
Di luar rangkaian proses “jadinya” Facebook yang ditata secara apik dengan ritme ciamik, baik sebagai situs maupun bisnis, setelah menyaksikan film ini secara keseluruhan, satu hal yang menjadi perhatian gw adalah kentalnya penggambaran hubungan persahabatan Mark dan Eduardo yang sangat riil—walau akhirnya kandas sih, sampe nuntut gitu. Mark begitu berhasrat membuat Facebook ini, dan ia hanya mau membuatnya bersama sahabatnya sendiri yang ia percayai. Dan, meski bukan menggeluti bidang komputer, Eduardo selalu suportif terhadap Mark dan proyeknya ini, termasuk dalam hal pendanaan. Eduardo bahkan sangat sabar dan santai menghadapi Mark yang orangnya “kayak gitu”—emm, tipe2 nerd yang lugas dan nyinyir ^_^;. Tetapi, ketika Mark menggandeng kreator situs unduh musik Napster, Sean Parker (Justin Timberlake), persahabatan mereka pun tiba pada tahap uji. Mark antusias dengan ide2 Parker, lain hal dengan Eduardo yg sejak awal tidak suka dengan perangainya. Tapi, Parker yg punya banyak koneksi penting, memberi Mark kesempatan membuat Facebook mendunia, menjangkau lebih banyak orang dan lebih inovatif, dengan mengubahnya dari sekedar “asyik” menjadi bisnis milyaran dolar. Entah sengaja atau tidak, lewat proses ini, lambat laun Mark dan Parker seakan menjauhkan keterlibatan Eduardo dalam Facebook. Demi bisnis, tentu ini tak masalah, karena Eduardo memang tidak terlibat secara teknis, pun masih terbilang culun di dunia bisnis informatika ini. Tetapi bagi persahabatan, ini jelas menyakitkan.
Meski tidak ditekankan secara jelas, satu kata yang menggambarkan kesan gw terhadap The Social Network adalah: betrayal. Mark membangkang dari “kesepakatan” dan “komitmen”nya dengan kembar Winklevoss dan Narendra. Ia pun seperti tidak mencegah kerugian yang dialami Eduardo seiring semakin besarnya Facebook. Akan tetapi, jika dipikir-pikir, melihat Facebook sebagaimana sekarang ini, digunakan bahkan bermanfaat bagi ratusan juta orang di seluruh dunia, apakah gw serta merta berani menghakimi bahwa “pengkhianatan” Mark itu for the wrong reason? Kembar Winklevoss dan Narendra bukanlah yang pertama menggagas situs jejaring sosial online di dunia ini, toh mereka cuma punya ide sebatas “eksklusif Harvard”. Dan Eduardo, meskipun terlihat didzalimi, face it, sejak Facebook pindah markas ke California kontribusinya memang nyaris tidak ada. But still, it hurts. A lot. Setiap pihak ada plus-minusnya. Jadi, jujur gw nggak sanggup berpihak sama siapapun di film ini. Siapa gue? =P
The Social Network gw nilai sebagai film yang bagus, namun bukan karena kata orang bagus atau banyaknya penghargaan yang diterimanya (di luar Oscar yg “cuma” dapet 3 =I). Film ini tampil dengan tata adegan dan karakterisasi yang believable namun lincah tanpa dibuat-buat, gambarnya adem dan sedap dipandang, aktingnya mantaps to the tapss (all thumbs up buat Jesse Eisenberg dan Andrew Garfield), tata musiknya beda dan menggugah, membungkus naskah yang dibangun dan disusun rapi penuh dialog cerdas dan sesekali jenaka. Film ini memang harusnya datar, namun emosi yang dihadirkan—paduan dari segala bidang, berimpact begitu nyata sehingga, buat gw at least, sama sekali nggak membosankan. Namun lebih dari itu, The Social Network sukses bikin gw peduli bahkan menghayati apa yang terjadi di dalamnya—terbukti gw bikin 4 paragraf hanya buat bahas ceritanya aja =D, padahal gw sendiri nggak ada tuh pengalaman2 seperti yang dialami tokoh2 di film ini, tapi entah kenapa demikianlah efek yang gw rasakan. Salah satu contohnya, miris juga ketika Eduardo tau Sean Parker cari investor di Los Angeles, ia bilang “Why did he set up meetings?”, padahal di New York ia mengusahakan susah payah hal yang sama (tanpa hasil), tapi Mark menembaknya dengan sarkas “Oh, how’s it going so far?”. Jleb…
The Social Network, terlepas dari “Facebook” sebagai gimmicknya, adalah drama manusia. Facebook hanyalah latar belakangnya (gw inget bagian tentang “Wall” dan “Tagging” yang cuman sekelabat aja disinggungya), tapi “bintang” dari film ini adalah manusia2 di sekitar penciptaan jejaring sosial terpopuler saat ini, yang terlepas dari keakuratan filmnya, pada dasarnya juga mengalami apa yang dialami manusia kebanyakan. Hasrat untuk jadi yang terbaik, atau sekedar berarti, yang kadang harus diwarnai dengan sakit hati. Ini film yang (anehnya) menyentuh tanpa harus terjebak melankoli. And that’s good =).
My score: 8/10

































![Koisuru Keigo 24 Ji (2024) Episode 01-09 Subtitle Indonesia [TAMAT] + [BATCH]](https://i0.wp.com/aopok.com/wp-content/uploads/2026/02/SaveTwitterNet_GA4HaqraYAAZeE7.jpg?fit=456%2C322&ssl=1)



