Masalah Engineering Technical, Inovasi produk atau Layanan
Selanjutnya, masalah engneering/technical menyangkut bagaimana menciptakan sebuah sistem yang digunakan oleh manajemen dalam membuat solusi terhadap masalah entrepreneurial (Miles dan Snow, 1978). Penciptaan sistem membutuhkan keputusan manajemen dalam memilih teknologi yang digunakan (input-transformation-output-process) dalam menciptakan dan mendistribusi produk dan layanan baru atau memodifikasi produk dan layanan yang ada. Sistem memberikan informasi, komunikasi dan kontrol terhadap operasi yang dijalankan (Miles dan Snow, 1978).
Masalah engneering menentukan bagaimana komitmen manajemen terhadap perubahan teknologi dan inovasi produk yang dilakukan oleh perusahaan. Solusi atas masalah ini menjamin proses yang dijalankan perusahaan menghasilkan produk dan layanan yang menjadi pilihan perusahaan (Dvir et al., 1993).
- Inovasi produk atau layanan mengukur perilaku perusahaan dalam menciptakan dan mengembangkan produk dan layanan. Dalam pasar yang kompetitif dan dinamis perusahaan yang entrepreneur akan cenderung secara berkelanjutan menciptakan produk dan layanan baru. Sebaliknya, perusahaan yang konservatif cenderung tidak banyak melakukan penciptaan produk dan layanan baru atau berkonsentrasi pada produk yang ada.
- Pengalaman permintaan dan perubahan produk dan jasa, mengukur bagaimana perilaku manajemen dalam mengenalkan produk baru dan aktivitas pemasaran. Perusahaan yang entrepreneur akan cenderung menjadi yang pertama dalam memperkenalkan produk/layanan baru dan teknologi operasi, sebaliknya perusahaan yang konservatif cenderung untuk mengikuti perkembangan produk/layanan baru.
- Penekanan fungsi dalam inovasi perusahaan, mengukur bagaimana perusahaan mampu melakukan inovasi dalam produk dan layanan, perusahaan pada kenyataan berperilaku membuat tingkat perubahan produk dan layanan secara cepat atau sebaliknya.
- Struktur organisasi atau pola pengelolaan aktivitas perusahaan, mengukur perilaku manajemen dalam mengelola aktivitas bisnisnya. Ada kecenderungan bahwa perusahaan memiliki prosedur yang ketat dan wajib dijalankan dalam setiap kondisi, atau sebaliknya ada beberapa perusahaan cenderung sering mengabaikan prosedur jika kondisi tertentu menuntut fleksibelitas dan mendesak.
- Manajemen staf perusahaan, di mana mengukur pola kerja karyawan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya. Perusahaan dengan struktur organisasi yang kaku dan prosedur ketat berperilaku dengan aktivitas karyawan yang bekerja sesuai dengan deskripsi kerja secara jelas. Sebaliknya perusahaan yang lebih fleksibel akan membuat kerja karyawan berubah-ubah bergantung pada situasi dan tuntutan kerja baru.
- Pandangan staf terhadap tantangan masa depan, mengukur pola pengarahan pekerjaan kepada karyawan tentang prospek masa depan bisnis yang harus diinterpretasikan dalam pekerjaan. Perusahaan dengan struktur yang kaku atau mekanistik mengembangkan perencanaan dengan saksama dan menyelesaikannya dengan baik, sedangkan organisasi yang fleksibel atau organik akan mengarahkan aktivitas karyawan dengan membuat arahan umum dan mengadaptasi situasi yang ada.
- Prosedur perencanaan dan evaluasi perusahaan, mengukur bagaimana perilaku perencanaan dan evaluasi perusahaan terhadap pengawasan kerja karyawan. Perusahaan yang mekanistik akan dengan berbagai pirantinya akan memastikan bahwa karyawan konsisten terhadap pekerjaannya, sedang perusahaan yang organik akan berusaha mendorong karyawan untuk mengembangkan pekerjaannya dengan berbagai kelonggaran.
Masalah administratif menghasilkan dua kutub kecenderungan manajemen perusahaan dalam mengelola aktivitas bisnisnya (Covin dan Slevin, 1989; Venkatraman, 1989), yaitu: perusahaan dengan manajemen dan struktur organisasi yang mekanistik prosedur kerja yang ketat, perencanaan dan pengawasan yang kuat perusahaan dengan manajemen dan struktur organisasi yang organik (kelonggaran prosedur dan pengawasan yang longgar).









