jelas menempatkan manusia sebagai motor dan subjek pembangunan. Dalam proses pembangunan
manusia atau masyarakat bukan hanya sebagai objek pembangunan, akan tetapi
berperan penting sebagai subjek pembangunan itu sendiri. Artinya proses
pembangunan harus melibatkan peran aktif masyarakat. Dengan perspektif ini,
pembangunan pada saat yang yang bersamaan harus diarahkan guna memberdayakan
masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Menempatkan manusia
sebagai subjek pembangunan, berarti mengarahkan pembangunan untuk memenuhi
tujuannya yang paling utama yaitu pemberdayaan.

Model
pembangunan untuk pemberdayaan berimplikasi pada kreasi program kesejahteraan
yang tidak reaktif, tidak karikatif, dan tidak parsial. Program tersebut
menempatkan manusia sebagai motor perubahan dan kemajuan dan dipersiapkan
secara terencana, sistematis, dan komprehensif. Masyarakat secara agregat
memberikan kontribusi dalam pembangunan sehingga pembangunan merupakan
pekerjaan kolektif yang manfaatnya harus bisa dirasakan bersama secara merata
dan berkeadilan.
Pada era Orde
Baru, strategi pembangunan bertumpu kepada pengejaran efisiensi daripada
partisipasi. Saat itu perencanaan pembangunan dihadapkan kepada dua pilihan
strategi pembangunan yang dilematis: prioritas produktivitas atau prioritas
demokrasi. Keduanya dipandang bersifat “zero sum game”, artinya jika
yang satu dipilih yang satunya harus dipinggirkan. Pemerintah Orde Baru memilih
produktivitas dengan keyakinan demokrasi akan tercapai dengan sendirinya
tatkala produktivitas menghasilkan tingkat kemakmuran tertentu bagi rakyat,
seperti Jepang, Korea Selatan dan Singapura. Namun, strategi tersebut terbukti
gagal total. Pembangunan yang menekan partisipasi dan demokrasi bukan hanya
menyebabkan implosi (ledakan ke dalam) namun juga eksplosi (ledakan keluar).
Akibat riilnya adalah krisis yang berlangsung sejak 1997 yang disusul dengan
jatuhnya rejim Orde Baru.
berarti dengan demikian yang tersedia adalah pilihan demokrasi atau
partisipasi. Karena tuntutan produktivitas tetap menjadi urgensi dalam proses
pembangunan. Produktivitas adalah modal dasar pertumbuhan. The only sign of life is
growth, and the only sign of growth is speed (kalau negara
ingin tetap eksis maka harus tumbuh, dan kalau mau tumbuh harus cepat). Globalisasi juga menuntut
hal yang sama, there is only two thing left in the world: the quick
and the dead (jika negara ingin eksis harus serba-cepat). Di sisi lain,
partisipasi adalah harga yang sulit untuk ditawar karena partisipasi adalah
pondasi pembangunan agar memiliki manfaat yang optimal. Karena itu strategi
pembangunan yang paling akomodatif adalah pemberdayaan sumber daya manusia
(SDM).
diungkapkan, kunci kemenangan negara dalam kompetisi di era globalisasi adalah
pada kemampuannya mengelola dan memberdayakan SDM dalam menguasai sains dan
teknologi. Sejumlah negara maju atau negara yang diprediksi akan menjadi negara
maju menyadari hal ini dengan melakukan investasi SDM. Sebut saja
kemajuan dengan mendobrak politik pintu tertutup di zaman komunis menjadi
politik pintu terbuka sebagai respon dari globalisasi.
investasi SDM dengan mengembangkan budaya sains/akademik (scientific culture) yang sangat terencana.
the People’s Republic of China pada tahun 2002. Hasilnya, China sukses
mengurangi angka kemiskinan negaranya dalam kurun 20 tahun terakhir dari 65%
pada tahun 1981 menjadi 17% pada tahun 2001 (Mastuhu: 2007).
tercatat miskin atau minim sumber daya alam, namun dengan keahlian SDM yang
dimiliki dan penguasaannya atas sains dan teknologi mampu melejit dalam
kemajuan meninggalkan negara-negara dengan sumber daya alam yang melimpah
dengan SDM yang lemah. Jepang, negara-negara Skandinavia seperti Norwegia dan
Finlandia adalah beberapa contoh negara yang mampu mengelola SDM-nya dalam
mengembangkan Ekonomi Berbasis Pengetahuan (Knowledge-Based
Economy-KBE).
berteknologi (elektronik, mesin, robot, dan kendaraan). Norwegia terkenal dengan
produk ikan Salmon meski memiliki wilayah pesisir yang sangat terbatas dan
menjadi produsen minyak terbesar keenam di dunia. Finlandia melakukan investasi
riset nasional yang luar biasa, menerapkan teknologi komunikasi dan informasi
(ICT) hampir di semua lini, dan mengembangkan laboratorium masyarakat informasi
di Eropa. Pada masyarakat Finlandia terlihat ciri Masyarakat Berbasis
Pengetahuan (Knowledge Based Society). Finlandia juga selalu lekat dengan produk ICT
terkenal Nokia yang merajai pasar seluler dunia.
tersebut jelas membuktikan keunggulan SDM dalam penguasaan sains dan teknologi
serta kemampuannya mengembangkan KBE telah
mematahkan pendapat sumber daya alam sebagai landasan (utama) dari ekonomi (Resource Based Economyi). Maka,
sangat tepat pernyataan pakar manajemen dunia, Peter F. Drucker: Aset paling berharga bagi perusahaan pada
abad 21 ialah ilmu pengetahuan dan pekerja terdidik (knowledge worker). Pengetahuan telah menjadi modal bagi
pembangunan ekonomi, menggantikan sumber daya alam yang tidak dapat menjadi
andalan lantaran dapat terdepresiasi bahkan memunculkan perusakan lingkungan
yang ujungnya merugikan umat manusia.

































