ADVERTISEMENT

Tak hanya untuk bumbu masakan,
rempah-rempah ternyata juga bisa menjadi bahan baku kerajinan, seperti lukisan
kaligrafi. Lukisan rempah-rempah berpotensi menembus pasar internasional. Asal
bisa membaca selera pasar, prospek usaha ini cukup menjanjikan.
Indonesia sangat terkenal dengan hasil rempahnya. Banyak orang berduyun-duyun
datang ke negeri ini untuk memburu salah kekayaan alam itu. Rempah-rempah yaitu
cengkih rupanya telah menginspirasi seniman kita untuk mencipta lukisan unik.
Bahkan, lukisan ini terlihat lebih hidup dibandingkan dengan lukisan berbahan
cat.
Syahputra adalah kreatornya. Ia membuat lukisan kaligafi dari rempah-rempah
karena harga bahan bakunya lebih murah dan gampang diperoleh. Ia menggunakan
rempah-rempah, seperti, cabai, daun teh, biji weewood,
ketumbar, tepung kanji, biji saga, daun waru, dan cengkih untuk melukis
kaligrafi. Sebelumnya, bahan baku itu diolah dengan campuran bahan kimia supaya
lebih awet.
Semua bahan baku itu, Syahputra dapat dari pasar tradisional. Namun, khusus
untuk cengkih, ia selalu memesannya dari Sumatera, karena cengkih dari sana
lebih halus kualitasnya. Jika ia mendapatkan cengkih yang kasar, ia harus
menggilingnya terlebih dulu. Rempah-rempah yang halus lebih mudah ditempel.
Untuk menempelkannya, ia menggunakan lem khusus yang dioleskan sesuai bentuk gambar
atau motif yang diinginkan. Untuk membuatnya memerlukan ketelitian, karena
prosesnya cukup rumit. Sebab, jika melewatkan satu detail saja, maka
kesalahannya bisa fatal,” ujar Syahputra.
Bumbu dapur memiliki warna-warna yang cantik alami sehingga warna lukisan pun
tetap menarik. Syahputra mendapatkan warna merah dari kulit cabai. Kelir hijau
berasal dari potongan sayur, dan kuning dari kunyit. Proses pembuatan lukisan
membutuhkan waktu dua hingga tiga hari. Lamanya pengerjaan sangat tergantung
dari cuaca untuk mengeringkan bahan baku. Bahan baku harus kering supaya gambar
yang dihasilkan benar-benar terlihat nyata. Namun, jika musim hujan datang
berkepanjangan, ia pun memakai lampu dengan watt tinggi untuk mengeringkan
lukisan tersebut. Sayang, barang kerajinan rempah belum terlalu banyak
peminatnya. Menurut Syahputra hal ini karena masyarakat meragukan keawetan
kerajinan berbahan cengkih. Padahal kerajinan rempah-rempah termasuk barang
yang tahan lama.
Modal yang besar juga menjadi faktor utama bisnis kerajinan ini. Syahputra
menuturkan, untuk membuat sebuah lukisan diperlukan modal Rp 500.000 hingga Rp
1 juta. Modal terus membengkak, lantaran saat ini harga bahan baku terus
merangkak naik. Kalau kebutuhan pokok dapur naik, otomatis harga lukisan juga kian
mahal, kata Syahputra.
Syahputra membedakan harga lukisannya berdasarkan ukuran. Ia menyediakan tiga
ukuran lukisan, yakni 90 x 122 cm, 50 x 122 cm, dan 35 x 122 cm. Harganya
berkisar antara Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta.
Inovasi ini sekiranya dapat menjadikan kerajinan Indonesia dikagumi dan lebih
dikenal dunia. Para pencipta seni kreatif seperti ini sepatutnya memiliki
kemudahan akses untuk mengikuti pameran internasonal dan kemudahan berpromosi
lewat dunia maya alias internet. (*/
rempah-rempah ternyata juga bisa menjadi bahan baku kerajinan, seperti lukisan
kaligrafi. Lukisan rempah-rempah berpotensi menembus pasar internasional. Asal
bisa membaca selera pasar, prospek usaha ini cukup menjanjikan.
Indonesia sangat terkenal dengan hasil rempahnya. Banyak orang berduyun-duyun
datang ke negeri ini untuk memburu salah kekayaan alam itu. Rempah-rempah yaitu
cengkih rupanya telah menginspirasi seniman kita untuk mencipta lukisan unik.
Bahkan, lukisan ini terlihat lebih hidup dibandingkan dengan lukisan berbahan
cat.
Syahputra adalah kreatornya. Ia membuat lukisan kaligafi dari rempah-rempah
karena harga bahan bakunya lebih murah dan gampang diperoleh. Ia menggunakan
rempah-rempah, seperti, cabai, daun teh, biji weewood,
ketumbar, tepung kanji, biji saga, daun waru, dan cengkih untuk melukis
kaligrafi. Sebelumnya, bahan baku itu diolah dengan campuran bahan kimia supaya
lebih awet.
Semua bahan baku itu, Syahputra dapat dari pasar tradisional. Namun, khusus
untuk cengkih, ia selalu memesannya dari Sumatera, karena cengkih dari sana
lebih halus kualitasnya. Jika ia mendapatkan cengkih yang kasar, ia harus
menggilingnya terlebih dulu. Rempah-rempah yang halus lebih mudah ditempel.
Untuk menempelkannya, ia menggunakan lem khusus yang dioleskan sesuai bentuk gambar
atau motif yang diinginkan. Untuk membuatnya memerlukan ketelitian, karena
prosesnya cukup rumit. Sebab, jika melewatkan satu detail saja, maka
kesalahannya bisa fatal,” ujar Syahputra.
Bumbu dapur memiliki warna-warna yang cantik alami sehingga warna lukisan pun
tetap menarik. Syahputra mendapatkan warna merah dari kulit cabai. Kelir hijau
berasal dari potongan sayur, dan kuning dari kunyit. Proses pembuatan lukisan
membutuhkan waktu dua hingga tiga hari. Lamanya pengerjaan sangat tergantung
dari cuaca untuk mengeringkan bahan baku. Bahan baku harus kering supaya gambar
yang dihasilkan benar-benar terlihat nyata. Namun, jika musim hujan datang
berkepanjangan, ia pun memakai lampu dengan watt tinggi untuk mengeringkan
lukisan tersebut. Sayang, barang kerajinan rempah belum terlalu banyak
peminatnya. Menurut Syahputra hal ini karena masyarakat meragukan keawetan
kerajinan berbahan cengkih. Padahal kerajinan rempah-rempah termasuk barang
yang tahan lama.
Modal yang besar juga menjadi faktor utama bisnis kerajinan ini. Syahputra
menuturkan, untuk membuat sebuah lukisan diperlukan modal Rp 500.000 hingga Rp
1 juta. Modal terus membengkak, lantaran saat ini harga bahan baku terus
merangkak naik. Kalau kebutuhan pokok dapur naik, otomatis harga lukisan juga kian
mahal, kata Syahputra.
Syahputra membedakan harga lukisannya berdasarkan ukuran. Ia menyediakan tiga
ukuran lukisan, yakni 90 x 122 cm, 50 x 122 cm, dan 35 x 122 cm. Harganya
berkisar antara Rp 1 juta sampai Rp 2,5 juta.
Inovasi ini sekiranya dapat menjadikan kerajinan Indonesia dikagumi dan lebih
dikenal dunia. Para pencipta seni kreatif seperti ini sepatutnya memiliki
kemudahan akses untuk mengikuti pameran internasonal dan kemudahan berpromosi
lewat dunia maya alias internet. (*/
Kontan)
Sumber : ciputraentreprenuerchip.com









