Baru-baru inilah aku akhirnya bisa menginjakkan kaki langsung di tanah Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Iya, setelah sekian tahun berlalu. Jangan tertawa, ya.
Berawal dari tiket KAI murah di KAI Travel Fair tahun lalu, aku mengambil tiket eksekutif seharga kereta api ekonomi tujuan Yogyakarta. Ssst. Ini juga pertama kalinya aku naik kereta api kelas eksekutif. Maklum, anaknya biasa naik pesawat. :))

Aku sengaja mengambil perjalanan malam agar sampai di Yogyakarta sebelum subuh. Pengennya sih subuh udah sampai di Magelang karena katanya Candi Borobudur tampak lebih syahdu saat sunrise. Tapi apa daya, sunrise di candi telat karena harus check in hotel dulu di Jogja bersama Junisatya dan beberapa teman. Kami baru bisa bertolak ke Magelang setelah menyewa mobil di Jogja.
Betapa senangnya aku pagi itu. Stupa-stupa dan relief candi sudah berjajar di depan mata. Inilah angan masa kecilku, ingin menyentuh batu-batu purba ini. Candi Borobudur menjadi terkenal di seluruh dunia karena keunikan arsitekturnya yang mampu bertahan berabad-abad. Untuk ukuran bangunan yang disusun dengan batu dan dibangun pada abad ke-8 Masehi, tentu menjadi suatu hal yang menarik. Itu artinya pengetahuan masyarakat setempat dalam penyusunan undakan bebatuan ini sudah maju.
Aku mengagumi pijakan-pijakan yang kulalui untuk naik ke setiap undakan dan teras di candi ini. Undakan-undakan itu tak serta merta tanpa makna. Ada sistem tingkatan pencapaian menuju kesucian dalam agama Buddha, Kamadhatu (hawa nafsu), Rupadhatu (wujud), dan Arupadhatu (tak berwujud). Setiap tingkatan di candi ini juga memiliki cerita sendiri yang tergambar dalam relief-relief yang terdapat di dindingnya. Setiap relief dibatasi oleh pagar langkan dengan arca-arca Buddha berukuran kecil serta stupa yang juga berukuran kecil. Stupa besar aku temui di lantai atas yang berjumlah 72 stupa yang mengelilingi satu stupa utama yang ukurannya lebih besar lagi. Di setiap 72 stupa itu terdapat patung Buddha yang menghadap ke semua penjuru.
![]() |
| Panorama alam di sekeliling candi juga jadi objek penyegar mata. |
![]() |
| Junisatya dengan sabar menemaniku berkeliling candi. |
Ketika berada di undakan teratas Candi Borobudur ini, aku melihat alam perbukitan mengelilingi candi. Aku membayangkan sunrise di sini pasti cantik sekali. Dengan siluet stupa-stupa ini dan beberapa arca Buddha yang menghadap ke perbukitan itu, pemandangannya tentu sangat menarik. Namun, sesiangan begini juga tak kalah cantik. Yang terlihat justru barisan bukit yang subur dengan langit cerah menaungi. Pantas saja orang betah berada di Candi Borobudur meski panas. Pemandangan alam sekitarnya malah tak kalah cantik dari bangunan candinya sendiri.
Konon katanya, bukit-bukit inilah yang melindungi Candi Borobudur selama berabad-abad. Jika langit sedang cerah, tampak puncak Gunung Merapi dan Merbabu serta Menoreh yang seakan memang menjadi penjaga candi megah ini. Berada di tingkat paling atas candi, bersisian dengan satu stupa paling besar, mau tak mau membuatku mengagumi lokasi candi ini berdiri. Desa Borobudur sudah sejak lama memelihara produk dari Dinasti Syailendra ini meski sempat ditinggalkan saat Gunung Merapi meletus hebat pada abad ke-10 yang menyebabkan candi ini terkubur.
Ketika aku mengunjungi museum Candi Borobudur yang masih berada di kawasan taman candi ini, aku membaca sejarah renovasi candi. Ternyata pada saat Gunung Merapi meletus lagi beberapa tahun lalu, beberapa stupa sempat rubuh diguncang gempa. Permukaan candi pun tak bisa dielakkan dari abu vulkanik. Beberapa bencana alam memang mempengaruhi kekokohan dan bentuk candi. Karena itu Candi Borobudur sendiri sudah mengalami beberapa periode pemugaran. Dari gambar-gambar yang dipajang di museum, aku baru tahu bahwa dulu kala, saat Gubernur Jenderal Inggris bernama Raffles yang menemukan Candi Borobudur, kondisinya jauh dari bentuk candi yang bisa kita lihat sekarang. Dulu kala, susunan stupa dan arca tidak serapi sekarang. Tumpukan batu begitu berlumut serta batu dengan ukiran gambar yang kini kita sebut relief masih jauh dari bersih. Rupanya, tim penemu di bawah pemerintahan Raffles pada saat itu menafsirkan adanya satu situs besar yang tersusun dari bebatuan dan bentuknya berundak-undak. Sampai saat ini masih dilakukan penelitian terhadap candi ini, baik dari segi relief, prasasti, maupun temuan jenis batu, karena belum diketahui pasti siapa yang membangun candi ini.
![]() |
| Susunan batu berundak-undak dengan undakan penuh stupa dan arca Buddha. |
![]() |
| Geng trip ke Candi Borobudur. |
![]() |
| Setiap tangga menghadap ke 4 arah mata angin. |
Kini, setelah Candi Borobudur ditangani oleh UNESCO untuk renovasi bangunan, kondisinya jauh lebih kokoh. Pondasi bebatuannya diperkuat. Perawatan terhadap batu yang berjamur juga dilakukan dengan rutin. Di museum ada beberapa keterangan jenis jamur yang biasa tumbuh di batu-batu candi dan bagaimana cara penanganannya. Di museum Candi Borobudur itu pula disimpan sisa-sisa batu yang hancur karena gempa atau bencana lain. Ada pula arca Buddha khusus yang sengaja disimpan di museum. Konon, arca itulah yang mengisi rongga stupa induk di tingkatan candi paling atas.
Mungkin kalau kita tahu sepenuhnya tentang makna relief yang terdapat di dinding candi serta bagaimana awal mula candi ini terbentuk, aku rasa Candi Borobudur jadi monumen kaya inspirasi. Kisah-kisah perjalanan hidup Buddha serta pola hidup umat Buddha bisa jadi inspirasi kisah kemanusiaan, tak hanya berbicara tentang agama dan kepercayaan, melainkan tentang manusia itu sendiri.
Berjalan-jalan di Candi Borobudur membuatku me-refresh beberapa pengetahuan sejarah. Meski tidak terlalu mendalam, tapi aku puas bisa melihat langsung bangunan berusia berabad-abad itu sebagai bentuk bukti sejarah, bahwa para pembangunnya sudah berpikiran maju tentang arsitektur. Kini, Candi Borobudur menjadi tempat ziarah bagi umat Buddha serta dibuka untuk wisata dari berbagai negara. Situs yang jadi warisan dunia ini memang menjadi ikonik sekali. Indonesia rasanya tak lepas dari bentuk stupa yang ada di Candi Borobudur. Iya, Candi Borobudur seterkenal itu.
![]() |
| Batu-batu candi yang dipamerkan di museum Candi Borobudur. |
![]() |
| Akhirnya bisa ke Candi Borobudur juga. |
Lihat saja pasar souvenir yang berjajar di pintu keluar candi, sungguh padat. Kalau tidak tahu jalan keluar langsung, kita akan terjebak berputar-putar di pasar souvenir menjelang pintu keluar terbuka. Aku sendiri terjebak padahal sedang tidak ingin berbelanja souvenir. Yang penting sudah melihat dan menelusuri kemegahan Candi Borobudur, kurasa cukup. Aku menata rindu bertahun-tahun pada kebesaran candi ini dan kini pun tersampaikan. Mungkin memang lain kali aku menjemput sunrise di Borobudur agar kunjungan ke candi ini jadi lengkap sempurna.

















