ADVERTISEMENT

Siapa yang tidak kenal dengan tempe?
Makanan ini diminati semua kalangan. Bagi masyarakat yang suka dengan makanan
yang terbuat dari kacang kedelai, dapat membeli secara langsung kepada
pengusaha tempe satu ini.
Pengusaha ini bernama Muslimin, berasal dari Jawa Tengah. Ia membuka usaha di
Jalan Puyuh, Pontianak. Dalam pembungkusan tempe yang dijual, ada dua pilihan.
Daun dan plastik.
Awalnya ia berjualan tempe, sebagai jembatan untuk menyambung hidup. Namun, ia
sekarang ini merasakan, bahwa pekerjaan itu menghasilkan banyak uang dan
membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Sebelum usaha itu dilakukan, dia membuka usaha membuat mie basah. Namun, usaha
yang dijalankan menemui kegagalan, karena konsumen yang membeli kurang dan
pendapatannya tidak menentu. Akhirnya, usaha itu tutup.
Akhirnya, ia mencoba membuat tempe. Dia pernah membuka usaha tempe di beberapa
kota. Seperti, Banjarmasin, Kupang, dan Balikpapan. Di tempat itu, dia juga dia
tidak berhasil. Akhirnya, karena tidak pekerjaan, ia merantau ke Pontianak pada
1987.
Di Kota Khatulistiwa ini, dia membuka usaha tempe dengan modal awal Rp25.000.
Dulu, uang Rp25.000 sangat besar jumlahnya, bila dibandingkan sekarang, karena
harga barang pada mahal semua.
Mengapa ia memilih Kota Pontianak, karena belum ada pengusaha tempe pada saat
itu, dan persaingan juga belum ada. Dari waktu ke waktu, permintaan tempe terus
meningkat. Kondisi ini secara langsung meningkatkan bahan produksi juga ikut
meningkat. Ini bisa diatasinya. Hasil produksinya dijual di beberapa tempat,
seperti Pasar Sentral, Pasar Dahlia, Siantan dan Sungai Raya. “Pasar-pasar
ini merupakan pelanggan tetap bagi saya,” katanya.
Untuk menambah modal produksinya, ia pernah mencoba meminjam dari salah satu
bank yang ada di Pontianak. Setelah ia mengajukan pinjaman yang menghabiskan
banyak waktu dan rumit, dan tidak mendatangkan hasil, akhirnya ada pihak swasta
yang mau bekerja sama dengannya. Kerja sama itu berlangsung hingga sekarang.
Untuk menambah hasil produksinya, dia harus membeli kacang kedelai dengan
jumlah banyak. Setelah adanya kerja sama dari pihak swasta yang memberikan
kacang kedelai, tanpa harus membayar terlebih dahulu. Pembayaran dilakukan
setelah tempe terjual.
Harga normal kacang kedelai dipasaran untuk 1 kg sebesar Rp6.250. Dia mengambil
dari pihak swasta seharga Rp6.900. Selisihnya Rp650. Walaupun demikian, ia
tetap bersyukur karena sampai sekarang, usahanya masih terus berjalan
dibandingkan dengan pengusaha tempe lain, yang sudah pada tutup karena
kehabisan modal.
Ia menjual harga satu keping tempe Rp6.000, untuk ukuran 1 kg. Dalam satu hari,
ia membutuhkan kacang kedelai sebanyak 350 kg. Hasil itu, bila diolah menjadi
135 keping tempe. Waktu yang diperlukan untuk jadi tempe empat hari.
Pendapatannya dalam satu bulan Rp3.500.000. Untuk sewa tempat usaha, ia harus
membayar Rp7.000.000 per tahun.
Sekarang ini, untuk membantu dalam pembuatan tempe, ia punya karyawan sebanyak
lima orang. “Dalam melakukan pengerjaan tempe harus bersih, tidak boleh
kotor, sebab kalau kotor atau airnya tidak bagus, maka tempe tidak akan
jadi,” kata Muslimin.
Agar para pembeli tidak pindah di tempat lain, dia selalu menjaga kualitas
pembuatan tempe. Misalnya, ia harus menjaga kebersihan dan menjaga kepercayaan,
baik itu kepada konsumen maupun kepada pihak swasta, yang telah bekerja sama
sampai sekarang.
“Kalau tidak menjaga semua itu, tidak mungkin usaha sampai sekarang masih
ada dan maju,” katanya.
Kendala yang dihadapi dalam pemasaran tidak ada. Kecuali, ada pinjaman dari
bank sampai sekarang, belum bisa dia dapatkan. Untuk mendapatkan
modal dalam jumlah besar memang sulit, dan persyaratannya juga banyak.
Untuk kedepannya, ia berharap pemerintah mau memperhatikan pengusaha tempe.
Dengan cara memberikan modal untuk mengembangkan usaha. (*/borneotribune)
Makanan ini diminati semua kalangan. Bagi masyarakat yang suka dengan makanan
yang terbuat dari kacang kedelai, dapat membeli secara langsung kepada
pengusaha tempe satu ini.
Pengusaha ini bernama Muslimin, berasal dari Jawa Tengah. Ia membuka usaha di
Jalan Puyuh, Pontianak. Dalam pembungkusan tempe yang dijual, ada dua pilihan.
Daun dan plastik.
Awalnya ia berjualan tempe, sebagai jembatan untuk menyambung hidup. Namun, ia
sekarang ini merasakan, bahwa pekerjaan itu menghasilkan banyak uang dan
membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Sebelum usaha itu dilakukan, dia membuka usaha membuat mie basah. Namun, usaha
yang dijalankan menemui kegagalan, karena konsumen yang membeli kurang dan
pendapatannya tidak menentu. Akhirnya, usaha itu tutup.
Akhirnya, ia mencoba membuat tempe. Dia pernah membuka usaha tempe di beberapa
kota. Seperti, Banjarmasin, Kupang, dan Balikpapan. Di tempat itu, dia juga dia
tidak berhasil. Akhirnya, karena tidak pekerjaan, ia merantau ke Pontianak pada
1987.
Di Kota Khatulistiwa ini, dia membuka usaha tempe dengan modal awal Rp25.000.
Dulu, uang Rp25.000 sangat besar jumlahnya, bila dibandingkan sekarang, karena
harga barang pada mahal semua.
Mengapa ia memilih Kota Pontianak, karena belum ada pengusaha tempe pada saat
itu, dan persaingan juga belum ada. Dari waktu ke waktu, permintaan tempe terus
meningkat. Kondisi ini secara langsung meningkatkan bahan produksi juga ikut
meningkat. Ini bisa diatasinya. Hasil produksinya dijual di beberapa tempat,
seperti Pasar Sentral, Pasar Dahlia, Siantan dan Sungai Raya. “Pasar-pasar
ini merupakan pelanggan tetap bagi saya,” katanya.
Untuk menambah modal produksinya, ia pernah mencoba meminjam dari salah satu
bank yang ada di Pontianak. Setelah ia mengajukan pinjaman yang menghabiskan
banyak waktu dan rumit, dan tidak mendatangkan hasil, akhirnya ada pihak swasta
yang mau bekerja sama dengannya. Kerja sama itu berlangsung hingga sekarang.
Untuk menambah hasil produksinya, dia harus membeli kacang kedelai dengan
jumlah banyak. Setelah adanya kerja sama dari pihak swasta yang memberikan
kacang kedelai, tanpa harus membayar terlebih dahulu. Pembayaran dilakukan
setelah tempe terjual.
Harga normal kacang kedelai dipasaran untuk 1 kg sebesar Rp6.250. Dia mengambil
dari pihak swasta seharga Rp6.900. Selisihnya Rp650. Walaupun demikian, ia
tetap bersyukur karena sampai sekarang, usahanya masih terus berjalan
dibandingkan dengan pengusaha tempe lain, yang sudah pada tutup karena
kehabisan modal.
Ia menjual harga satu keping tempe Rp6.000, untuk ukuran 1 kg. Dalam satu hari,
ia membutuhkan kacang kedelai sebanyak 350 kg. Hasil itu, bila diolah menjadi
135 keping tempe. Waktu yang diperlukan untuk jadi tempe empat hari.
Pendapatannya dalam satu bulan Rp3.500.000. Untuk sewa tempat usaha, ia harus
membayar Rp7.000.000 per tahun.
Sekarang ini, untuk membantu dalam pembuatan tempe, ia punya karyawan sebanyak
lima orang. “Dalam melakukan pengerjaan tempe harus bersih, tidak boleh
kotor, sebab kalau kotor atau airnya tidak bagus, maka tempe tidak akan
jadi,” kata Muslimin.
Agar para pembeli tidak pindah di tempat lain, dia selalu menjaga kualitas
pembuatan tempe. Misalnya, ia harus menjaga kebersihan dan menjaga kepercayaan,
baik itu kepada konsumen maupun kepada pihak swasta, yang telah bekerja sama
sampai sekarang.
“Kalau tidak menjaga semua itu, tidak mungkin usaha sampai sekarang masih
ada dan maju,” katanya.
Kendala yang dihadapi dalam pemasaran tidak ada. Kecuali, ada pinjaman dari
bank sampai sekarang, belum bisa dia dapatkan. Untuk mendapatkan
modal dalam jumlah besar memang sulit, dan persyaratannya juga banyak.
Untuk kedepannya, ia berharap pemerintah mau memperhatikan pengusaha tempe.
Dengan cara memberikan modal untuk mengembangkan usaha. (*/borneotribune)
Sumber : okezone.com










