Menurutnya, kedua bahan tersebut sangat cocok karena memiliki serat yang cukup
kuat. “Sebenarnya banyak sekali bahan yang bisa dipakai, namun yang
ekonomis dan tersedia dalam jumlah banyak adalah kulit jagung,” katanya.
Faisol mulai membuat gelas dari kulit jagung sejak tiga tahun silam. Namun,
lanjutnya, peminat gelas dari kulit jagung masih minim. Maklum, harga gelas
kulit jagung lebih mahal ketimbang gelas plastik.
Satu gelas dari kulit jagung berukuran 10 gram berharga Rp 600, sedangkan
bandrol gelas plastik hanya Rp 250. “Harga gelas kulit jagung belum bisa
bersaing,” katanya.
Alhasil, meski Faisol sudah mencoba memasarkan ke berbagai pihak, respon
konsumen masih minim. “Saya baru memasarkan 5.000 gelas,” ujarnya.
Artinya, dia hanya mendapatkan pemasukan sekitar Rp 3 juta dari gelas kulit
jagung itu.
Lain halnya dengan gelas berbahan plastik. Sebagai produsen gelas plastik, dia
bisa menjual sekitar satu juta gelas setiap bulan. Omzet dari penjualan gelas
plastik tersebut mencapai Rp 250 juta setiap bulan. “Pembelinya 80%
produsen minuman teh,” kata Faisol. Untuk mempromosikan gelas kulit
jagungnya, Fasiol menyebarkan contoh ke sebagian besar produsen consumer
goods. Mulai dari yang skala kecil hingga berskala multinasional. Bahkan,
produk sampel itu tak hanya berupa gelas, tapi juga berbentuk botol. “Saya
juga menawarkan dalam bentuk setengah jadi ke produsen boneka. Biar mereka
mengolah sendiri,” tuturnya.
Kualitas gelas maupun botol dari kulit jagung tidak kalah bagus dengan gelas
yang terbuat dari plastik. Selain antibocor, penampilan gelas dari kulit jagung
ini juga menawan. Karena, sisi luar gelas tetap bisa didesain atau dibubuhi
merek-merek tertentu dengan cara di-print alias dicetak.
Hanya, proses pembuatan gelasnya membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu
sekitar tiga pekan. Pasalnya, kulit jagung harus melalui beberapa tahapan
proses. Mulai dari dihancurkan hingga menjadi biji kulit jagung yang sama
seperti biji plastik. “Kalau sudah menjadi biji seperti biji plastik
proses pembuatannya sama seperti gelas plastik,” katanya.
Tak hanya proses pembuatan yang mirip, mesin yang digunakan pun sama seperti
mesin pembuat gelas plastik. Yang paling penting, ketika menjadi sampah, gelas
dari kulit jagung bisa diserap tanah dan menjadi pupuk.
Menurut Faisol, di negara lain, terutama di negara maju, sebagian besar
produsen consumer goods sudah beralih menggunakan kulit jagung sebagai
pengganti plastik. Bahkan, lanjut dia, Taiwan sudah mulai menggunakan kulit
jagung untuk membuat gelas plastik. “Gelas kulit jagung Taiwan sudah
diekspor ke Amerika,” katanya.
Fasiol berharap produsen consumer goods di negeri ini juga mulai mau
menggunakan alternatif pengganti selain plastik. Semakin cepat, tentu akan kian
baik. (*/Kontan)
bisa menjadi bahan baku pengganti plastik. Mohamad Fasiol menggunakannya
sebagai bahan baku dalam pembuatan gelas dan botol. Selain kualitasnya tak
kalah dengan bahan plastik, gelas atau botol bekas itu bisa diserap tanah dan
menjadi pupuk.
Permintaan gelas plastik terus meningkat dari tahun ke tahun. Maklum, banyak
produk barang-barang konsumsi yang menggunakan plastik sebagai bungkusnya.
Tengok saja, setiap gerai dari jenis booth hingga restoran yang menyediakan
minuman soda, teh, kopi, maupun sirup, memakai gelas plastik sebagai wadah.
Namun, tanpa disadari, proses pembuatan gelas dari plastik ini bisa
menghasilkan limbah berbahaya. Begitu juga sampah yang dihasilkan dari gelas
plastik lantaran tak bisa didaur ulang tanah.
Asal tahu saja, 10.000 gelas plastik berukuran 240 mililiter bisa membuat
tumpukan sampah 2 mยณ-3 mยณ. Meski daur ulang plastik banyak dilakukan, tak semua
sampah plastik itu bisa diolah kembali.
Mohamad Faisol, pemilik Mitradata Plastic Packaging, produsen plastik di
Surabaya, Jawa Timur, menyadari betul dampak negatif tersebut. Karena itulah,
dia mencoba bahan baku alternatif pengganti plastik, yakni kulit jagung dan
biji ketela.
Menurutnya, kedua bahan tersebut sangat cocok karena memiliki serat yang cukup
kuat. “Sebenarnya banyak sekali bahan yang bisa dipakai, namun yang
ekonomis dan tersedia dalam jumlah banyak adalah kulit jagung,” katanya.
Faisol mulai membuat gelas dari kulit jagung sejak tiga tahun silam. Namun,
lanjutnya, peminat gelas dari kulit jagung masih minim. Maklum, harga gelas
kulit jagung lebih mahal ketimbang gelas plastik.
Satu gelas dari kulit jagung berukuran 10 gram berharga Rp 600, sedangkan
bandrol gelas plastik hanya Rp 250. “Harga gelas kulit jagung belum bisa
bersaing,” katanya.
Alhasil, meski Faisol sudah mencoba memasarkan ke berbagai pihak, respon
konsumen masih minim. “Saya baru memasarkan 5.000 gelas,” ujarnya.
Artinya, dia hanya mendapatkan pemasukan sekitar Rp 3 juta dari gelas kulit
jagung itu.
Lain halnya dengan gelas berbahan plastik. Sebagai produsen gelas plastik, dia
bisa menjual sekitar satu juta gelas setiap bulan. Omzet dari penjualan gelas
plastik tersebut mencapai Rp 250 juta setiap bulan. “Pembelinya 80%
produsen minuman teh,” kata Faisol. Untuk mempromosikan gelas kulit
jagungnya, Fasiol menyebarkan contoh ke sebagian besar produsen consumer
goods. Mulai dari yang skala kecil hingga berskala multinasional. Bahkan,
produk sampel itu tak hanya berupa gelas, tapi juga berbentuk botol. “Saya
juga menawarkan dalam bentuk setengah jadi ke produsen boneka. Biar mereka
mengolah sendiri,” tuturnya.
Kualitas gelas maupun botol dari kulit jagung tidak kalah bagus dengan gelas
yang terbuat dari plastik. Selain antibocor, penampilan gelas dari kulit jagung
ini juga menawan. Karena, sisi luar gelas tetap bisa didesain atau dibubuhi
merek-merek tertentu dengan cara di-print alias dicetak.
Hanya, proses pembuatan gelasnya membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu
sekitar tiga pekan. Pasalnya, kulit jagung harus melalui beberapa tahapan
proses. Mulai dari dihancurkan hingga menjadi biji kulit jagung yang sama
seperti biji plastik. “Kalau sudah menjadi biji seperti biji plastik
proses pembuatannya sama seperti gelas plastik,” katanya.
Tak hanya proses pembuatan yang mirip, mesin yang digunakan pun sama seperti
mesin pembuat gelas plastik. Yang paling penting, ketika menjadi sampah, gelas
dari kulit jagung bisa diserap tanah dan menjadi pupuk.
Menurut Faisol, di negara lain, terutama di negara maju, sebagian besar
produsen consumer goods sudah beralih menggunakan kulit jagung sebagai
pengganti plastik. Bahkan, lanjut dia, Taiwan sudah mulai menggunakan kulit
jagung untuk membuat gelas plastik. “Gelas kulit jagung Taiwan sudah
diekspor ke Amerika,” katanya.
Fasiol berharap produsen consumer goods di negeri ini juga mulai mau
menggunakan alternatif pengganti selain plastik. Semakin cepat, tentu akan kian
baik. (*/Kontan)
Sumber : ciputraentreprenuerchip.com








