Dengan peralatan ‘tempur’ yang sudah siap, pakaian ganti, baju renang (karena kami menduga akan snorkeling) serta stok makanan, kami bertolak pada malam hari tanggal 30 Januari 2012 dari Jakarta ke Banten dengan Avanzano milik Junisatya. Mobil penuh dengan 7 orang berada di dalamnya: Junisatya sebagai pilot, Tommy sebagai co-pilot, Ageng sebagai navigator, Sasa sebagai coco chips-pilot, saya, Ririn dan Kenny sebagai tim hore. Berangkatlah kami dengan semangat liburan, padahal 3 di antara kami masih harus beradapan denganย deadline tugas akhir kuliah. Tapi tak apa, tidak ada yang bisa mengurangi antusiasme kami dalam berlibur.
Dengan estimasi waktu 5 jam sampai di Tanjung Lesung, kami meretas jalanan Banten sampai ujung pulau Jawa. Sekitar pukul 1 dini hari, kami menghirup udara laut. Kami pun tak sabar ingin segera sampai ke lokasi tujuan. 1 jam kemudian, kami telah tiba di gerbang Tanjung Lesung. Kawasan pantainya masih ditutup. Saya baru tahu bahwa pantai itu ternyata telah dikomersilkan dan termasuk resort pribadi. Pintu gerbang baru dibuka pukul 6 pagi. Dari pintu gerbang ke pantainya masih lumayan jauh. Kata security, kami disarankan untuk membawa bekal makanan sendiri sebelum memasuki kawasan pantai, karena harga makanan di sana cukup mahal.
Setelah berembuk, kami pun memutuskan untuk langsung saja ke Sawarna. Buang-buang waktu jika kami harus menunggu 4 jam di sana dan kami tentunya harus mencari penginapan.
Perjalanan ke Sawarna masih sangat jauh karena karena letaknya di bagian selatan Banten. Dengan Bismillah, kami pun meraba-raba jalanan, meski sempat nyasar beberapa kali. Dari Tanjung Lesung di Ujung Barat sampai Sawarna di Ujung Selatan.




Pukul 10 pagi sampai juga kami di kampung Sawarna. Melihat pantai di
sepanjang jalan rasanya pengen langsung nyebur. Tapi kami harus mencari
penginapan dulu. Rasa lelah berganti shock mendadak, karena jalan di
desa itu dipadati oleh orang-orang yang liburan. Rumah-rumah penduduk
sudah full. Resort-resort juga sudah dipenuhi oleh pengunjung. Kami
sempat putus asa mencari penginapan. Bahkan tempat parkir pun sudah
tidak tersedia. Sepertinya penduduk di sana mesti lebih kompak me-manage
kaum pendatang di musim liburan seperti ini.
Akhirnya
beberapa saat kemudian, kami mendapat penginapan di salah satu rumah
penduduk dengan harga pas. Tempatnya kecil, tapi cukup untuk kami
bertujuh dengan 2 sekat kamar. Yang penting nyaman. Tempatnya masih agak jauh dari pantai.
Jadi kami harus berjalan kaki sekian ratus meter dari rumah penduduk.








