
kubilang di awal, The Gift memberikan pengalaman menonton yang cukup berbeda.
Bukan Cuma sekedar nonton ngeliatin visualisasi imajinasi karya sutradara, script writer dan krunya belaka, tapi juga membuat kita mengolah kepekaan
rasa yang tercipta dari visualisasinya, setiap detik scene-nya membuat kita me’rasa’ dan menggiring imajinasi sampai setara
dengan standarnya Hanung. Duhh… kuat
ka beurat kieu ⌣
adalah: aku buta, bukan mati rasa. Yha~ hahahahaha

luang bolehlah nonton The Gift, karena selain hal-hal diatas film ini akan membuat
kita ingin pergi mantai… sekedar untuk menikmati. Oh, iya kalau gampang
terharu jangan lupa siapin tissue, yakali
ntar nggak kerasa tiba-tiba brebes mili.
yang cociks + ada Hannah Al-Rasyid.







































