Seorang teman: “Ca, lo tugas akhir (TA) nya tentang apa?” | “Sampah di Bekasi.” | “Terus lo ke Bantagebang gitu? Pantesan tambah item.” #kezel
Supir taksi: “Neng, kerjanya di perusahaan apa?” | “Konsultan persampahan, Pak.” | “Hah? Baru nemu saya perempuan cantik-cantik ngurusin sampah. Kalau di sinetron kan perempuan biasanya jijikan sama yang kotor-kotor gitu.” | “Atulah Pak, sinetron drama gitu jangan dijadikan tolak ukur…”
Sebenarnya ada apa sih dengan sampah, sampai saya tertarik “berteman” sama doi?
Sebagian besar orang menghindari sampah: sampah itu bau, kotor, jorok. Asalnya dari berbagai sumber: barang yang sudah nggak dipakai, ya dibuang. Sisa makanan yang nggak habis, inginnya cepat-cepat masuk tempat sampah aja. Kertas-kertas kantor yang menuh-menuhin meja, mending dibersihkan dan langsung dihancurkan. Pokoknya, prinsip “Jagalah Kebersihan” dianut banget deh. Pernah terpikir nggak sih, kemana ya perginya sampah yang kita buang?
![]() |
| TPST Bantargebang (Dok. Pribadi, 2014) |
![]() |
| TPST Bantargebang (Dok. @BPBDJakarta) |
![]() |
| TPA Sumur Batu (Dok. Pribadi, 2013) |
Banyak ya, timbunan sampah kita?
![]() |
| Bandung Darurat Sampah 2005 (Sumber: sampahbandung.blogspot.com) |
![]() |
| Sungai Citarum (Dok. Daril Andrean) |
1. Re-think: Think before you buy, think before you use
Biasakan untuk memikirkan ulang saat kita akan membeli atau menggunakan sesuatu. Benar-benar butuh atau hanya impulsif? Akan terpakai kah? Kalau membeli material jenis ini, kalau sudah tidak terpakai, bisa didaurulang nggak ya?
- Kurangi kertas yang kalian print jika tidak benar-benar butuh, manfaatkan dokumen softcopy.
- Ganti kebiasaan menggunakan kantong plastik saat belanja dengan membiasakan bawa reusable bag atau shopping bag sendiri. Kalau belanjaan kita sedikit, bisa langsung dimasukkan ke tas juga. Jangan takut dituduh mencuri, kan punya bon belanjanya.
- Biasakan bawa botol minum sendiri. Selain supaya lebih sehat (katanya sih minum air putih harus 8 gelas sehari), juga menghemat uang jajan kita yang kadang terpakai untuk beli air minum dalam kemasan karena haus di jalan.
- Gunakan kertas di kedua sisinya. Salah ngeprint, jangan langsung dibuang. Bisa menghemat pembelian kertas juga lho.
- Sumbangkan barang yang sudah tidak kalian gunakan untuk orang yang membutuhkan. Daripada jadi sampah, mungkin banyak lembaga-lembaga yang bisa memanfaatkan barang bekas kalian.
Yuk, pilah sampah di rumah. Kenapa? Nanti kan diangkutnya dicampur lagi?
Saat ini, sudah banyak pemulung, lapak, dan bandar sampah yang berperan sebagai “sektor informal”, mengumpulkan sampah yang bernilai untuk didaur ulang. Ketika kalian memilah sampah kalian di rumah, material-material yang masih bernilai akan dapat didaurulang dengan baik. Contoh, ketika kalian memilah sampah sisa tulang ayam, potongan sayuran, kuah ikan dengan sampah kertas bekas skripsi, kalian mencegah sampah kertas bekas skripsi kalian terkontaminasi makanan. Ketika kertas sudah basah, lepek, dan bau, kertas itu tidak bisa didaurulang. Jadi, minimal pisahkanlah sampah makanan/sampah dapur dengan sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, kardus, dan sebagainya.
Lalu gimana dengan pengangkutannya?
Kalian bisa menyumbangkan sampah anorganik ke pemulung setempat. Pasti ada aja kok, pemulung yang lewat di komplek. Atau, kadang abang pengangkut sampah kita juga memisahkan sampah yang masih bernilai. Kalian bisa tetap menyerahkan sampah anorganik yang sudah kalian pisah ke abang pengangkut sampah, asal diberitahu kepada beliau bahwa sampah yang ini sudah dipisah dan siap jual. Mereka pasti senang karena memudahkan mereka dalam mendapatkan rezeki. Mereka nggak harus mengorek-ngorek sampah kita, mencegah lingkungan kita dari sampah yang berserakan juga, kan.
Di sini, saya hanya menyebutkan beberapa alternatif yang mudah dilakukan sehari-hari. Pastinya, masih banyak inovasi pengelolaan sampah – melibatkan berbagai pemangku kepentingan: pemerintah, pihak swasta, dan lain-lain. Tapi, tentunya semua itu nggak akan berhasil tanpa perubahan perilaku dari kita, masyarakat, sumber dari semua sampah itu berasal. Bonus untuk kalian yang mau tahu lebih detail tentang pengelolaan sampah Jakarta, berikut ini adalah hasil riset Waste4Change mengenai sampah Jakarta. Semoga bisa membuka mata kalian untuk mau mulai berubah ya. Yuk, mulai belajar mengubah perilaku kita, demi kualitas hidup yang lebih baik!













































