Sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Februari 2011 adalah The Green Hornet. Ini dia satu lagi film superhero yang merupakan hasil adaptasi, walaupun tokoh pahlawan yang satu ini muncul pertama kali di sebuah drama serial radio di tahun 1936 yang kemudian dijadikan serial TV di tahun 1940-an. Gue yang sebelum ini sama sekali belum pernah mendengar tentang tokoh pahlawan yang satu ini, tidak berharap banyak walaupun dengan nama Christoph Waltz dan Cameron Diaz di jajaran cast pendukungnya.
Seorang pemuda 28 tahun yang suka hidup bersenang-senang, Britt Reid (Seth Rogen), harus memimpin sebuah surat kabar terkenal di Los Angeles setelah kematian tiba-tiba dari ayahnya. Berpartner dengan pembuat kopi di rumahnya yang ternyata ahli mekanik dan ahli bela diri, Kato (Jay Chou), mereka memutuskan untuk memerangi kejahatan di kota dengan menggunakan topeng dan nama “The Green Hornet“.
Entah apa yang harus gue ulas dari film ini. Beruntung gue tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap film ini. Namun ekspektasi nol itu pun tetap membuat gue kecewa dan sempat muncul keinginan untuk walk out di penghujung film. Akting yang datar, karakter yang tidak hidup, cerita yang lemah, satu-satunya adegan dan bagian yang bagus dan menghibur adalah ending credit-nya.
Gue tidak tahu harus menyalahkan siapa, namun rasanya nama Seth Rogen pantas dimunculkan. Dia yang menulis cerita, dia juga yang melakoni pemeran utamanya. Gue memang tidak tahu bagaimana cerita asli si pahlawan bertopeng ini dan seberapa setia si penulis naskah terhadap cerita aslinya. Namun sangat terasa bagaimana cerita dalam film ini dibuat terlalu terburu-buru sehingga beberapa sub-plot tampak sebagai tempelan saja. Belum lagi menyayangkan nama sebesar Christopher Waltz dan Cameron Diaz yang kedua karakternya tampil lemah dalam plot cerita keseluruhan.
![]() |
| gambar diambil dari sini |
Belum lagi Seth Rogen yang seakan membuat buruk citra diri seorang Britt Reid/Green Hornet. Karakter Britt Reid yang memiliki ego besar dan sedang goyah karena kematian ayahnya serta kekosongan hidupnya, dibuat terlalu komikal dan kekanak-kanakan yang berlebihan oleh Seth Rogen. Sepanjang film, sulit bagi gue untuk menempatkan simpati dan mendapatkan kharisma dari seorang Britt Reid. Dengan mudah gue menempatkan simpati justru pada sidekick-nya, Kato, yang dibawakan cukup baik – bahkan jauh lebih baik daripada Seth Rogen. Jelas karakter Britt Reid/Green Hornet tenggelam di bawah bayang-bayang Kato yang jago kungfu dan mekanik.
Gue cukup terkejut betapa maksa dan pedenya film ini hanya merilis versi 3D-nya saja di bioskop-bioskop di Glasgow sini. Mau tidak mau gue harus merogoh kocek lebih untuk mencicip film ini. Walaupun berbeda 1.50 quid, tapi gue menyayangkan koin gue itu lantaran menurut gue tiga dimensinya tidak berguna. Tidak ada adegan-adegan atau barang-barang yang eye popping. Gue pun masih menaruh judul film My Bloody Valentine (2009) sebagai satu-satunya film bukan animasi dan ber-genre action yang benar-benar khusus dibuat untuk eye popping 3D, walaupun ceritanya termasuk film slasher kelas B.
| gambar diambil dari sini |
Film lebah hijau yang tidak menyengat sama sekali walaupun dengan kacamata tiga dimensi.
Rating?
6 dari 10









