Aopok – #OrangTua perlu lebih #waspada ketika #melihat #perubahan pada #tubuh #anak, terutama jika muncul #pembengkakan secara tiba-tiba di sekitar #mata atau #kaki. Keluhan yang terlihat sederhana tersebut ternyata dapat menjadi salah satu tanda #sindrom nefrotik, yaitu kondisi yang berkaitan dengan gangguan fungsi #penyaringan #ginjal.

Baca: Ruben Onsu Klaim Punya ‘Kartu AS’ untuk Lawan Sarwendah di Persidangan
Sindrom nefrotik terjadi ketika glomerulus, bagian kecil pada ginjal yang berfungsi menyaring darah, mengalami gangguan sehingga protein dalam jumlah berlebihan keluar melalui urine. Hilangnya protein tersebut dapat menyebabkan kadar albumin dalam darah menurun dan cairan menumpuk di jaringan tubuh sehingga muncul pembengkakan atau edema.
Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian karena dapat disertai sejumlah keluhan lain dan berpotensi menimbulkan komplikasi apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Anak Usia Berapa yang Rentan Mengalami Sindrom Nefrotik?
Sindrom nefrotik dapat dialami siapa saja, tetapi pada anak kondisi ini paling sering pertama kali ditemukan pada usia sekitar 1 hingga 6 tahun. Kementerian Kesehatan juga mencatat bahwa sebagian besar kasus sindrom nefrotik pada anak tidak diketahui penyebab pastinya atau bersifat idiopatik.
Dalam kondisi tertentu, sindrom nefrotik juga dapat bersifat kongenital atau sudah terjadi sejak lahir. Jenis tersebut membutuhkan perhatian medis lebih lanjut karena dapat berkaitan dengan gangguan ginjal yang lebih berat.
Gejala Sindrom Nefrotik pada Anak
Menurut dokter spesialis anak dr. Reza Fahlevi yang dikutip Okezone, salah satu tanda awal yang perlu diperhatikan adalah munculnya pembengkakan, terutama di sekitar mata. Pembengkakan tersebut biasanya lebih terlihat pada pagi hari dan dapat berkembang ke bagian tubuh lainnya.
Berikut beberapa gejala yang perlu diketahui orang tua:
1. Mata dan Wajah Membengkak
Pembengkakan di sekitar mata menjadi salah satu tanda yang cukup khas. Pada awalnya, kondisi tersebut mungkin hanya terlihat ketika anak bangun tidur.
Seiring perkembangan kondisi, pembengkakan dapat semakin luas dan tidak hanya berada di sekitar mata.
Baca: Putri Anne Keluar dari Islam, Dea Annisa Berhijab setelah Menikah
2. Kaki, Tangan, dan Perut Membengkak
Edema dapat menyebar ke kaki, tangan, perut hingga area genital. Pembengkakan terjadi akibat penumpukan cairan di dalam jaringan tubuh.
Orang tua sebaiknya tidak menganggap pembengkakan yang tidak biasa sebagai keluhan ringan, terutama jika muncul bersamaan dengan perubahan urine.
3. Urine Berbusa
Urine yang terlihat lebih berbusa juga menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan tingginya kandungan protein di dalam urine atau proteinuria.
Jika perubahan urine berlangsung berulang atau disertai pembengkakan, anak sebaiknya diperiksakan ke dokter.
4. Jumlah Urine Berkurang
Selain perubahan tampilan urine, jumlah urine yang dikeluarkan anak juga dapat menurun. Oliguria atau produksi urine yang lebih sedikit merupakan salah satu keluhan yang dapat muncul pada sindrom nefrotik.
5. Berat Badan Naik Secara Signifikan
Kenaikan berat badan yang terjadi dalam waktu relatif singkat dapat disebabkan oleh penumpukan cairan, bukan semata-mata pertumbuhan atau bertambahnya massa tubuh.
Karena itu, perubahan berat badan yang tidak biasa sebaiknya diperhatikan, terutama apabila disertai pembengkakan pada tubuh.
6. Anak Menjadi Lemas dan Nafsu Makan Menurun
Pada kondisi yang berlanjut, anak dapat mengalami tubuh terasa lemas, nafsu makan menurun, bahkan sakit perut. Keluhan tersebut juga disebutkan sebagai gejala yang dapat menyertai sindrom nefrotik pada anak.
Apa Penyebab Sindrom Nefrotik pada Anak?
Sindrom nefrotik terjadi akibat gangguan pada glomerulus sehingga protein yang seharusnya tetap berada dalam darah justru keluar melalui urine.
Pada anak, sebagian besar kasus bersifat idiopatik atau penyebab pastinya tidak diketahui. Namun, sindrom nefrotik juga dapat berkaitan dengan faktor genetik atau kondisi medis tertentu, seperti infeksi, lupus, diabetes, hepatitis, HIV, maupun malaria.
Karena penyebabnya dapat berbeda pada setiap anak, pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui kondisi yang mendasarinya.
Bagaimana Sindrom Nefrotik Didiagnosis?
Jika anak menunjukkan gejala yang mengarah pada sindrom nefrotik, dokter dapat melakukan pemeriksaan fisik dan sejumlah pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan dapat mencakup tes urine untuk mengetahui keberadaan protein, pemeriksaan darah untuk menilai kadar albumin dan kondisi lainnya, serta evaluasi fungsi ginjal sesuai kebutuhan.
Menurut dr. Reza Fahlevi, orang tua yang menemukan tanda-tanda tersebut dianjurkan tidak menunda pemeriksaan. Anak dapat dibawa ke dokter spesialis anak atau dokter ginjal anak untuk mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Langkah terpenting ketika anak mengalami pembengkakan yang tidak biasa, urine berbusa, atau jumlah urine berkurang adalah segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Jangan memberikan obat sendiri tanpa petunjuk dokter. Penanganan sindrom nefrotik harus disesuaikan dengan kondisi dan penyebabnya.
Dalam perawatan sehari-hari, orang tua juga dapat membantu memantau berat badan, pembengkakan, jumlah urine, nafsu makan, serta kondisi umum anak. Pengaturan pola makan dan cairan juga sebaiknya dilakukan berdasarkan anjuran dokter atau ahli gizi. Kementerian Kesehatan menyebut pengaturan diet, pemantauan cairan, konsumsi obat secara teratur, serta kontrol sesuai anjuran sebagai bagian penting dalam perawatan anak dengan sindrom nefrotik.
Jangan Abaikan Mata Bengkak dan Urine Berbusa
Sindrom nefrotik pada anak memang membutuhkan perhatian serius, tetapi orang tua tidak perlu langsung panik ketika menemukan salah satu gejalanya. Yang paling penting adalah tidak mengabaikan perubahan yang muncul dan segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Pembengkakan di sekitar mata yang semakin meluas, urine berbusa, jumlah urine berkurang, kenaikan berat badan mendadak, lemas, atau nafsu makan menurun merupakan tanda yang sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter.
Diagnosis dan penanganan sejak dini dapat membantu dokter menentukan langkah perawatan yang sesuai serta memantau kemungkinan komplikasi.
Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan pemeriksaan atau diagnosis dokter. Jika anak mengalami gejala yang mengkhawatirkan, segera konsultasikan dengan dokter spesialis anak atau dokter ginjal anak.
























Comments 1