Aopok – #Kebiasaan #berpikir #negatif atau #negative #thinking ternyata bukan hanya dapat #memengaruhi #suasana hati. Jika terjadi berulang kali dan #berlangsung dalam waktu lama, #pola #pikir #negatif juga dikaitkan dengan perubahan pada #fungsi #kognitif, termasuk kemampuan memori.
Hal ini kembali menjadi perhatian setelah dokter Adam Prabata membagikan informasi mengenai sebuah penelitian yang meneliti hubungan antara repetitive negative thinking (RNT) atau pola pikir negatif berulang dengan penurunan kemampuan kognitif serta sejumlah penanda biologis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.
Dalam unggahannya di akun X @AdamPrabata, ia menyoroti temuan penelitian tersebut dengan mengingatkan bahwa kebiasaan berpikir negatif secara terus-menerus perlu dikelola.
“Sering berpikir negatif bisa berujung pada penurunan kemampuan otak,” tulis Adam dalam unggahannya.

Baca: Bukan Direbus Lama, Ini 2 Cara Masak Pare agar Nutrisi Tetap Terjaga dan Tidak Terlalu Pahit
Apa Itu Negative Thinking?
Negative thinking merupakan pola berpikir yang cenderung berfokus pada hal-hal buruk, kekhawatiran, kegagalan, maupun kemungkinan negatif yang belum tentu terjadi.
Sementara itu, istilah repetitive negative thinking (RNT) mengacu pada pola pikiran negatif yang muncul secara berulang dan sulit dihentikan.
Dalam penelitian yang menjadi rujukan, RNT mencakup dua bentuk yang cukup umum, yaitu rumination dan worry.
Rumination adalah kecenderungan terus memikirkan kejadian buruk yang sudah terjadi. Sementara worry lebih banyak berkaitan dengan kekhawatiran berulang mengenai sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan.
Contohnya, seseorang terus memikirkan kesalahan yang dilakukan beberapa hari lalu, kemudian membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi akibat kesalahan tersebut.
Sesekali mengalami pikiran seperti ini merupakan hal yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Yang menjadi perhatian adalah ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus dan menjadi kebiasaan.
Negative Thinking Dikaitkan dengan Penurunan Fungsi Kognitif
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Alzheimer’s & Dementia pada 2020 meneliti hubungan antara RNT, perubahan kemampuan kognitif, serta sejumlah biomarker yang berkaitan dengan Alzheimer.
Penelitian tersebut melibatkan 292 orang dewasa yang secara kognitif masih tergolong normal dalam analisis perubahan kognitif. Sebagian peserta menjalani pemeriksaan PET untuk melihat penanda amyloid dan tau di otak. Peneliti juga menggunakan kelompok lain yang terdiri dari 68 orang untuk mereplikasi temuan terkait amyloid.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat RNT yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan kognisi global, termasuk memori jangka pendek maupun memori yang tertunda.
Artinya, orang yang lebih sering mengalami pola pikir negatif berulang dalam penelitian tersebut menunjukkan hubungan dengan perubahan kemampuan kognitif dari waktu ke waktu.
Namun, temuan ini perlu dipahami secara hati-hati.
Apakah Negative Thinking Bisa Menyebabkan Alzheimer?
Pertanyaan ini menjadi bagian penting dari pembahasan.
Penelitian tersebut menemukan hubungan atau asosiasi, bukan membuktikan bahwa berpikir negatif secara langsung menyebabkan penyakit Alzheimer.
Dengan kata lain, hasil penelitian tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seseorang yang sering berpikir negatif pasti akan mengalami Alzheimer.
Peneliti sendiri menyebutkan bahwa diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah mengurangi repetitive negative thinking benar-benar dapat menurunkan risiko Alzheimer.
Hal ini penting karena kesehatan otak dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak dapat dijelaskan hanya berdasarkan satu kebiasaan atau kondisi psikologis.
Ada Kaitannya dengan Amyloid dan Tau
Penelitian tersebut juga melihat sejumlah penanda biologis yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer, termasuk amyloid dan tau.
Pada kelompok penelitian, tingkat RNT yang lebih tinggi berhubungan dengan akumulasi amyloid yang lebih tinggi serta tau di bagian entorhinal cortex, salah satu wilayah otak yang berkaitan dengan proses awal penyakit Alzheimer.
Peneliti juga menemukan hubungan antara RNT dengan penurunan kognisi global serta memori langsung dan memori tertunda.
Temuan tersebut menjadi alasan mengapa repetitive negative thinking menarik perhatian para peneliti sebagai salah satu faktor yang perlu dipelajari lebih lanjut dalam kaitannya dengan kesehatan otak.
Baca: Apa Itu Etomidate? Zat dalam Vape yang Bikin Selebgram Jule Ditangkap Polisi
Negative Thinking Juga Berkaitan dengan Depresi dan Kecemasan
Dampak pola pikir negatif tidak hanya dibahas dalam konteks fungsi kognitif.
RNT juga berkaitan dengan gejala depresi dan kecemasan dalam penelitian tersebut.
Ketika seseorang terus memikirkan masalah, kegagalan masa lalu, atau kemungkinan buruk di masa depan, pikirannya dapat terus berada dalam kondisi penuh tekanan.
Jika berlangsung berkepanjangan, kebiasaan tersebut dapat mengganggu konsentrasi, kualitas tidur, produktivitas, hingga kesejahteraan psikologis.
Karena itu, mengelola pola pikir negatif bukan berarti seseorang harus selalu berpikir positif atau mengabaikan masalah. Yang lebih penting adalah belajar mengenali kapan pikiran negatif mulai berulang dan sulit dikendalikan.
Kenapa Overthinking Sering Terasa Melelahkan?
Salah satu alasan overthinking terasa melelahkan adalah karena pikiran terus kembali pada persoalan yang sama tanpa menghasilkan solusi yang jelas.
Seseorang dapat berulang kali memutar kembali percakapan, kesalahan, keputusan, atau kejadian tertentu dalam pikirannya.
Pada sisi lain, kekhawatiran juga dapat membuat seseorang terus membayangkan berbagai skenario buruk yang belum tentu terjadi.
Pola tersebut berbeda dengan proses berpikir untuk mencari solusi. Berpikir secara sehat dapat membantu seseorang mengevaluasi masalah dan menentukan tindakan, sedangkan repetitive negative thinking cenderung membuat pikiran berputar pada kekhawatiran atau kejadian negatif secara berulang.
Bagaimana Cara Mengurangi Kebiasaan Negative Thinking?
Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dicoba untuk membantu mengelola pola pikir negatif.
1. Kenali Pikiran yang Berulang
Cobalah menyadari ketika pikiran yang sama muncul berulang kali.
Tanyakan kepada diri sendiri apakah pikiran tersebut membantu menemukan solusi atau justru membuat semakin cemas.
2. Pisahkan Fakta dan Kekhawatiran
Tidak semua hal yang dipikirkan merupakan fakta.
Membedakan antara sesuatu yang benar-benar terjadi dan sesuatu yang hanya dikhawatirkan dapat membantu melihat masalah secara lebih objektif.
3. Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan
Daripada terus memikirkan kemungkinan buruk, fokuskan perhatian pada tindakan yang memang dapat dilakukan saat ini.
Langkah kecil yang nyata sering kali lebih bermanfaat dibandingkan terus memikirkan berbagai kemungkinan.
4. Beri Jeda pada Pikiran
Melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian, seperti berjalan kaki, berolahraga, membaca, melakukan hobi, atau berbicara dengan orang yang dipercaya, dapat membantu mengalihkan perhatian dari pikiran yang terus berulang.
5. Perhatikan Kualitas Tidur
Tidur yang cukup merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan secara keseluruhan, termasuk fungsi otak.
Jika pikiran negatif membuat seseorang sulit tidur secara terus-menerus, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
6. Cari Bantuan Profesional Jika Mengganggu Kehidupan
Jika kecemasan, pikiran negatif, atau overthinking sudah mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, tidur, maupun aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi pilihan.
Jangan Langsung Menyimpulkan Negative Thinking = Alzheimer
Informasi mengenai hubungan antara negative thinking dan kesehatan otak memang menarik perhatian, tetapi masyarakat sebaiknya tidak mengambil kesimpulan secara berlebihan.
Studi yang dirujuk menemukan asosiasi antara repetitive negative thinking dengan penurunan kognitif serta sejumlah biomarker Alzheimer, tetapi penelitian tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Bahkan, para peneliti menyatakan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah mengurangi RNT dapat benar-benar memengaruhi risiko Alzheimer.
Baca: Tren Gen Z Makan Camilan Kenyal untuk Diet, Benarkah Bisa Turunkan Berat Badan?
Dengan demikian, pesan penting dari penelitian ini bukan bahwa setiap orang yang sering berpikir negatif akan terkena Alzheimer. Sebaliknya, temuan tersebut menjadi alasan untuk semakin memperhatikan kesehatan mental dan kebiasaan berpikir.
Mengelola stres, menjaga kualitas tidur, tetap aktif secara fisik dan sosial, serta mencari bantuan ketika masalah psikologis mulai mengganggu aktivitas sehari-hari merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Jadi, jangan biarkan pikiran negatif terus berputar tanpa kendali. Bukan berarti setiap pikiran buruk harus dilawan, tetapi penting untuk mengenali kapan sebuah pikiran mulai berubah menjadi pola yang berulang dan mengganggu.





























