Membicarakan tradisi, sangat salah jika kita harus melupakannya.
Di zaman serba modern saat ini, tradisi asli leluhur dan Indonsesia pada
umumnya sudah mulai luntur. Tak terkecuali di desa saya. Sudah tau kan ya? Desa
Kalirancang, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Di desa saya atau tepatnya Dukuh
Kalisetra ada tradisi bernama ”Moganan”. Moganan adalah
salah satu tradisi atau acara tradisional yang rutin dilaksanakan setelah masa
panen padi usai. Ya, tradisi ini menggambarkan kehidupan petani yang mesebagai
ucapan terima kasih kepada Tuhan YME atas keberhasilan panen petani.
Di zaman serba modern saat ini, tradisi asli leluhur dan Indonsesia pada
umumnya sudah mulai luntur. Tak terkecuali di desa saya. Sudah tau kan ya? Desa
Kalirancang, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen. Di desa saya atau tepatnya Dukuh
Kalisetra ada tradisi bernama ”Moganan”. Moganan adalah
salah satu tradisi atau acara tradisional yang rutin dilaksanakan setelah masa
panen padi usai. Ya, tradisi ini menggambarkan kehidupan petani yang mesebagai
ucapan terima kasih kepada Tuhan YME atas keberhasilan panen petani.
Sebagai buktinya, biasanya si petani (dulu) akan berkumpul di
lapangan desa atau dusun dengan membawa nasi mogana. Nasi moga sendiri adalah
nasi yang dibentuk layaknya nasi tumpeng namun didalamnya diisi serundeng
kelapa. Campuran serundeng bisa ayam, tahu maupun tempe. Sessuai dengan
kemampuan dan keikhlasan si petani. Kemudian tata rapi di sebuah wadah. Saya
menyebutnya ‘Cepon”, semacam bakul yang terbuat dari anyaman
bambu.
Selanjutnya petani dan seluruh warga berkumpul di lapangan desa
untuk didoakan dan
makanan yang dibawa petani akan diambil
disajikan bersama warga lain (baik petani maupun bukan). Cara memakannya dengan
menggelar daun pisang memanjang. Disitu kemudian warga makan bersama nasi
mogana tersebut. Sangat istimewa memang. Kebersamaan yang sulit dilupakan.
Lambat laun tradisi tersebut mulai ”dimodifikasi’. Seperti
dihilangkannya
hiburan beruapa perlombaan untuk anak-anak maupun orang dewasa. Yang saya alami
antara lain lomba balap katak, mencari baju dengan mata tertutup, joget bola,
panjat pinang dll. Jika menang panitia akan memberikan hadiah berupa buku,
pensil, mie instan, makanan ringan dll. Ramai, semua warga berkumpul menjadi satu
dengan susasan riuh dan senang bukan main.
Dan, makin kesini tradisi itu nyaris tak diselenggarakan lagi.
Selain tradisi moganan ada lagi tradisi lainnya yang masih bertahan. Yakni, ”Amin-amin” tradisi
ini nyaris dilaksanakan tiap bulan dirumah kaum (sesepuh (tokoh) agama). Sama
seperti Moganan, warga harus membawa makanan berupa nasi putih tumpeng lengkap
dengan lauk pauk-nya. Di beberapa bulan tertentu makanan tersebut dilengkapi dengan ”Unusan”. Unusan ini berupa ayam goreng yang ditusukan ke bambu yang sebelumnya sudah dibagi menjadi lima bagian dalam satu ruas bambu.
Pokoknya persis seperti telapak tangan manusia. Entah memang filosofinya diambil dari situ atau bukan saya kurang tau. Ibaratnya setiap jari ditusukan ayam goreng lima buah. Jadi semuanya 25 buah. Namun kali ini makanan harus dibawa oleh pria atau kepala
keluarga. Di rumah kaum tersebut akan diadakan doa-doa (yang islami tentunya).
Dan warga percaya nasi atau makanan yang sudah didoakan akan membawa
berkah.
ADVERTISEMENT











