ADVERTISEMENT

Kiki Gumelar, pengusaha muda ini
berhasil meraih UKM Award 2010, untuk kategori inovasi produk. Chocodot, atau
cokelat isi dodol, dinilai dewan juri sebagai produk yang inovatif.
Penghargaan itu memotivasi saya untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi
daerah Garut melalui kuliner, sekaligus mengajak generasi muda mengembangkan
potensi dirinya. Penghargaan ini membuktikan bahwa orang muda dari kota kecil
pun bisa menjual kreativitasnya,” kata Kiki Gumelar, pemilik usaha UD Tama
Cokelat kepada Warta Kota, seusai menerima penghargaan UKM Award 2010 dari
Wakil Presiden Boediono pada acara pembukaan pameran ‘Trade Expo Indonesia dan
Pangan Nusa 2010’ di Jakarta Expo Kemayoran, baru-baru ini.
Kiki sebenarnya baru mengembangkan usahanya itu satu tahun yang lalu. Tetapi
tak disangka perkembangannya melesat cepat berkat kerja keras dan kreativitasnya.
Kreasi pertamanya adalah chocodot, di-launching pada 17 Juli 2009. “Sampai
saat ini, saya sudah menghasilkan sembilan produk,” katanya.
Kiki sampai saat ini sudah memiliki empat outlet yang semuanya berada di Garut.
“Tapi, pembelinya 80 persen adalah orang Jakarta dan Bandung yang datang
ke Garut. Hanya 20 persen, pembelinya orang Garut,” kata Kiki yang hobi
makan itu.
Selain chocodot, Kiki Gumelar yang akrab disapa Aa Gumelar itu mempunyai produk
lainnya seperti, brodol alias brownies isi dodol; gagel alias Garut geulis
cokelat, yaitu cokelat isi cream buah dengan kemasan besek tradisional; dan Van
Java Cokelat, yaitu cokelat dengan rasa rempah-rempah khas Parahyangan.
Untuk produk yang disebutkan terakhir itu, Kiki memiliki berbagai varian rasa,
seperti, cokelat rasa bandrek, bajigur, beras cikor, sekuteng, jahe, cabai
hingga kacang.
Kiki mengatakan, saat ini produksinya mencapai lima ton cokelat dan dua ton
dodol/bulan untuk membuat berbagai produk pangan itu. “Saya juga
memasarkan chocodot dan yang lainnya lewat internet. Pembelinya dari berbagai
daerah, termasuk dari Singapura,” kata Kiki.
Ketika masih bekerja sebagai orang kantoran, Kiki pernah bermimpi ingin
memiliki usaha sendiri pada usia 30 tahun. Tapi, dia baru berani keluar dari
zona aman itu setelah tujuh tahun bekerja. “Saya bersyukur dapat
mewujudkan cita-cita itu,” kata pria kelahiran Garut yang pada tanggal 17
November 2010 berusia 30 tahun.
Kiki mengaku, keinginannya yang kuat untuk pulang kampung, berkumpul dengan
orangtuanya dan ikut membangun Garut, membawanya menggeluti dunia bisnis.
“Tadinya hanya iseng, belum fokus pada bisnis. Tapi, seiring dengan
berjalannya waktu dan tidak punya pekerjaan lagi, akhirnya saya serius
membangun usaha ini,” kata Kiki.
Sebelumnya, Kiki pernah bekerja di Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta. Di Kota
Gudeg itu, dia sudah bekerja selama lima tahun, bahkan sudah memiliki rumah dan
keluarga. Kiki juga mengaku, faktor lain yang memaksanya berpikir pulang
kampung karena dia bercerai dengan istrinya.
Musibah yang dihadapinya itu dapat disikapi dengan positif dan membangun
kembali masa depannya. Buktinya, Kiki dapat bangkit hingga berhasil meraih
berbagai penghargaan. Antara lain, meraih Garut Award 2010 bidang inovasi
produk buah tangan Garut pada Agustus 2010.
Kiki mengaku, sejak awal dia ingin mengembangkan potensi daerah Garut. Oleh
karena hobinya makan, dia ingin mengembangkan dunia kuliner.
“Dengan menerapkan strategi blue ocean, saya berupaya bikin produk yang
unik berbasis dodol supaya saya tidak punya saingan. Di situlah, saya ketemu
ide bikin cokelat isi dodol,” katanya.
Lewat chocodot, Kiki ingin mengajak masyarakat mengonsumsi dodol dengan cara
berbeda. Sebab, dodolnya dibalut cokelat. “Mungkin anak muda sudah tak
suka dodol. Tapi mereka kan suka cokelat. Itulah cara saya mengangkat kembali
kejayaan dodol dengan cara kreatif,” katanya.
Setelah eksperimen selama satu bulan membuat chocodot dinilainya berhasil, Kiki
nekat untuk memulai usahanya. Tanpa banyak pikir panjang, dia mulai mengontrak
rumah untuk tempat usahanya. Lalu, membeli peralatan produksi serta membuat
brosur dan kartu nama.
“Modal awal usaha itu, berasal dari kartu kredit sebesar Rp 17 juta. Lalu,
saya juga dipercaya orang untuk ngutang bahan baku cokelat senilai Rp 25 juta.
Dengan membaca bismillah, saya jalan, saya yakin berhasil,” ujarnya.
Ternyata usaha dan kreativitas Kiki terbukti membuahkan hasil. “Untuk
mulai usaha, jangan terlalu banyak mikir. Lakukan saja,” kata Kiki
semangat. (*/Warta Kota)
berhasil meraih UKM Award 2010, untuk kategori inovasi produk. Chocodot, atau
cokelat isi dodol, dinilai dewan juri sebagai produk yang inovatif.
Penghargaan itu memotivasi saya untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi
daerah Garut melalui kuliner, sekaligus mengajak generasi muda mengembangkan
potensi dirinya. Penghargaan ini membuktikan bahwa orang muda dari kota kecil
pun bisa menjual kreativitasnya,” kata Kiki Gumelar, pemilik usaha UD Tama
Cokelat kepada Warta Kota, seusai menerima penghargaan UKM Award 2010 dari
Wakil Presiden Boediono pada acara pembukaan pameran ‘Trade Expo Indonesia dan
Pangan Nusa 2010’ di Jakarta Expo Kemayoran, baru-baru ini.
Kiki sebenarnya baru mengembangkan usahanya itu satu tahun yang lalu. Tetapi
tak disangka perkembangannya melesat cepat berkat kerja keras dan kreativitasnya.
Kreasi pertamanya adalah chocodot, di-launching pada 17 Juli 2009. “Sampai
saat ini, saya sudah menghasilkan sembilan produk,” katanya.
Kiki sampai saat ini sudah memiliki empat outlet yang semuanya berada di Garut.
“Tapi, pembelinya 80 persen adalah orang Jakarta dan Bandung yang datang
ke Garut. Hanya 20 persen, pembelinya orang Garut,” kata Kiki yang hobi
makan itu.
Selain chocodot, Kiki Gumelar yang akrab disapa Aa Gumelar itu mempunyai produk
lainnya seperti, brodol alias brownies isi dodol; gagel alias Garut geulis
cokelat, yaitu cokelat isi cream buah dengan kemasan besek tradisional; dan Van
Java Cokelat, yaitu cokelat dengan rasa rempah-rempah khas Parahyangan.
Untuk produk yang disebutkan terakhir itu, Kiki memiliki berbagai varian rasa,
seperti, cokelat rasa bandrek, bajigur, beras cikor, sekuteng, jahe, cabai
hingga kacang.
Kiki mengatakan, saat ini produksinya mencapai lima ton cokelat dan dua ton
dodol/bulan untuk membuat berbagai produk pangan itu. “Saya juga
memasarkan chocodot dan yang lainnya lewat internet. Pembelinya dari berbagai
daerah, termasuk dari Singapura,” kata Kiki.
Ketika masih bekerja sebagai orang kantoran, Kiki pernah bermimpi ingin
memiliki usaha sendiri pada usia 30 tahun. Tapi, dia baru berani keluar dari
zona aman itu setelah tujuh tahun bekerja. “Saya bersyukur dapat
mewujudkan cita-cita itu,” kata pria kelahiran Garut yang pada tanggal 17
November 2010 berusia 30 tahun.
Kiki mengaku, keinginannya yang kuat untuk pulang kampung, berkumpul dengan
orangtuanya dan ikut membangun Garut, membawanya menggeluti dunia bisnis.
“Tadinya hanya iseng, belum fokus pada bisnis. Tapi, seiring dengan
berjalannya waktu dan tidak punya pekerjaan lagi, akhirnya saya serius
membangun usaha ini,” kata Kiki.
Sebelumnya, Kiki pernah bekerja di Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta. Di Kota
Gudeg itu, dia sudah bekerja selama lima tahun, bahkan sudah memiliki rumah dan
keluarga. Kiki juga mengaku, faktor lain yang memaksanya berpikir pulang
kampung karena dia bercerai dengan istrinya.
Musibah yang dihadapinya itu dapat disikapi dengan positif dan membangun
kembali masa depannya. Buktinya, Kiki dapat bangkit hingga berhasil meraih
berbagai penghargaan. Antara lain, meraih Garut Award 2010 bidang inovasi
produk buah tangan Garut pada Agustus 2010.
Kiki mengaku, sejak awal dia ingin mengembangkan potensi daerah Garut. Oleh
karena hobinya makan, dia ingin mengembangkan dunia kuliner.
“Dengan menerapkan strategi blue ocean, saya berupaya bikin produk yang
unik berbasis dodol supaya saya tidak punya saingan. Di situlah, saya ketemu
ide bikin cokelat isi dodol,” katanya.
Lewat chocodot, Kiki ingin mengajak masyarakat mengonsumsi dodol dengan cara
berbeda. Sebab, dodolnya dibalut cokelat. “Mungkin anak muda sudah tak
suka dodol. Tapi mereka kan suka cokelat. Itulah cara saya mengangkat kembali
kejayaan dodol dengan cara kreatif,” katanya.
Setelah eksperimen selama satu bulan membuat chocodot dinilainya berhasil, Kiki
nekat untuk memulai usahanya. Tanpa banyak pikir panjang, dia mulai mengontrak
rumah untuk tempat usahanya. Lalu, membeli peralatan produksi serta membuat
brosur dan kartu nama.
“Modal awal usaha itu, berasal dari kartu kredit sebesar Rp 17 juta. Lalu,
saya juga dipercaya orang untuk ngutang bahan baku cokelat senilai Rp 25 juta.
Dengan membaca bismillah, saya jalan, saya yakin berhasil,” ujarnya.
Ternyata usaha dan kreativitas Kiki terbukti membuahkan hasil. “Untuk
mulai usaha, jangan terlalu banyak mikir. Lakukan saja,” kata Kiki
semangat. (*/Warta Kota)
Sumber : ciputraentreprenuerchip.com











