Baca: Jelajah Sumbawa (I): Sambutan Hangat dari Poto Tano
Sebelum tengah malam, langit bertabur bintang. Sementara dari arah panorama, kami melihat lampu-lampu dari kapal yang sedang berlayar dan perumahan di bawah sana. Ketika malam mulai benar-benar gelap, aku, Junisatya, Ry, dan Rara mencari posisi paling baik untuk memotret milky way. Yah, selama hunting milky way, Ry sampai mengunduh aplikasi milky way hunter. Bukannya mendapat arah milky way yang tepat untuk memotret, kami malah belajar beberapa rasi bintang yang kami temui dari balik kamera aplikasi milky hunter. Ada Aquarius, Libra, Scorpius, Aries, Scutum, Auriga, Orion, Cancer, Gemini, Pegasus, Pisces, Taurus, Capricornus, Leo, dan Sagittarius. Semua tampak nyata di langit malam itu. Meski bukan fotografer profesional, memotret milky way cukup bikin kami puas malam itu. Walaupun hasilnya nggak bagus-bagus amat. Langit benar-benar bersih tanpa awan. Begitu terus, bertahan hingga pagi.
View this post on Instagram
Sepanjang malam, aku mengecharge power bank dan lampu emergency kecil di pondok tak jauh dari tenda. Semua gadget kami harus dipenuhi daya listrik selagi bisa dan tersedia karena ada banyak petualangan yang kami alami setelahnya. Jadi, mumpung sang bapak penjaga camping ground menawarkan kebutuhan listrik meski cuma 2 colokan, lumayan untuk kami pakai bergantian. Hal ini layak untuk disyukuri, bukan?!
Kami makan malam dengan cahaya sangat minim tapi terasa nikmat walaupun cuma makan nasi pakai teri dan telur bulat. Bahkan nasi bungkus yang sudah kami bawa sebagai bekal malam ini benar-benar licin tandas. “Biasanya kalau nyokap gue masak beginian di rumah, gue nggak bakal makan. Paling makan seadanya. Kalau di sini, ini makanan mewah kita,” kelakar Rara yang kekenyangan cuma dengan dengan teri dan telur bulat tanpa sayur. Kami bernyanyi-nyanyi lirih untuk mengusir sepi. Malam itu cuma ada kami berempat. Bukit Mantar ramai pada akhir pekan saja dengan berbagai aktivitas. Kami bersyukur dapat merasakan ketenangan puncak bukit Mantar. Untungnya suhu tidak terlalu dingin. Kami bertahan duduk di luar tenda sampai pukul 11 malam. Setelah itu, masuk ke tenda masing-masing karena nggak ingin telat dapat momen fajar.



Â
View this post on Instagram
Aku terbangun pukul 5 subuh. Sungguh tidur yang nyenyak. Embun menyapa tenda kami. Terasa lembab kuraba dari dalam. Begitu keluar tenda, ada bulan sabit masih bertengger. Suara ayam terdengar akrab sekali, rupanya mereka sudah berkumpul di sekitar tenda. Ada beberapa anjing juga. Bahkan aku kaget saat mendengar ringkik kuda di balik pondokan tempat kami mengecharge power bank dan lampu emergency semalaman. Ada lapangan kecil di sana rupanya tempat kuda-kuda ditambatkan. Ada beberapa ekor kuda berwarna terang. Kok, semalam aku tak melihat mereka ya.





Kami sempat mengobrol dengan bapak penjaga camping ground, kalau mau mandi, kami bisa turun ke kampung. Hanya beberapa meter dari puncak, tinggal ikuti jalan menuju perkampungan Desa Mantar. Di sana memang ada toilet umum di sebelah sebuah empang. Namun, kami urung mandi. Pertimbangannya ya biar menghemat waktu juga. Hari itu kami akan menyeberang ke Pulau Kenawa dan mencelupkan diri ke lautan. Jadi, tak usah mandi tak apa. Aku sudah bawa stok tisu basah yang cukup banyak untuk bebersih badan. Kami sempat melihat-lihat perkampungan Desa Mantar. Suasana desa sangat meriah dengan umbul-umbul di depan rumah. Sepertinya mereka senang menyambut HUT RI sekaligus Idul Adha saat itu. Atau, malah senang kedatangan kami?




Begitu semua beres packing, kami menaikkan barang-barang ke atas pick up. Kami pun pamit kepada bapak penjaga camping ground ini, yang mengurusi peternakan ayam dan kuda di puncak Bukit Mantar. Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, kami pun melaju turun, kembali ke Pelabuhan Poto Tano. Malam itu kami akan kemah di Pulau Kenawa. Another place, another adventure.
Terima kasih, Mantar yang manis. Sampai ketemu lagi.
Things to do in Bukit Mantar
1. Kemping (kalau tidak bawa tenda, dapat menyewa tenda ke bapak penjaga camping ground yang aku ceritakan. Rumahnya tidak jauh dari area kemah)
2. Sunset Hunting
3. Milky Way Photograph Hunting
4. Sunrise Hunting
5. Berkuda (Ada hamparan padang tempat kuda ditambatkan)
6. Paralayang (Saat kami ke sana, tidak ada paket paralayang dibuka karena bukan akhir pekan)
7. Berjalan-jalan, jajan, dan sarapan pagi di Desa Mantar









