Teori Partisipatif bertujuan untuk melibatkan sebanyak mungkin audiens untuk ikut berpartisipasi, tidak hanya secara individual, tetapi secara kolektif. Melalui teori partisipatif ini komunikasi berjalan bukan secara vertical / top-down (satu arah), melainkan secara horizontal (dua arah). Ketika satu orang saja yang menyampaikan informasi maka pesan yang disampaikan hanya berdasarkan cara pandang si penyampai pesan saja, sedangkan jika dua orang atau lebih saling berinteraksi, berdiskusi dan saling berpartisipasi maka informasinya menjadi lebih kaya. Semakin banyak orang yang terlibat dalam penyelesaian suatu masalah, maka semakin baik hasil yang bisa dicapai karena setiap individu saling bersaing dan berkolaborasi sehingga pengambilan keputusannya pun menjadi lebih obyektif. Inilah yang dimaksudkan dengan
Kecerdasan Kolektif (atau Collective Intelligence). Setiap individu yang terlibat membentuk jaringan komunitas dimana setiap individu didalamnya memiliki informasi, informasi tersebut saling diinteraksikan yang nantinya keputusannya dapat diterima dan dibagikan secara kolektif.
Jadi memang teori partisipatif didasarkan pada salah satu konsep yang banyak digunakan oleh media sosial: collective intelligence atau kecerdasan kolektif. Kecerdasan Kolektif (atau collective intelligence) didefinisikan sebagai kemampuan kelompok untuk memecahkan lebih banyak masalah daripada masalah para anggotanya secara individual. Ada wisdom dalam kerumunan orang banyak, dan setiap orang pada dasarnya adalah ahli dalam sesuatu. Fenomena ini telah dijuluki crowd-sourcing, peer production, dan Wikinomics, dan didasarkan secara luas pada premis bahwa kelompok-kelompok dari para individu melakukan hal-hal secara kolektif yang cerdas.