
Tidak banyak orang yang menyukai bidang ilmu matematika yang sarat
dengan hitung-hitungan dan angka. Namun, ketika menguasai dan menekuni
ilmu ini, sepertinya karir pun terasa mudah. Ini bisa terjadi, salah
satunya, karena tidak banyak orang yang berhasil menguasainya.
Kira-kira seperti itulah pengalaman yang dihadapi Ade Bungsu, yang kini
menjabat sebagai Chief Marketing Officer Head of Syariah PT AIA
Financial.
Lulusan Departemen Matematika, Fakultas MIPA
Universitas Indonesia ini, mengambil jalur matematika aktuaria dalam
studinya. Apa alasannya mengambil jalur ini? “Ya, kalau saya melihat
karena jalur profesi aktuaris itu kan masih langka. Kalau saya lihat
dulu ini adalah profesi yang dicari gitu terutama untuk di dunia
asuransi. Karena suplainya (masih) sedikit,” ujar Ade kepada Kompas.com, di Jakarta, Rabu (2/11/2011).
Selepas menyelesaikan kuliahnya, ia pun langsung mengaplikasikan ilmunya di dunia asuransi. Tepatnya menjadi seorang actuarial executive di
PT Prudential Bancbali Life Assurance pada tahun 1995. Menurutnya,
bekerja di bidang yang sesuai dengan ilmunya merupakan hal yang ia
sukai. “Itu yang paling penting,” tegas Ade.
Ada sekitar 15 tahun
ia bekerja di perusahaan tersebut. Dan, sempat juga beralih perusahaan
asuransi hanya beberapa bulan saja pada tahun 2003. Dengan kata lain, ia
berusaha menekuni profesi yang langka ini.
Tapi, ayah dari dua
anak ini mengaku banyak suka dan duka selama menggeluti pekerjaan
sebagai aktuaris. Kesulitannya, terutama saat menempuh kualifikasi
sebagai aktuaris itu sendiri. “Itu kan ada 10 mata ujian profesi yang
harus kita lewati. Itu nggak sebentar untuk lakukan itu. Saya enam tahun
baru lulus,” terang dia.
Biasanya, kualifikasi ini ditempuh
selama 5-7 tahun. “Jadi, memang itu nggak gampang, dan memang nggak
banyak kan yang mendalami profesi aktuaris,” sebutnya.
Apa itu
aktuaris? Untuk diketahui saja, berdasarkan informasi dari situs
Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI), aktuaris itu adalah seorang ahli
yang dapat mengaplikasikan ilmu keuangan dan teori statistik untuk
menyelesaikan persoalan-persoalan bisnis aktual. Untuk jumlah aktuaris,
baru ada sebanyak 180 aktuaris dan 200 ajun aktuaris yang terdaftar
sebagai anggota PAI, yang merupakan perhimpunan resmi aktuaris nasional.
Ade
sendiri menjabat sebagai Wakil Ketua PAI bidang hubungan industrial
hingga saat ini. Kemudian, demi memenuhi tuntutan profesi yang telah
belasan tahun dijalaninya, ia pun tidak bisa hanya bersandar pada
pendidikan strata satunya saja. Hampir setiap tahun ia mengikuti baik
itu seminar, pelatihan ataupun kursus. Menurutnya, kegiatan-kegiatan itu
penting untuk diikuti. Tidak berarti setelah menguasai ilmu matematika,
menjadi aktuaris, kemudian ia hanya ‘berdiam diri.’
“Dalam
perjalanan karir itu kan kita perlu terus develop (pengembangan).
Caranya itu kita aktif mengikuti workshop, konferensi, selain pendidikan
formal kita. Karena itu nggak kita dapat waktu di kuliah,” tutur Ade
yang mengikuti seminar hingga ke Jerman.
Kontribusinya, terang
dia, sangat banyak. Ia bisa mengenal asuransi syariah, bagaimana cara
pengembangan produk, bisnis hingga manajemen. Ia pun cenderung lebih
banyak bergelut pada pengembangan produk dan pemasaran. Apa yang
dilakukannya ini memang sesuai dengan profesi aktuaris. Jadi, tidak
hanya sekedar hitung-hitungan keuangan perusahaan saja. Tapi, memang
posisi itu untuk melakukan perhitungan dalam membuat suatu produk
asuransi. “Ya sejauh ini saya melihat paling tidak jalurnya sudah on-track ya.
Jalurnya nggak nyimpang-nyimpang sesuai dengan background pendidikan
saya,” ucap dia ketika ditanya mengenai keseluruhan karirnya.
Kini,
ia akan berkonsentrasi di jabatan yang baru dijabatnya sejak November
2010. Ade mengaku, ia akan berusaha mengembangkan perusahaan. Baik itu
melalui pemasaran, branding, hingga komunikasi. Tantangannya saat ini,
lanjut dia, yakni bagaimana mensosialisasikan kebutuhan akan proteksi
dari asuransi. Ini harus disosialisasikan sekalipun AIA Financial masih
fokus di produk asuransi unit-link, yakni produk yang lebih dikenal
sebagai suatu investasi ketimbang proteksinya. “Karena bagaimanapun kita
harus kembali ke kebutuhan dasarnya adalah asuransi jiwa memberikan
proteksi perlindungan jiwa,” ungkapnya.
Sebelumnya, ia pun mengaku
sempat kesulitan dalam menawarkan produk asuransi jenis unit-link ini.
Saat itu, kata dia, hal yang paling menantang adalah terjadinya
pergeseran dari produk asuransi jiwa yang menawarkan hasil pengembangan
investasi yang dijamin kepada hasil investasi yang berdasarkan hasil
investasi sesuai kinerja pasar. “Hal ini bukanlah hal yang mudah karena
harus merubah cara pendekatan proses penjualan asuransi jiwa,” jelas
dia.
Oleh karena itu, di sini dibutuhkan hal-hal kreatif dalam
menawarkan produk. Transparasi harus dikedepankan di mana nasabah dapat
memilih jenis investasi sesuai dengan profil risikonya.
Terhadap
dunia asuransi nasional, ia berharap akan terus terjadi pertumbuhan.
Indonesia punya potensi besar untuk pasar asuransi jiwa. Pertama,
penetrasi asuransi jiwa masih rendah. Dan, alasan keduanya karena
kesenjangan proteksi masih ada. Artinya, masih banyak penduduk Indonesia
yang belum memegang polis asuransi. Oleh karena itu, harap dia,
industri harus terus melakukan edukasi dan sosialisasi pentingnya
proteksi asuransi jiwa dan kesehatan pada khususnya. “Melalui edukasi
ini mereka perlu mengetahui berapa sebenarnya kebutuhan yang memadai
atas proteksi asuransinya,” ungkap Ade.
Sementara itu, menurut
dia, pemerintah sebagai regulator sebenarnya sudah memiliki cetak biru
yang jelas dan lengkap tentang industri asuransi jiwa ke depan. Misalnya
saja, pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan bagaimana
membangun industri ini ke depan. Upaya pemerintah ini harus didukung.
“Karena bisnis asuransi jiwa adalah bisnis jangka panjang dan tentunya
masih sangat banyak kemajuan yang akan dicapai dalam asuransi jiwa di
masa mendatang,” tutup dia.
Sumber : kompas.com


























