Aopok – #Kasus #love #scamming atau #penipuan #berkedok #hubungan #asmara menjadi #perhatian karena #modus ini tidak hanya #menyasar orang yang dianggap kurang #memahami #teknologi. #Perempuan berusia 45 hingga 60 tahun disebut menjadi salah satu kelompok yang banyak menjadi sasaran.
Fenomena tersebut menarik perhatian karena korban love scamming tidak selalu memiliki tingkat pendidikan rendah atau kurang memahami dunia digital. Bahkan, seseorang dengan pendidikan dan kecerdasan yang baik tetap dapat terjebak ketika pelaku berhasil membangun hubungan emosional yang kuat.

Apa Itu Love Scamming?
Love scamming merupakan modus penipuan yang memanfaatkan hubungan romantis dan kedekatan emosional untuk memperoleh keuntungan dari korban. Pelaku biasanya terlebih dahulu membangun komunikasi secara intensif melalui media sosial, aplikasi kencan, maupun platform komunikasi lainnya.
Pada tahap awal, pelaku dapat memberikan perhatian, pujian, dan menunjukkan kepedulian secara terus-menerus. Tujuannya adalah menciptakan rasa percaya sehingga korban merasa memiliki hubungan khusus dengan pelaku.
Setelah hubungan emosional semakin kuat, pelaku biasanya mulai mengarahkan pembicaraan pada masalah keuangan. Permintaan bantuan dapat dikemas dengan berbagai alasan, seperti kebutuhan mendesak, masalah pekerjaan, biaya perjalanan, keadaan darurat, hingga peluang investasi.
Mengapa Usia 45-60 Tahun Banyak Menjadi Sasaran?
Psikolog Klinis Dewasa Hersa Aranti menjelaskan bahwa usia 45 tahun ke atas merupakan fase kehidupan yang sangat beragam. Pada usia tersebut, seseorang umumnya telah memasuki kehidupan yang lebih stabil dan mapan.
Menurut Hersa, kondisi kehidupan yang sudah relatif menetap dapat membuat seseorang merasakan perubahan dalam kehidupan emosionalnya. Hal tersebut kemudian dapat dimanfaatkan pelaku untuk membangun kedekatan secara intensif.
โDi usia 45 tahun ke atas, sudah berada di usia yang beragam dan variatif hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya. Biasanya sudah tidak muda lagi, tidak banyak sparks atau hal-hal yang berwarna. Sudah berada di usia yang lebih settle dan stabil,โ ujar Hersa dalam acara Morning Zone yang tayang di YouTube Okezone.
Kondisi tersebut bukan berarti semua orang berusia 45-60 tahun mudah tertipu. Faktor yang membuat seseorang rentan jauh lebih kompleks, termasuk kebutuhan akan perhatian, kedekatan emosional, kondisi kehidupan, serta cara pelaku memanipulasi perasaan korban.
Korban Tidak Selalu Tidak Menyadari Adanya Kejanggalan
Salah satu hal yang membuat love scamming sulit dikenali adalah kemampuan pelaku memainkan emosi korban.
Dalam beberapa kondisi, korban sebenarnya dapat menyadari adanya sesuatu yang tidak wajar. Namun, keterikatan emosional yang sudah terbentuk membuat korban tetap mempertahankan komunikasi.
Pelaku biasanya tidak langsung meminta uang sejak awal. Mereka terlebih dahulu menciptakan kepercayaan dan membuat korban merasa dihargai, diperhatikan, serta dibutuhkan.
Karena itu, ketika permintaan bantuan finansial muncul, korban dapat merasa memiliki kewajiban untuk membantu seseorang yang dianggap sebagai pasangan atau orang terdekat.
Pendidikan Tinggi Bukan Jaminan Terhindar dari Love Scamming
Love scamming juga menunjukkan bahwa kemampuan akademis dan kecerdasan bukan satu-satunya faktor yang menentukan seseorang dapat terhindar dari penipuan.
Manipulasi emosional bekerja dengan cara berbeda dibandingkan penipuan yang hanya mengandalkan informasi palsu. Pelaku berusaha membuat korban mengambil keputusan berdasarkan perasaan dan kepercayaan yang telah dibangun.
Semakin kuat hubungan emosional yang terbentuk, semakin sulit korban mengambil jarak dan menilai situasi secara objektif.
Waspadai Love Bombing
Salah satu pola yang perlu diperhatikan dalam hubungan daring adalah love bombing, yaitu pemberian perhatian, pujian, atau ungkapan kasih sayang secara berlebihan dalam waktu relatif singkat.
Psikolog Hersa Aranti sebelumnya juga mengingatkan bahwa kecepatan munculnya perhatian dan perasaan dalam sebuah hubungan perlu diperhatikan. Hubungan yang sehat pada umumnya membutuhkan proses untuk berkembang, bukan langsung dipenuhi dengan perhatian berlebihan sejak awal.
Love bombing tidak selalu berarti seseorang pasti melakukan penipuan. Namun, apabila perhatian yang sangat intens disertai tekanan, permintaan uang, atau berbagai alasan yang membuat korban harus segera memberikan bantuan, situasi tersebut patut diwaspadai.
Baca: Viral MUA Asal Probolinggo Kena Tipu Modus QRIS Saat Dapat Job Pertama, Saldo Rp1 Juta Raib
Ciri-Ciri Love Scamming yang Perlu Diwaspadai
Ada sejumlah tanda yang dapat menjadi peringatan ketika seseorang menjalin hubungan dengan kenalan baru di internet.
Pertama, pelaku terlalu cepat mengungkapkan perasaan atau menganggap korban sebagai pasangan meskipun baru berkenalan.
Kedua, pelaku sering memberikan perhatian secara berlebihan sehingga korban merasa menjadi sosok yang sangat penting dalam hidupnya.
Ketiga, pelaku menghindari pertemuan langsung dengan berbagai alasan. Bahkan, ketika sudah lama berkomunikasi, identitas atau kehidupan pribadi pelaku tetap sulit diverifikasi.
Keempat, pembicaraan mulai mengarah pada persoalan keuangan. Pelaku dapat mengaku sedang mengalami masalah dan membutuhkan bantuan.
Kelima, korban didorong untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tidak diberi kesempatan untuk memeriksa informasi atau meminta pendapat keluarga maupun orang terdekat.
Jangan Mudah Mengirim Uang kepada Kenalan Online
Salah satu langkah penting untuk mencegah love scamming adalah tidak terburu-buru memberikan uang kepada seseorang yang baru dikenal melalui internet.
Identitas dan cerita yang diberikan oleh orang tersebut perlu diverifikasi secara mandiri. Foto profil, pekerjaan, tempat tinggal, maupun kisah pribadi yang disampaikan di internet tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya.
Jika seseorang mulai meminta uang dengan alasan darurat, sebaiknya jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan rasa kasihan atau kedekatan emosional.
Berbicara dengan keluarga atau teman yang dipercaya juga dapat membantu melihat situasi secara lebih objektif. Orang yang berada di luar hubungan emosional biasanya lebih mudah melihat tanda-tanda yang mungkin terlewatkan oleh korban.
Love Scamming Bisa Menimpa Siapa Saja
Fenomena love scamming menjadi pengingat bahwa penipuan berbasis hubungan emosional dapat menimpa siapa saja, termasuk orang yang berpendidikan dan memiliki pengalaman menggunakan teknologi.
Kelompok usia 45-60 tahun memang disebut dalam laporan ini sebagai kelompok yang banyak menjadi sasaran, tetapi bukan berarti kelompok usia lain terbebas dari risiko.
Kunci pencegahannya adalah menjaga kewaspadaan, tidak mudah percaya pada identitas yang hanya dikenal secara daring, serta tidak mencampurkan hubungan romantis yang belum terverifikasi dengan urusan keuangan.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat seharusnya dibangun melalui kepercayaan yang tumbuh secara bertahap. Perhatian dan kasih sayang tidak seharusnya digunakan sebagai alasan untuk memaksa seseorang memberikan uang atau mengambil keputusan finansial.
Sumber: Okezone, berdasarkan penjelasan Psikolog Klinis Dewasa Hersa Aranti dalam program Morning Zone.




























