
Chiffon cake. Cake yang selalu membuat saya ogah, enggan, malas, takut, sport jantung kala akan mencobanya. Entah sudah berapa banyak percobaan yang berakhir gagal, mulai dari cake bantat, cake melorot dan berpinggang, cake mengembang dan membumbung tinggi di luar loyangnya sehingga bentuknya menyerupai jamur super besar, hingga cake merekah seperti bolu kukus.ย Semua itu membuat minat saya untuk mengeksekusi chiffon cake ini akhirnya padam. Untuk apa dicoba? Menghabiskan bahan, waktu, tenaga dan pikiran untuk sebuah cake yang akhirnya toh akan gagal maning, gagal maning. Lebih baik tenaga ini digunakan untuk membuat cake lainnya yang super simple dan pasti wokeh hasilnya. Bahkan dorongan semangat dari teman-teman pembaca JTT agar saya mencobanya sekali lagi tak mampu membuat saya untuk bergeming.ย
Tapi
sampai kapan saya akan terus didera rasa ketakutan seperti ini? Sampai
kapan skill saya hanya terbatas pada resep-resep cake mudah yang
terkadang tantangannya pun sudah menghilang dan rasa happy ketika cake
matang keluar dari kukusan atau oven sudah tidak terasa lagi disana.
Greng-nya sudah tidak ada, karena yakin cake pasti berakhir dengan
sukses.ย Sabtu kemarin saya pun memutuskan untuk mengakhiri sifat
pengecut saya dan mulai mengkalkulasi kerugian yang akan saya terima
jika satu resep chiffon cake gagal. Hasilnya adalah zero. Yep nol,
karena sebenarnya saya tidak mengalami kerugian apa-apa (Ehem, kecuali
rasa percaya diri yang mungkin akan semakin down). Cake gagal toh masih
bisa dimakan. Chiffon cake gagal rasanya tetap lezat dan empuk. Selain
itu bukankah kegagalan merupakan awal dari sebuah kesuksesan? Walaupun
skor di posisi 4 : 0, yang artinya 4 gagal dan nol sukses,ย setidaknya
banyak pelajaran yang bisa saya petik dari pengalaman itu. Jadi saya pun
sekali lagi mencoba peruntungan saya membuatnya, kali ini harus
sukses karena akan saya hadiahkan untuk Ibu tercinta sebagai oleh-oleh
untuk dibawa pulang ke Paron. ^_^


Klik untuk baca selanjutnya…










