ul Haq, ekonom berkebangsaan
Barat yang sangat materialistik, yang serta-merta diterapkan dan diadopsi di
negara-negara berkembang. Paradigma pembangunan Barat yang materialistik itu ditandai
dengan ukuran pencapaian hasil pembangunan hanya dari aspek fisik dan ekonomi
semata, yang dikuantifikasi dalam perhitungan matematik dan angka statistik.
Hasil pembangunan adalah deretan simbol-simbol numerikal dalam tabel dan
grafik, yang melambangkan sukses pencapaian dimensi fisik dan materi. Tak
heran, bila pembangunan ini cenderung mengabaikan dimensi manusia sebagai
subyek utama pembangunan dan menegasikan harkat dan martabat kemanusiaan yang
paling hakiki. Haq menuangkan hasil renungannya itu dalam buku terkenal
berjudul: Reflections on Human Development (1995), yang sekaligus menandai pergeseran paradigma pembangunan
dari “national income accounting” ke “people-centered policy.” Kita
patut menyimak dengan saksama rumusan paradigma itu: “The human
development paradigm is concerned both with building up human capabilities through
investment in people and with using those human capabilities fully through an
enabling framework for growth and employment.”

Paradigma
ini mempunyai empat komponen esensial. Pertama, kesetaraan yang
merujuk pada kesamaan dalam memperoleh
akses ke sumber daya ekonomi dan politik yang menjadi hak dasar warga negara. Ini mensyaratkan
sejumlah hal yaitu: 1) distribusi aset-aset
ekonomi produktif secara adil; 2) distribusi pendapatan melalui perbaikan
kebijakan fiskal; 3) menata sistem
kredit perbankan untuk memberi kesempatan bagi kelompok kecil dan menengah dalam mengembangkan usaha; 4) menata
sistem politik demokratis guna menjamin hak dan kebebasan politik; 5) menata
sistem hukum guna menjamin tegaknya keadilan.
merujuk pada usaha-usaha sistematis yang bertujuan meningkatkan kegiatan ekonomi.
Upaya ini mensyaratkan investasi di bidang sumber daya manusia, infrastruktur,
dan finansial guna mendukung pertumbuhan ekonomi, yang berdampak terhadap
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Agar kapasitas produksi bisa maksimal,
maka investasi harus lebih difokuskan pada upaya peningkatan mutu SDM, yang
ditandai oleh peningkatan pengetahuan dan keterampilan serta penguasaan
teknologi. SDM berkualitas memainkan
peranan sentral dalam proses pembangunan suatu bangsa.
pada setiap upaya membangun kapasitas masyarakat dengan cara melakukan transformasi potensi
dan kemampuan, sehingga mereka memiliki kemandirian, otonomi, dan otoritas
dalam melaksanakan pekerjaan dan mengatasi permasalahan sosial. Dalam konteks
ini, pembangunan menempatkan manusia sebagai pusat segala perhatian yang
bertujuan bukan saja meningkatkan pertumbuhan dan pendapatan, melainkan juga
memperluas pilihan-pilihan publik (public choices) sehingga manusia
mempunyai peluang mengembangkan segenap potensi yang dimiliki.
merujuk pada strategi dalam mengelola dan merawat modal pembangunan: fisik, manusia, finansial, dan
lingkungan agar bisa dimanfaatkan guna mencapai tujuan utama pembangunan:
kesejahteraan rakyat. Untuk itu, penyegaran, pembaruan, dan pelestarian modal
pembangunan sangat penting dan perlu guna menjaga kesinambungan proses pembangunan di masa
depan.
paradigma pembangunan yang ditetapkan UNDP (1998) yang menekankan pada
pendekatan pembangunan manusia (human development approach) dengan
empat pilar pembangunannya, yaitu: 1) pemberdayaan
(empower) ; 2) keadilan (equity) ; 3) produktivitas (productivty),
dan 4) kesinambungan (sustainable). Aspek pemberdayaan diartikan
sebagai upaya untuk mendinamisir kelompok masyarakat yang mempunyai kapasitas
produktif tapi kurang kesempatan untuk akses pada lingkungan hidup dan usaha
yang bersifat moderen dengan tanpa harus menjadi korban tranpalasi nilai dan
kelembagaan asing. Kemudian, aspek keadilan atau pemerataan mengandung makna
tersedianya kesempatan yang merata, berimbang dan adil dalam pemanfaatan sumber
daya mereka guna peningkatan taraf hidupnya. Sedangkan, aspek produktivitas
diartikan sebagai upaya peningkatan peretumbuhan perekonomian yang harus ramah
terhadap tenaga kerja (employment-friendly growth). Akhirnya tentang
aspek kesinambungan, mengandung makna pentingnya kegiatan pembangunan diarahkan
pada penciptaan kondisi kegiatan yang berkembang sesuai dengan nilai-nilai
lokal dan kaidah-kaidah pembangunan yang berwawasan lingkungan untuk
pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan demi kesejahtera-an generasi mendatang.
paradigma pembangunan manusia kini menjadi tema sentral dalam wacana perdebatan
mengenai isu-isu pembangunan. Orientasi pembangunan pun bergeser dari sekadar
mencapai tujuan makroekonomi seperti peningkatan pendapatan nasional dan
stabilitas fiskal ke upaya memantapkan pembangunan sosial (societal
development). Paling kurang
ada enam alasan mengapa paradigma pembangunan manusia ini bernilai penting,
yaitu: 1) pembangunan bertujuan akhir meningkatkan harkat dan martabat manusia;
2) mengemban misi pemberantasan
kemiskinan; 3) mendorong peningkatan produktivitas secara maksimal dan meningkatkan kontrol atas
barang dan jasa; 4) memelihara konservasi alam (lingkungan) dan menjaga
keseimbangan ekosistem; 5) memperkuat basis civil society dan institusi
politik guna mengembangkan demokrasi; dan 6) merawat stabilitas sosial politik yang kondusif bagi implementasi
pembangunan (Kaushik Basu, 2002)
































