
Bioflok yang terbentuk dalam badan perairan tadi dapat dimanfaatkan oleh spesies lain sebagai pakan tambahan. Selain itu juga berfungsi sebagai pemurni (purifikasi) air di kolam dengan mengoksidasi bahan organik, melangsungkan nitrifikasi, dan membatasi pertumbuhan plankton. Secara umum bahan organik dalam air dioksidasi secara aerob oleh bakteri pembentukan bioflok menjadi gas CO2 dan H2O serta residu berupa massa sludge (flok) sesuai dengan nilai konversi dari senyawa organik tersebut.
Keuntungan secara ekologis yaitu penggunaan air sebagai media pemeliharaan dapat dihemat, penggantian air cukup dilakukan dua bulan sekali. Begitu juga substrat dasar tambak yang jauh lebih “bersih” dibandingkan dengan tambak tanpa aplikasi bioflok. Keuntungan dari sisi finansial pada tambak yang mengaplikasikan bioflok adalah memungkinkan diterapkannya kepadatan tinggi diatas 500-2500 ekor/m dengan FCR sampai 0,7.
Selain itu biaya penyediaan pakan akan lebih rendah sekitar 40% karena pada sistem ini, kandungan protein yang merupakan bahan pakan termahal, bukan prioritas. Pakan untuk budidaya sistem bioflok lebih diutamakan memiliki komposisi yang lengkap dan memiliki rasio C/N (sekitar 15%). Oleh karena itu teknologi bioflok mampu memangkas biaya produksi lele hanya Rp.6.000-7.000/kg, sedangkan dengan metode konvensional menghabiskan biaya Rp.10.000/kg sehingga mampu mendongkrak keuntungan pembudidaya ikan.
Kementrian BUMN telah memberikan bantuan untuk menunjang perekonomian pesantren dan nelayan pantura pada budidaya lele sistem bioflok di 100 desa. Kegiatan ini diproyeksikan sebagai backyard saat nelayan tidak melaut. Diharapkan kegiatan tersebut selain secara ekonomis mendukung program industrialisasi perikanan, sekaligus menyediakan sumber protein hewani yang murah bagi masyarakat.








