ADVERTISEMENT

Sebagian besar orang mungkin biasa mendengar sate kelinci.
Tapi, pernahkah Anda mendengar nugget kelinci? Saat ini sudah ada orang yang
terpikir untuk mengembangkannya.
Adalah Nuning, yang secara tidak sengaja mengawali bisnis nugget ini. “Awalnya
saya melihat di sepanjang Jalan Raya Puncak itu banyak yang menjual makanan
dari kelinci, seperti sate kelinci. Lama-lama saya terpikir, produk apa yang
belum diolah dari daging kelinci,” kisahnya.
Berbekal rasa ingin tahu itu lah, Nuning memulai bisnis nugget kelincinya.
Dikisahkannya, untuk membuat nugget kelinci itu tidaklah sulit. “Semuanya saya
kerjakan secara manual. Saya olah sendiri, belum dibuat secara massal dengan
mesin,” katanya.
Dengan cara tersebut, kata Nuning, dirinya bermaksud menekan biaya operasional,
dalam hal ini yaitu upah tenaga kerja. “Lagipula, saya saat ini masih menunggu
ijin produk nugget saya dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM). Kalau sudah keluar nanti, barulah saya berani berproduksi secara massal,”
katanya.
Lebih lanjut Nuning mengatakan, produk nuggetnya tersebut tidak hanya
dipasarkan di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga ke sejumlah daerah,
seperti Yogyakarta, Malang, dan Ambarawa. “Untuk sekali angkut, jumlahnya
bisa mencapai 100 kemasan per daerah. Dengan harga per kemasannya Rp 20 ribu,”
urainya.
Kendati demikian, dia mengakui untuk mengembangkan usahanya ini tidaklah mudah,
terutama karena selama ini kelinci identik sebagai hewan peliharaan.
“Terkadang saya mengalami kesulitan dalam meyakinkan calon konsumen untuk
membeli produk nugget saya. Karena, mereka umumnya merasa kasihan dengan
kelinci yang dijadikan nugget tersebut. Kan selama ini mereka mengenal kelinci
sebagai hewan peliharaan atau hiasan, bukan untuk dikonsumsi,” ujar ibu dua
anak ini.
Namun dia pun tak merasa kecil hati dengan anggapan kebanyakan orang tersebut.
Dia pun menganggap hal tersebut sebagai pemicu untuk lebih bisa meyakinkan
orang lain untuk mencoba produknya. “Saya sering bawa contoh nugget yang sudah
digoreng, agar calon pembeli teryakinkan,” ujarnya.
Ide pengembangan bisnis nugget ini, menurut Nuning sebenarnya tidak terlepas
dari peternakan kelinci yang mulai dirintisnya sejak dua tahun lalu. Saat ini
jumlah kelinci yang ada di peternakan itu sudah mencapai 1.000 ekor, terdiri
dari kelinci hias dan kelinci pedaging.
Padahal, pada awal dia merintis usaha ini, jumlah kelinci yang dimilikinya
hanya empat ekor. “Awal mula saya memulai bisnis kelinci ini karena saya suka
kelinci. Modal awal saya dulu cuma Rp1 juta,” kenangnya.
Oleh karena kelinci-kelinci itu berkembang biak, bahkan hingga 75 ekor anak
kelinci, dia akhirnya memutuskan untuk memindahkan sebagian kelinci-kelinci
tersebut ke lahan kosong miliknya di Cisarua, Bogor.
“Ketika belum lama sejak saya pindahkan ke Cisarua, ternyata ada orang yang
meminta saya untuk menyediakan kelinci sebanyak 100 ekor. Dari situlah saya
mulai terpikir untuk menjalankan bisnis kelinci ini,” katanya.
Dari bisnis kelinci tersebut, kini dia mampu meraup omzet Rp 50 juta per bulan
dengan marjin 20 persen per bulan. Untuk harga kelinci, dia mematok harga yang
bervariasi. Induk kelinci hias dihargainya mencapai Rp 1,5 juta per ekor,
sedangkan anak kelinci hias dihargai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu per ekor.
Sementara, untuk induk kelinci pedaging dihargainya Rp 100 ribu hingga Rp 150
ribu per ekor, sedangkan anak kelinci pedaging dihargai Rp 30 ribu per ekor.
“Dalam sebulan saya bisa menjual 150 ekor kelinci. Saya jual ke pengepul untuk
didistribusikan lagi ke penjual sate, bahkan ke tempat wisata, seperti Taman
Safari,” paparnya.
Tidak hanya itu, menurut Nuning, semua bagian dari kelinci itu bisa diolah
kembali. Misalnya, kotoran kelinci, yang dia jadikan sebagai pupuk. Selain itu,
kulit kelinci, yang dia olah menjadi kerupuk kulit. “Jadi tidak ada yang
tersisa dari seekor kelinci, semua bisa mendatangkan uang,” katanya.
Ditambahkannya, hingga saat ini, dia telah mempekerjakan 10 orang karyawan di
peternakan kelincinya di Cisarua yang luasnya mencapai 2.000 meter persegi.
Dari kisah suksesnya merintis bisnis kelinci ini, dia pun berpesan agar para
pemula bisnis ini menjalankan secara total. “Yang penting niat, jangan
setengah-setengah, dan harus ikhlas,” tandasnya. (*/Okezone)
Tapi, pernahkah Anda mendengar nugget kelinci? Saat ini sudah ada orang yang
terpikir untuk mengembangkannya.
Adalah Nuning, yang secara tidak sengaja mengawali bisnis nugget ini. “Awalnya
saya melihat di sepanjang Jalan Raya Puncak itu banyak yang menjual makanan
dari kelinci, seperti sate kelinci. Lama-lama saya terpikir, produk apa yang
belum diolah dari daging kelinci,” kisahnya.
Berbekal rasa ingin tahu itu lah, Nuning memulai bisnis nugget kelincinya.
Dikisahkannya, untuk membuat nugget kelinci itu tidaklah sulit. “Semuanya saya
kerjakan secara manual. Saya olah sendiri, belum dibuat secara massal dengan
mesin,” katanya.
Dengan cara tersebut, kata Nuning, dirinya bermaksud menekan biaya operasional,
dalam hal ini yaitu upah tenaga kerja. “Lagipula, saya saat ini masih menunggu
ijin produk nugget saya dikeluarkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan
(BPOM). Kalau sudah keluar nanti, barulah saya berani berproduksi secara massal,”
katanya.
Lebih lanjut Nuning mengatakan, produk nuggetnya tersebut tidak hanya
dipasarkan di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga ke sejumlah daerah,
seperti Yogyakarta, Malang, dan Ambarawa. “Untuk sekali angkut, jumlahnya
bisa mencapai 100 kemasan per daerah. Dengan harga per kemasannya Rp 20 ribu,”
urainya.
Kendati demikian, dia mengakui untuk mengembangkan usahanya ini tidaklah mudah,
terutama karena selama ini kelinci identik sebagai hewan peliharaan.
“Terkadang saya mengalami kesulitan dalam meyakinkan calon konsumen untuk
membeli produk nugget saya. Karena, mereka umumnya merasa kasihan dengan
kelinci yang dijadikan nugget tersebut. Kan selama ini mereka mengenal kelinci
sebagai hewan peliharaan atau hiasan, bukan untuk dikonsumsi,” ujar ibu dua
anak ini.
Namun dia pun tak merasa kecil hati dengan anggapan kebanyakan orang tersebut.
Dia pun menganggap hal tersebut sebagai pemicu untuk lebih bisa meyakinkan
orang lain untuk mencoba produknya. “Saya sering bawa contoh nugget yang sudah
digoreng, agar calon pembeli teryakinkan,” ujarnya.
Ide pengembangan bisnis nugget ini, menurut Nuning sebenarnya tidak terlepas
dari peternakan kelinci yang mulai dirintisnya sejak dua tahun lalu. Saat ini
jumlah kelinci yang ada di peternakan itu sudah mencapai 1.000 ekor, terdiri
dari kelinci hias dan kelinci pedaging.
Padahal, pada awal dia merintis usaha ini, jumlah kelinci yang dimilikinya
hanya empat ekor. “Awal mula saya memulai bisnis kelinci ini karena saya suka
kelinci. Modal awal saya dulu cuma Rp1 juta,” kenangnya.
Oleh karena kelinci-kelinci itu berkembang biak, bahkan hingga 75 ekor anak
kelinci, dia akhirnya memutuskan untuk memindahkan sebagian kelinci-kelinci
tersebut ke lahan kosong miliknya di Cisarua, Bogor.
“Ketika belum lama sejak saya pindahkan ke Cisarua, ternyata ada orang yang
meminta saya untuk menyediakan kelinci sebanyak 100 ekor. Dari situlah saya
mulai terpikir untuk menjalankan bisnis kelinci ini,” katanya.
Dari bisnis kelinci tersebut, kini dia mampu meraup omzet Rp 50 juta per bulan
dengan marjin 20 persen per bulan. Untuk harga kelinci, dia mematok harga yang
bervariasi. Induk kelinci hias dihargainya mencapai Rp 1,5 juta per ekor,
sedangkan anak kelinci hias dihargai Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu per ekor.
Sementara, untuk induk kelinci pedaging dihargainya Rp 100 ribu hingga Rp 150
ribu per ekor, sedangkan anak kelinci pedaging dihargai Rp 30 ribu per ekor.
“Dalam sebulan saya bisa menjual 150 ekor kelinci. Saya jual ke pengepul untuk
didistribusikan lagi ke penjual sate, bahkan ke tempat wisata, seperti Taman
Safari,” paparnya.
Tidak hanya itu, menurut Nuning, semua bagian dari kelinci itu bisa diolah
kembali. Misalnya, kotoran kelinci, yang dia jadikan sebagai pupuk. Selain itu,
kulit kelinci, yang dia olah menjadi kerupuk kulit. “Jadi tidak ada yang
tersisa dari seekor kelinci, semua bisa mendatangkan uang,” katanya.
Ditambahkannya, hingga saat ini, dia telah mempekerjakan 10 orang karyawan di
peternakan kelincinya di Cisarua yang luasnya mencapai 2.000 meter persegi.
Dari kisah suksesnya merintis bisnis kelinci ini, dia pun berpesan agar para
pemula bisnis ini menjalankan secara total. “Yang penting niat, jangan
setengah-setengah, dan harus ikhlas,” tandasnya. (*/Okezone)
Sumber : ciputraentreprenuerchip.com








