| Views :180 Times |
| Rabu, 14 Desember 2011 15:21 |
Sepak terjang Gunawan dalam merintis usaha kerajinan dari batok kelapa berawal dari mengikuti jejak orangtua yang telah menjadi pengrajin selama 14 tahun. Semula ayah Gunawan membuat kerajinan bunga kering kemudian beralih membuat suvenir pensil berhias boneka dengan memanfaatkan buah “nyamplug” sebagai kepalanya. Tahun 2005, Gunawan mulai terpikir untuk menciptakan kreasi baru agar dapat bersaing. Kemudian muncul ide untuk membuat suvenir celengan berbentuk binatang dan lainnya dari batok kelapa. Pada awalnya, pengolahan bahan mentah mulai dari memetik kelapa, membersihkan batok kelapa, mengamplas, menggambar motif hingga finishing menggunakan kuas, semuanya itu dikerjakan sendiri secara manual oleh Gunawan. Lamban laun, dari hasil usahanya, ia mampu membeli mesin amplas dan mesin kompresor untuk finishing. Namun demikian, keterbatasan tempat dan kekurangan daya listrik masih tetap menjadi kendala. Awal tahun 2009, Gunawan menjadi mitra binaan Bank Mandiri melalui PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan) dan mendapat pinjaman penambah modal usaha. Dana tersebut dipakainya untuk menambah mesin serta daya listrik sehingga 2 hingga 3 orang dapat bekerja dalam waktu bersamaan. Selain itu, Gunawan juga membeli lebih banyak bahan baku batok dari para pemasoknya yaitu industri-industri kecil penghasil minyak kelapa dan geplak dengan dana pinjaman tersebut. Setelah dua kali diikutsertakaan dalam Pameran PKBL dan pameran Kerajinan di Jakarta, wilayah pemasaran produk yang semula hanya meliputi pasar Beringharjo, Malioboro dan Kasongan, saat ini Gunawan telah mendapat pelanggan dari Bali serta mampu menjual produknya di pasar Sukowati, Bali. Jumlah pegawaipun meningkat, yang semula 20 orang menjadi 30 orang. Seperti bisnis lainnya yang takkan pernah bisa lepas dari persaingan, bisnis yang dilakoni Gunawan juga terjerat persaingan. Setelah melakoni bisnis kerajinan dari batok kelapa ini, kompetitor-kompetitor mulai bermunculan. Kebanyakan di antaranya bahkan ada yang pernah bekerja dengan Gunawan sebelumnya. Lalu bagaimana reaksi Gunawan? Baginya, hal itu takkan pernah menjadi masalah asalkan dirinya dapat mempertahankan kualitas produk. Untuk mengatasi persaingan itu, Gunawan melakukan sejumlah inovasi seperti membuat model-model baru yang tak mudah ditiru serta menerapkan motif batik dalam produknya. “Buat saya munculnya pesaing yang dulunya mitra kerja tidak merisaukan. Saya justru bersyukur dapat membangkitkan gairah wirausaha di desa saya dan membantu masyarakat memeroleh penghasilan,” kata Gunawan ketika ditanya cara ia menyikapi munculnya pesaing yang meniru produknya. Ke depannya, Gunawan akan terus berkarya dan menyimpan serangkain keinginan lain demi kepentingan dan kemajuan usahanya seperti memiliki gudang sebagai tempat penyimpanan persediaan produk dengan berbagai model dan motif, menambah jumlah mesin, daya listrik dan tenaga kerja. Ia juga berharap, produknya bisa menembus pasar Semarang dan Jakarta. (*ely/dari berbagai sumber) |
Sumber:
http://ciputraentrepreneurship.com/manufaktur/13449-gunawan-menuai-laba-dari-kerajinan-batok-kelapa.html
ADVERTISEMENT










