![]() |
| (Sumber Foto: Situ Gunung Suspension Bridge) |
Naik kereta api Tut..tut..tut. 2 jam perjalanan menggunakan Kereta Api Pangrango dari Stasiun Paledang Bogor menuju Stasiun Sukabumi. Kenapa Sukabumi?
Tadinya kami berencana staycation ke Bogor karena lokasi nya tidak terlalu jauh dari Jakarta. Tapi kalau dipikir kok mbosenin ya, karena dalam setahun ini kami sudah bolak-balik main ke Bogor, nongkrong di kafe ngerjain kerjaan freelance. Terus tiba-tiba saya teringat trip di grup WhatsApp yang selalu jadi wacana —Suspense Bridge Situ Gunung. Kuy! ke Sukabumi. Dari sebulan yang lalu saya sudah mereservasi tiket kereta dan hotel. Trip anniversary tahun ini lebih terencana, jangan sampai kayak tahun sebelumnya, dadakan banget rekreasi ke SeaWorld Ancol.
Kami sengaja memilih kereta dengan jadwal keberangkatan kedua yaitu pukul 1 siang biar lebih santai. Agak rieweh aja kalau harus berangkat subuh-subuh untuk mengejar kereta pertama pukul 8 pagi. Kami berangkat pakai ekonomi, toh hanya dua jam saja lama perjalanannya. Untuk kereta pulangnya baru kami pesan yang eksekutif, biar bisa selonjoran.

Nyaman banget, aku selonjoran dan Bre tidur hingga lepas magrib. Kami keluar dari hotel sembari menunggu jas hujan yang diantar sama yang nyewain motor. Walaupun awalnya sempat cekcok karena soal harga sewa yang tidak sesuai dengan perjanjian, tapi si Aa nya ternyata mau bertanggung jawab nganterin jas hujan ekstra dan mengganti helm ke hotel kita.
![]() |
| Foto kiri: Ekspektasi minta difotoin suami Foto kanan: Realita foto “non-instagram” husband |
![]() |
| Salah satu sudut Dolce Gelato |
Hari Minggu yang cukup cerah. Saya bangun pagi dengan lebih bugar, mungkin salah satunya karena efek kebanyakan minum bandrek dan tolak angin. Tapi sedih nya Bre malah mulai radang, katanya kebanyakan makan ciki sama makan kerupuk waktu di warung bakso. Besok-besok nggak bakal bekelin ciki lagi deh. Melihat Bre yang kurang sehat, saya sempat terpikir untuk membatalkan rencana trekking ke Situ Gunung. “Nggak apa-apa, hayok!” Bre justru yang lebih bersemangat. Lalu kami langsung check out hotel dan sarapan.

Menurut saya, salah satu detail Staycation harus nya ada sarapan mewah di hotel, seperti foto di atas. Sayangnya foto tersebut adalah foto 3 tahun lalu saat melanglang ke Innsbruck, hehe. Mumpung di Sukabumi, kami mencari sarapan lokal saja —bubur ayam yang ngehits di kota ini.

Seperti yang saya tulis dalam paragraf awal tadi, nama nya Bubur Ayam Bunut. Kalau dicari di peta ternyata ada banyak pilihan dengan nama yang sama tapi saya memilih untuk makan yang di sini. Baru tau ternyata Bunut itu diambil dari nama Taman Bunut.

Bagaimana rasanya? Saat itu saya nggak bisa menjelaskannya dengan kata-kata, lidah saya keburu melocot kepanasan karena terburu-buru makan buburnya yang benar-benar panas. Enak banget pokoknya, definitely we’ll be back here. Yang bikin uwenak itu apanya coba? Ayam nya cuy, pakai ayam kampung jadi bikin nagih. Meskipun nggak pake kuah, buburnya udah enak banget. Ini adalah bubur pertama yang aku makan pakai DIADUK. Sungguh, makan bubur diaduk itu haram ada dikamusku. Tapi tidak untuk Bubur Ayam Bunut.
![]() |
| Dapat sarapan gratis (welcome drink) yang isinya keripik singkong, pisang rebus dan teh hangat setelah membeli tiket Suspension Bridge |
![]() |
| Sarapan (lagi) duduk-duduk di sini |

Kenyang makan bubur, kami melanjutkan perjalanan ke Situ Gunung yang ditempuh kurang dari satu jam. Baru pukul setengah sepuluh pagi, di sini sudah ramai pengunjung. Keheningan hutan yang kami rindukan wepertinya cukup jadi angan-angan saja hari itu. Bus rombongan tur sudah berjejer ramai di area parkir. Nikmati saja lah. Bre dari tadi hanya terdiam, radang yang diderita nya sepertinya makin parah. Hahaha. Keripik singkong yang diambilnya dari welcome snack and drink tadi dibiarkan saja tidak dimakan.

Tiket masuk ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango hanya 18.500 rupiah saja, sudah termasuk area Danau Situ Gunung. Sedangkan untuk masuk ke jembatan kita diharuskan membayar tiket lagi sebesar 50.00 rupiah dengan memperoleh gelang tiket dan welcome snack and drink.


Saya melihat Bre dari belakang dan melihat gaya nya berjalan sangat aneh. Dia bilang aku juga jalannya sama, cuma nggak sadar aja karena jembatan ini bergeser ke kanan kiri dan makin menegangkan kalau ada angin kencang. Sudah merasa seram sendiri, Bre tiba-tiba dirangkul seorang bapak paruh baya karena takut. Di belakang nya pun ternyata sudah mengintil satu keluarga (anak-anak dan istri si bapak) yang rupanya juga takut. Akhirnya mereka berjalan beriringan dipandu oleh Bre dari depan. Hahaha.


Baru setelah melewati jembatan, kita akan disuguhkan aroma hutan basah dan jalan setapak yang berbatu.
![]() |
| Dingin-dingin gini enaknya makan gehu pake cabe rawit |
![]() |
| Sambil diiringi suara suling dan celempung —alat musik degung Sunda |
Setelah berjalan santai kurang lebih setengah jam, kami sampai di Curug Sawer (curug dalam Bahasa Sunda artinya air terjun). Curug ini sudah banyak berubah, enam tahun lalu saya ke sini masih berupa kawasan tertutup, hanya ada tenda-tenda para pelancong dan suara merdu deras air yang jatuh dari tebing. Kini sudah berubah menjadi festival, dibangun pondokan besar yang berisikan warung-warung makan dan berjejer stall-stall souvenir dan aneka jajanan SD. Meski suasana alam nya berkurang, namun pihak pengelola cukup apik membungkus festival ini dengan bangunan bambu-bambu dan kolam buatan. Hanya saja jadi terasa lebih ramai. Jadi kami langsung menuju spot air terjun dan melipir ke sisi kiri air terjun yang lumayan sepi.

Deru air yang jatuh membuat Bre mengantuk. Cukup cari tempat rebahan, dia bisa tidur pulas. Kasian nggak bisa diajak ngobrol karena radang nya makin parah. Lalu saya ngapain? Foto-fotoin dia bobo dan berswafoto lalu main hape dan melamun.




















