ADVERTISEMENT

Di dunia modern sekarang ini, tidak ada
jaminan seorang sarjana mudah mendapat pekerjaan. Berbagai perusahaan semakin
selektif menerima karyawan. Persaingan makin tinggi. Ujung-ujungnya, mereka
yang tersisih malah menambah angka pengangguran.
Jika ditarik lebih dalam, tingginya angka pengangguran juga berkaitan dengan
paradigma kebanyakan mahasiswa yang berpikir untuk ”bekerja kepada orang
lain”. Setelah lulus, mereka sibuk melamar bekerja di mana-mana, bukan
berpikir untuk membuka usaha sendiri.
Pola pikir ini bukan datang tiba-tiba. Sejak kecil, orangtua kerap menjejali
pemikiran anaknya agar bercita-cita jadi pilot -misalnya- yang notabene bekerja
kepada orang lain. Bukan mengarahkannya menjadi pengusaha (bekerja kepada diri
sendiri dan untuk orang lain).
Memulai berbisnis sejak mahasiswa adalah sebuah pilihan. Apalagi jika ingin
meraih kesuksesan di bidang finansial lebih cepat. Modal bukanlah hambatan. Simak
pengakuan Harli Sadono dan Sonia Viviani. Sepasang kekasih ini hanya bermodal
Rp 1 juta untuk berjualan hardware komputer.
Ditemui di AMD Center, tokonya di Jalan Wonodri Krajan III/67, Semarang, Harli
mengaku memulai usahanya sejak kuliah, tepatnya tahun 2003. Semula hanya
menawarkan jasa kepada teman kuliah yang ingin membeli komputer. ”Waktu itu,
kita keliling dari toko ke toko, juga mendatangi sesama teman kuliah, untuk
menawarkan produk,” kata Harli.
Dua tahun kemudian, 2005, ia sudah punya toko sendiri. Kini AMD Center menjadi
distributor resmi dari Jakarta. Dengan laba bersih sekitar Rp 3 juta hingga Rp
5 juta per bulan, lulusan Sistem Informatika Udinus Semarang ini mampu membuka
lapangan kerja bagi teman-teman semasa kuliah.
”Yang penting jangan pantang menyerah. Meski berawal dari modal kecil, namun
karena yakin, usaha ini berkembang dengan pesat seperti sekarang.” (*/SM)
jaminan seorang sarjana mudah mendapat pekerjaan. Berbagai perusahaan semakin
selektif menerima karyawan. Persaingan makin tinggi. Ujung-ujungnya, mereka
yang tersisih malah menambah angka pengangguran.
Jika ditarik lebih dalam, tingginya angka pengangguran juga berkaitan dengan
paradigma kebanyakan mahasiswa yang berpikir untuk ”bekerja kepada orang
lain”. Setelah lulus, mereka sibuk melamar bekerja di mana-mana, bukan
berpikir untuk membuka usaha sendiri.
Pola pikir ini bukan datang tiba-tiba. Sejak kecil, orangtua kerap menjejali
pemikiran anaknya agar bercita-cita jadi pilot -misalnya- yang notabene bekerja
kepada orang lain. Bukan mengarahkannya menjadi pengusaha (bekerja kepada diri
sendiri dan untuk orang lain).
Memulai berbisnis sejak mahasiswa adalah sebuah pilihan. Apalagi jika ingin
meraih kesuksesan di bidang finansial lebih cepat. Modal bukanlah hambatan. Simak
pengakuan Harli Sadono dan Sonia Viviani. Sepasang kekasih ini hanya bermodal
Rp 1 juta untuk berjualan hardware komputer.
Ditemui di AMD Center, tokonya di Jalan Wonodri Krajan III/67, Semarang, Harli
mengaku memulai usahanya sejak kuliah, tepatnya tahun 2003. Semula hanya
menawarkan jasa kepada teman kuliah yang ingin membeli komputer. ”Waktu itu,
kita keliling dari toko ke toko, juga mendatangi sesama teman kuliah, untuk
menawarkan produk,” kata Harli.
Dua tahun kemudian, 2005, ia sudah punya toko sendiri. Kini AMD Center menjadi
distributor resmi dari Jakarta. Dengan laba bersih sekitar Rp 3 juta hingga Rp
5 juta per bulan, lulusan Sistem Informatika Udinus Semarang ini mampu membuka
lapangan kerja bagi teman-teman semasa kuliah.
”Yang penting jangan pantang menyerah. Meski berawal dari modal kecil, namun
karena yakin, usaha ini berkembang dengan pesat seperti sekarang.” (*/SM)
Sumber : okezone.com

























