
Dalam setiap strategi pendanaan
perusahaan,direktur keuangan akan sangat memperhatikan cost of fund yang
diperolehnya.
Besarnya cost of fund akan sangat memengaruhi kelayakan suatu proyek. Walau pun
mempunyai tingkat pengembalian yang rendah, apabila didanai dengan cost of fund
yang lebih rendah, suatu proyek akan menguntungkan. Wajar jika para eksekutif
perusahaan berusaha semaksimal mungkin untuk terus menurunkan cost of fund.
Sumber pendanaan umumnya terdiri atas utang apa pun bentuknya dan ekuitas
pemegang saham.
Secara prinsip, pemegang saham memiliki risiko yang lebih besar dalam
pengembalian return yaitu ketika perusahaan dalam keadaan normal, pembayaran
bunga kepada pemberi pinjaman menjadi lebih utama ketimbang pembayaran dividen
kepada pemegang saham. Lalu dalam perusahaan dilikuidasi, pembayaran kembali ke
pemberi pinjaman akan didahulukan ketimbang pemegang saham.Dengan demikian,
pemegang saham akan menjadi yang terakhir dalam pengembalian return sehingga
wajar jika biaya ekuitas (cost of equity) akan lebih mahal dari biaya pinjaman
(cost of debt).
Dalam pengembangan usaha, banyak faktor yang perlu diperhitungkan selain cost
of fund. Salah satu yang utama adalah ego yang dalam banyak hal dapat menjadi
hal yang utama. Upaya menjadi yang terbesar dan terhebat sering merupakan hal yang
tidak dapat ditawar lagi sehingga apa pun yang harus dibayar menjadi urusan
belakangan.
Keputusan Acapkali Tidak Rasional
Teori keuangan tradisional sering berasumsi bahwa manusia akan selalu melakukan
tindakan yang rasional. Dalam kenyataannya, manusia merupakan makhluk normal
yang seringkali melakukan tindakan di luar batas rasional. Maka,teori
behavioral finance lebih suka menyebut normal investor ketimbang rational
investor.
Dalam berbagai pengambilan keputusan, banyak entrepreneur yang jika dipikir
dengan kemampuan manusia biasa dilihat sebagai mimpi di siang bolong yang tidak
mungkin tercapai. Namun,dengan segala upaya yang dilakukan ternyata acapkali
mimpi yang mustahil tersebut dapat terwujud. Lihat bagaimana Ciputra membangun
proyek properti besar di Hanoi di saat tidak ada investor yang melirik Vietnam.
Lalu keluarga Joseph Wibowo membangun Bina Nusantara dari hanya kursus komputer
di garasi mobil bisa menjadi universitas terkemuka serta duet Larry Page dan
Sergey Brin membesarkan Google menjadi salah satu perusahaan terkemuka di
dunia. Yang paling berbahaya adalah jika keputusan diambil berdasarkan ego
semata tanpa perhitungan yang matang. Hal yang terjadi kemudian mudah
diperkirakan, bukannya mencapai kejayaan,tapi perusahaan dapat tersungkur dan
mungkin tidak dapat kembali lagi.
Kepuasan Menjadi Segalanya
Seorang enterpreneur seringkali mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat orang
lain. Intuisi bisnisnya tercermin dari keyakinannya. Optimisme dan semangat
yang dimiliki sangat luar biasa. Seperti yang disebut John Ruskin,ย
“There is really no such things as bad weather, only different kinds of
good weather” Para entrepreneur terus berjuang keras untuk mewujudkan
impian mereka. Hanya yang bisa menjadi fatal apabila sebagian dari mimpi tersebut
telah terwujud.
Bisa timbul over-confidence yang bisa menyebabkan kekuranghati-hatian. Merasa
apa yang dikerjakan pasti berhasil. Kemudian cost of fund menjadi tidak relevan
lagi. Cost of prestigious menjadi jauh lebih berharga. Manusia selalu berpikir
untuk mencapai lebih tinggi dan lebih baik. Upaya akuisisi terus diupayakan
untuk menjadi lebih besar. Berapa pun biaya yang dikeluarkan menjadi kurang
relevan ketimbang target yang dituju. Pencapaian at any cost selalu dipandang
berhasil karena kepuasan dianggap sebagai priceless. Ketika kepuasan menjadi
segalanya, investasi yang tidak rasional sering menjadi pertanyaan banyak
pihak.
Perusahaan sering mengakuisisi perusahaan lain dengan menggunakan biaya yang
mahal. Investasi berlebihan dilakukan tanpa perhitungan matang. Secara
fundamental, analisis proyek tetap harus ditelaah serealistis mungkin.
Masalahnya adalah realistis satu orang bisa berbeda dengan yang lainnya.Tingkat
pengetahuan dan pengalaman seseorang akan menyebabkan level realistis yang berbeda.
Bagaimana para eksekutif kunci bisa menjaga keseimbangan antara realistis dan
keinginan menjadi besar atas alasan apa pun adalah kunci utama keberhasilan
perusahaan.
Boleh saja pemilik perusahaan bermimpi, namun mimpi tanpa dasar bisa membuat
frustrasi tiap pihak yang terlibat. Keberanian para profesional menyampaikan
pendapatnya dapat menyelamatkan perusahaan dari jurang yang lebih
dalam.Keinginan menginjak gas sekencangkencangnya tanpa mengetahui rute jalan
yang benar akan dapat menimbulkan kecelakaan fatal. Cost of prestiguospun harus
kembali ke perhitungan dasar untung rugi.
Jika biayanya terlalu besar, sebagus apa pun bisnis, tidak akan mampu bertahan.
Bagaimana bisa menjustifikasi investasi suatu proyek yang mengandalkan ego
dalam upaya menjadi yang terbesar? Bagaimana membuktikan bahwa investasi mahal
yang dibiayai oleh biaya dana tinggi tersebut berhasil? Time will tell. (*)
Ferdinand Sadeli CFA, CPA, Praktisi Keuangan
ย
Sumber : okezone.com
perusahaan,direktur keuangan akan sangat memperhatikan cost of fund yang
diperolehnya.
Besarnya cost of fund akan sangat memengaruhi kelayakan suatu proyek. Walau pun
mempunyai tingkat pengembalian yang rendah, apabila didanai dengan cost of fund
yang lebih rendah, suatu proyek akan menguntungkan. Wajar jika para eksekutif
perusahaan berusaha semaksimal mungkin untuk terus menurunkan cost of fund.
Sumber pendanaan umumnya terdiri atas utang apa pun bentuknya dan ekuitas
pemegang saham.
Secara prinsip, pemegang saham memiliki risiko yang lebih besar dalam
pengembalian return yaitu ketika perusahaan dalam keadaan normal, pembayaran
bunga kepada pemberi pinjaman menjadi lebih utama ketimbang pembayaran dividen
kepada pemegang saham. Lalu dalam perusahaan dilikuidasi, pembayaran kembali ke
pemberi pinjaman akan didahulukan ketimbang pemegang saham.Dengan demikian,
pemegang saham akan menjadi yang terakhir dalam pengembalian return sehingga
wajar jika biaya ekuitas (cost of equity) akan lebih mahal dari biaya pinjaman
(cost of debt).
Dalam pengembangan usaha, banyak faktor yang perlu diperhitungkan selain cost
of fund. Salah satu yang utama adalah ego yang dalam banyak hal dapat menjadi
hal yang utama. Upaya menjadi yang terbesar dan terhebat sering merupakan hal yang
tidak dapat ditawar lagi sehingga apa pun yang harus dibayar menjadi urusan
belakangan.
Keputusan Acapkali Tidak Rasional
Teori keuangan tradisional sering berasumsi bahwa manusia akan selalu melakukan
tindakan yang rasional. Dalam kenyataannya, manusia merupakan makhluk normal
yang seringkali melakukan tindakan di luar batas rasional. Maka,teori
behavioral finance lebih suka menyebut normal investor ketimbang rational
investor.
Dalam berbagai pengambilan keputusan, banyak entrepreneur yang jika dipikir
dengan kemampuan manusia biasa dilihat sebagai mimpi di siang bolong yang tidak
mungkin tercapai. Namun,dengan segala upaya yang dilakukan ternyata acapkali
mimpi yang mustahil tersebut dapat terwujud. Lihat bagaimana Ciputra membangun
proyek properti besar di Hanoi di saat tidak ada investor yang melirik Vietnam.
Lalu keluarga Joseph Wibowo membangun Bina Nusantara dari hanya kursus komputer
di garasi mobil bisa menjadi universitas terkemuka serta duet Larry Page dan
Sergey Brin membesarkan Google menjadi salah satu perusahaan terkemuka di
dunia. Yang paling berbahaya adalah jika keputusan diambil berdasarkan ego
semata tanpa perhitungan yang matang. Hal yang terjadi kemudian mudah
diperkirakan, bukannya mencapai kejayaan,tapi perusahaan dapat tersungkur dan
mungkin tidak dapat kembali lagi.
Kepuasan Menjadi Segalanya
Seorang enterpreneur seringkali mampu melihat apa yang tidak bisa dilihat orang
lain. Intuisi bisnisnya tercermin dari keyakinannya. Optimisme dan semangat
yang dimiliki sangat luar biasa. Seperti yang disebut John Ruskin,ย
“There is really no such things as bad weather, only different kinds of
good weather” Para entrepreneur terus berjuang keras untuk mewujudkan
impian mereka. Hanya yang bisa menjadi fatal apabila sebagian dari mimpi tersebut
telah terwujud.
Bisa timbul over-confidence yang bisa menyebabkan kekuranghati-hatian. Merasa
apa yang dikerjakan pasti berhasil. Kemudian cost of fund menjadi tidak relevan
lagi. Cost of prestigious menjadi jauh lebih berharga. Manusia selalu berpikir
untuk mencapai lebih tinggi dan lebih baik. Upaya akuisisi terus diupayakan
untuk menjadi lebih besar. Berapa pun biaya yang dikeluarkan menjadi kurang
relevan ketimbang target yang dituju. Pencapaian at any cost selalu dipandang
berhasil karena kepuasan dianggap sebagai priceless. Ketika kepuasan menjadi
segalanya, investasi yang tidak rasional sering menjadi pertanyaan banyak
pihak.
Perusahaan sering mengakuisisi perusahaan lain dengan menggunakan biaya yang
mahal. Investasi berlebihan dilakukan tanpa perhitungan matang. Secara
fundamental, analisis proyek tetap harus ditelaah serealistis mungkin.
Masalahnya adalah realistis satu orang bisa berbeda dengan yang lainnya.Tingkat
pengetahuan dan pengalaman seseorang akan menyebabkan level realistis yang berbeda.
Bagaimana para eksekutif kunci bisa menjaga keseimbangan antara realistis dan
keinginan menjadi besar atas alasan apa pun adalah kunci utama keberhasilan
perusahaan.
Boleh saja pemilik perusahaan bermimpi, namun mimpi tanpa dasar bisa membuat
frustrasi tiap pihak yang terlibat. Keberanian para profesional menyampaikan
pendapatnya dapat menyelamatkan perusahaan dari jurang yang lebih
dalam.Keinginan menginjak gas sekencangkencangnya tanpa mengetahui rute jalan
yang benar akan dapat menimbulkan kecelakaan fatal. Cost of prestiguospun harus
kembali ke perhitungan dasar untung rugi.
Jika biayanya terlalu besar, sebagus apa pun bisnis, tidak akan mampu bertahan.
Bagaimana bisa menjustifikasi investasi suatu proyek yang mengandalkan ego
dalam upaya menjadi yang terbesar? Bagaimana membuktikan bahwa investasi mahal
yang dibiayai oleh biaya dana tinggi tersebut berhasil? Time will tell. (*)
Ferdinand Sadeli CFA, CPA, Praktisi Keuangan
ย
Sumber : okezone.com
ADVERTISEMENT

























