
Ditemani terik mentari sore dan suara lalu-lalang kendaraan, kami memutuskan untuk berjalan kaki dari SMA Negeri 7 Kediri menuju lokasi Gereja Merah yang cukup banyak direkomendasikan untuk dikunjungi selama berada di Kota Tahu ini.
Lokasi Gereja Merah ini cukup mudah dijangkau dengan berbagai macam moda transportasi, tak terkecuali dengan berjalan kaki. Mengandalkan aplikasi Google Maps yang terinstal di telepon genggam, saya pun tiba di pelataran GPIB Jemaat Immanuel Kediri ini tanpa tersasar.


Gereja ini masih aktif digunakan oleh jemaat untuk melakukan ibadah. Tak terkecuali juga dengan beberapa wisatawan yang berhenti sejenak untuk berfoto-foto ria mengabadikan kenangan di bagian halaman bangunan dengan corak arsitektur unik ini.
Sayang, waktu saya untuk singgah sore itu tak cukup lama. Sebenarnya saya cukup penasaran dengan kondisi bangunan di dalam gereja. Ada apa sajakah di sana? Dari beberapa sumber tulisan yang saya baca, bagian dalam bangunan di Gereja Merah ini masih dipertahankan keasilannya, mulai dari jendela, mimbar, tangga, dan ornamen bangunan.

Bahkan masih disimpan juga sebuah Alkitab tua berbahasa Belanda yang ditulis sekitar tahun 1867 silam. Saya cukup penasaran, apakah Gereja Merah di Kediri ini memiliki keterkaitan juga dengan Gereja Merah di Kota Probolinggo sana? Hmmm….. semoga saja suatu saat nanti saya bisa kembali ke Kota Kediri serta mengulik lebih dalam lagi tentang sejarah dan keberadaan Gereja Merah ini.
keterangan :
Gereja Merah Kediri (GPIB Jemaat Immanuel Kediri)
Jalan KDP Slamet No 45 Kota Kediri
Buka dari Senin-Sabtu dari pukul 09.00 – 16.00 WIB
Hari Minggu digunakan untuk acara ibadah ๐











