1.
Prestasi
Prestasi
Termasuk dalam
kategori ini adalah anak-anak yang memiliki karakter kuat, yang ditandai dengan
sikap mandiri, visioner, fokus di bidang akademik atau vokasional. Anak-anak
seperti ini secara konstan biasanya berprestasi menonjol di sekolah, sejak
kelas masuk sekolah sampai lulus sekolah. Pasang surut prestasinya tidak
terlalu signifikan.
ADVERTISEMENT
Anak-anak seperti ini
bisa masuk sekolah jenis apa saja, baik sekolah konvensional, unggulan atau
yang menyelenggarakan program khusus. Kesiapan mentalnya memungkinkan
beradaptasi secara dinamis dengan tuntutan akademik dan vokasional di jenjang
yang lebih tinggi.
bisa masuk sekolah jenis apa saja, baik sekolah konvensional, unggulan atau
yang menyelenggarakan program khusus. Kesiapan mentalnya memungkinkan
beradaptasi secara dinamis dengan tuntutan akademik dan vokasional di jenjang
yang lebih tinggi.
2.
Potensial
Potensial
Anak potensial adalah
anak-anak yang sebenarnya memiliki prestasi rata-rata di sekolah, tetapi
memiliki kesiapan mental yang cukup baik. Mereka adalah anak-anak yang sudah
mandiri, paham dengan tugas perkembangannya dan mampu membedakan yang baik dan
yang buruk, dan kecil kemungkinan akan terpangaruh sikap, perilaku dan perangai
negatif.
anak-anak yang sebenarnya memiliki prestasi rata-rata di sekolah, tetapi
memiliki kesiapan mental yang cukup baik. Mereka adalah anak-anak yang sudah
mandiri, paham dengan tugas perkembangannya dan mampu membedakan yang baik dan
yang buruk, dan kecil kemungkinan akan terpangaruh sikap, perilaku dan perangai
negatif.
Mereka anak-anak yang
tahu diri untuk menjaga nama baik orang tua dan berusaha keras membuat orang
tuanya bangga dengan prestasi-prestasinya, tetapi karena keterbatasan kemampuan
berfikir bawaannya, membuat prestasi akademiknya hanya sampai pada level
rata-rata. Meski demikian, mereka masih mempunyai peluang untuk berprestasi
menonjol terutama di bidang-bidang non-akademis.
tahu diri untuk menjaga nama baik orang tua dan berusaha keras membuat orang
tuanya bangga dengan prestasi-prestasinya, tetapi karena keterbatasan kemampuan
berfikir bawaannya, membuat prestasi akademiknya hanya sampai pada level
rata-rata. Meski demikian, mereka masih mempunyai peluang untuk berprestasi
menonjol terutama di bidang-bidang non-akademis.
3.
Rawan
Rawan
Ini adalah kategori anak-anak
yang membutuhkan perhatian khusus dari orang tua dan guru. Anak-anak tipe ini
sebenarnya memiliki kemampuan akademis dan vokasional yang baik, tetapi
kesiapan mentalnya belum memadai dalam memasuki masa remaja. Pola asuh dan
lingkungan sosial yang kurang positif membuat mental anak rawan terpengaruh
oleh hal-hal negatif dan merugikan.
yang membutuhkan perhatian khusus dari orang tua dan guru. Anak-anak tipe ini
sebenarnya memiliki kemampuan akademis dan vokasional yang baik, tetapi
kesiapan mentalnya belum memadai dalam memasuki masa remaja. Pola asuh dan
lingkungan sosial yang kurang positif membuat mental anak rawan terpengaruh
oleh hal-hal negatif dan merugikan.
Anak-anak tipe ini
dapat berkembang menjadi anak potensial atau bahkan prestasi bila mampu
melampaui masa remaja secara sehat. Sebaliknya, anak-anak seperti ini dapat
berkembang menjadi anak labil bila pematangan mentalnya tidak terfasilitasi
dengan baik.
dapat berkembang menjadi anak potensial atau bahkan prestasi bila mampu
melampaui masa remaja secara sehat. Sebaliknya, anak-anak seperti ini dapat
berkembang menjadi anak labil bila pematangan mentalnya tidak terfasilitasi
dengan baik.
4.
Labil
Labil
Anak tipe terakhir ini
tidak selalu memiliki orientasi dan prestasi akademis rendah. Sangat boleh jadi
sebagian dari mereka sebenarnya memiliki kecerdasan tinggi. Hanya saja karena
pola asuh, kondisi keluarga atau trauma-trauma tertentu membuat mereka memiliki
mental yang rapuh. Anak-anak korban perceraian, anak yang karena suatu alasan
dititipkan pengasuhannya pada kakek-nenek atau orang lain, serta korban
kekerasan adalah sebagian di antara anak-anak yang terkategori labil.
tidak selalu memiliki orientasi dan prestasi akademis rendah. Sangat boleh jadi
sebagian dari mereka sebenarnya memiliki kecerdasan tinggi. Hanya saja karena
pola asuh, kondisi keluarga atau trauma-trauma tertentu membuat mereka memiliki
mental yang rapuh. Anak-anak korban perceraian, anak yang karena suatu alasan
dititipkan pengasuhannya pada kakek-nenek atau orang lain, serta korban
kekerasan adalah sebagian di antara anak-anak yang terkategori labil.
Anak-anak tipe ini
membutuhkan pendampingan khusus agar mampu melewati masa remaja dengan mental
yang kuat. Anak-anak tipe ini seharusnya belajar di sekolah yang mampu memberi
perhatian lebih terhadap perkembangan mentalnya. Bila dimasukkan ke sekolah
konvensional, mereka akan cenderung kurang mendapat perhatian sehingga dengan
mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif di sekitarnya. Pada kasus-kasus
tertentu, anak-anak tipe ini dapat melakukan hal-hal tidak terduga baik yang
merugikan diri sendiri maupun orang lain.
membutuhkan pendampingan khusus agar mampu melewati masa remaja dengan mental
yang kuat. Anak-anak tipe ini seharusnya belajar di sekolah yang mampu memberi
perhatian lebih terhadap perkembangan mentalnya. Bila dimasukkan ke sekolah
konvensional, mereka akan cenderung kurang mendapat perhatian sehingga dengan
mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif di sekitarnya. Pada kasus-kasus
tertentu, anak-anak tipe ini dapat melakukan hal-hal tidak terduga baik yang
merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Atas dasar
itulah, pilihan jenjang pendidikan lanjutan untuk anak seyogyanya dilakukan
dengan memperhatikan karakteristik setiap anak. Untuk anak-anak tipe Prestasi
dan Potensial dapat memilih sekolah manapun, meski tetap menuntut perhatian dan
kedekatan lebih dari orang tuanya. Hal ini dikarenakan masa remaja bagaimanapun
merupakan fase rawan, masa badai, yang tak seorangpun mampu menduga apa yang
akan terjadi dan dihadapi oleh anak-anak kita.
itulah, pilihan jenjang pendidikan lanjutan untuk anak seyogyanya dilakukan
dengan memperhatikan karakteristik setiap anak. Untuk anak-anak tipe Prestasi
dan Potensial dapat memilih sekolah manapun, meski tetap menuntut perhatian dan
kedekatan lebih dari orang tuanya. Hal ini dikarenakan masa remaja bagaimanapun
merupakan fase rawan, masa badai, yang tak seorangpun mampu menduga apa yang
akan terjadi dan dihadapi oleh anak-anak kita.
Khusus, untuk
anak-anak tipe rawan, seyogyanya dimasukkan ke sekolah-sekolah yang memberikan
pelayanan lebih (plus), yang umumnya adalah sekolah-sekolah swasta. Hal ini
dimaksudkan agar perkembangan mental mereka teradvokasi dengan baik, sehingga
mereka mampu meraih masa depannya secara gemilang.
anak-anak tipe rawan, seyogyanya dimasukkan ke sekolah-sekolah yang memberikan
pelayanan lebih (plus), yang umumnya adalah sekolah-sekolah swasta. Hal ini
dimaksudkan agar perkembangan mental mereka teradvokasi dengan baik, sehingga
mereka mampu meraih masa depannya secara gemilang.



























