
Goa Batu Kapal mendadak tenar dan ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar Kabupaten Solok Selatan. Keberadaannya menarik perhatian para pelancong, karena rasa penasaran dan menyimpan pesona alam yang menakjubkan. Kabarnya juga berselimut misteri yang menarik untuk ditelusuri. Benarkah?


Kami berjalan melewati
hamparan perkebunan sawit yang masih muda hingga sampai ke mulut goa. Dari parkir kendaraan sampai mulut goa hanya tidak sampai 10 menit. Sebelum
masuk, ternyata masih menunggu rombongan dari pemerintahan setempat yaitu Bapak Epli Rachmat (Asisten
II Bupati), Bapak Basrial Kepala Dinsos Solok Selatan dan Bapak Yanuari Wali Nagari
Sungai Kunyit Barat dan jajarannya.
kami, saya bersama teman-teman Blogger Palanta yaitu Bang Emen, Dedet, Bang Bara,
Bang Oji, Titi dan Nanda ditambah Anum Duta Wisata Solok Selatan 2016. Kemudian
Uda Nofris dan Bang Firza yang menjadi ‘kepala arak’dalam penjelajahan kali ini.


saja sudah membuat penasaran, apalagi setelah mengetahuin sejarah dan isi dalam
goanya. Memang penamaan goa ini lantaran menyerupai bentuk dalam kapal yang ada
ruangan-ruangan bertingkat dan luas. Itu jika dilihat dari dalam goa.
beredar di tengah masyarakat, dulunya bukit ini tercipta dari sebuah kapal
terdampar dan kemudian karam. Lambat laun karena proses alam berubah menjadi
batu seperti yang terlihat saat. Ada juga yang menceritakan bila kapal ini dikutuk
dan berubah menjadi batu.
menarik lainnya, kabarnya goa ini pernah menjadi kandang kerbau, tapi tidak ada
yang pernah tahu kebenaran hal ini. Bila ditelusuri pun tidak ada jejaknya
seperti tapak kaki dan kotoran kerbau yang biasanya berserakan di mana-mana. Namanya
juga mitos yang berkembang, boleh percaya dan tidak. Namun, itulah keunikan
dari Goa Batu Kapal ini.


Yanuari (52) Wali
Nagari Sungai Kunyit Barat, awal mulanya
goa ini ditemukan ketika pembukaan lahan perkebunan karet oleh PTPN VIII
ditahun 1984. Kala itu lahan ini digarap oleh masyarakat dari provinsi Jambi
yang transmigrasi ke daerah ini. Goa ini menjadi destinasi wisata lokal bagi
masyarakat setempat, tapi tidak bertahan lama kemudian ditinggal begitu saja.
berjalannya waktu dan melihat potensinya, maka sejak 8 April 2017 lalu masyarakat
setempat pun sepakat untuk membuka kembali goa ini menjadi objek wisata yang
dikelola oleh Pokdarwis Insan Peduli Goa Kapal.

ini, tidak hanya ada satu bukit yang memiliki goa, tapi ada empat bukit dengan
keunikan dan karakteristik tersendiri. Goa Batu Kapal atau Ngalau Janggo ini
dikenal untuk goa yang berada di bukit kedua dengan ketinggian mencapai 68
meter.
pertama berdekatan dengan Goa Batu Kapal yang memiliki ketinggian 20 meter. Goa
di bukit ketiga dikenal dengan Ngalau Lipek, karena bebeatuan yang ada di bukitnya
berlipat-lipat. Goa di bukit pertama dan keempat ini belum bisa dikunjungi oleh
para wisatawan. Untuk goa yang dibuka sebagai objek wisatanya baru goa di bukit
kedua dan ketiga yang bisa dijelajahi pengunjung.

Sebelum masuk
ke dalam goa, saya melihat-lihat dulu isi goa dari depan bersma Titi dan Bang
Bara. Kemudan perlahan masuk ke dalam. Terlihat lebih jelas isi dala goa yang
luas dan memiliki ruang yang besar. Bau menyengat dari kotoran kelelawar dan
suasana yang lembab menjadi hal yang lumrah dijumpai. Goa
memang menjadi habitatnya kelelawar dan sejumlah reptil dan serangga lainya. Tentunya harus berhati-hati.
dek?” tanya seorang bapak-bapak pada saya ketika berada dimulut goa.
menjelaskan kedatangan kami ke tempat ini. Kemudian dia mengajak kami bertiga
masuk ke dalam goa dan menujukan beberapat titik di dinding goa yang dapat
dipotret dan ternyata menghasilkan perpaduan warna yang cantik. Secara kasat mata hanya terlihat gelap saja, tapi bila dipotret semua sudut di goa ini memunculkan warna yang beragam.

mencuri start dulu menjelajahi goa ini. Bapak ini merupakan salah satu pemandu
wisata goanya. Dia selalu mengingatkan agar berhati-hati dalam melangkah agar
tidak terpeleset, karena ditempat ini tanahnya lunak dan berlumut.
begitu gelap, karena beberapa sudutnya terdapat ruang terbuka dan sinar matahari
dapat masuk. Sepertinya hal ini yang menyebabkan bila dipotret ruangan dan
sudut-sudut dalam goa ini menjad lebih berwarna, disamping oleh kandungan dari bebatuan dan lumut yang ada didinding goa. Dalam sekali petik bisa saja
muncul warna merah, pink, hijau, kuning, keemasan, orange, coklat dan lainnya.

ruangan ini, saya tertuju pada satu titik yang ada cahaya matahari masuk dari
atas goa ini. Kemudian turun menyinari hingga dasar goa ini. Cahaya yang membias ini, menciptakan kesan
yang menakjubkan. Saya pun memanggil Titi dan Bang Bara untuk ikut mendokumentasikan
spot ini. Kami pun silih bergantian berfoto.
Untuk mendapatkan moment ini harus
datang tepat tengah hari dan dalam cuaca yang cerah. Setelah sinar mentarinya menghilang, kami pun keluar goa dan berjumpa dengan rombongan lainnya.





Di spot ini
rombongan berhenti sejenak, karena ada bentuk dari di dinding goa yang
menyerupai jantung. Selanjutnya melewati hutan mini dengan pepohonan yang
tinggi dan cukup rapat. Melintasi jembatan kayu yang di bawahnya ada aliran air
seperti rawa-rawa. Hingga tiba di ruangan goa yang sangat luas dengan ornamen
khasnya yang terlihat. Ada stalagmit
dan stalaktitnya. Meski tidak banyak, menandakan tempat ini terdapat zat kapurnya.
istirahat sejenak di sini. ada yang berfoto ada juga yang melihat-lihat dan berimajiasi akan suasana yang ada di dalam goa ini. Saya melihat ornamen di dalam goa ini terkesan memiliki
cerita tersendiri. Masih terjaga dan alami sekali.
sedang salat, terlihat di dinding goa menyerupai bentuk aline hingga ada motif
batik. Uniknya ada juga goa yang memiliki ruangan yang luas setara dengan aula
kapasitas 500 orang dan batu yang bisa mengeluarkan musik Talempong.



goa memang memberikan pengalaman yang mengesankan. Pengunjung dapat merasakan sensasi berada di dalam perut bumi, dengan ornamen goa yang indah serta kondisi udara yang dingin, minim cahaya hingga terbatasnya kadar oksigen yang dapat dihirup menjadi tantangan tersendiri. Cocok bagi pencinta wisata petualangan.











