INSYA ALLAH SEBAGAI PENGAKUAN KELEMAHAN DIRI
: Azwir B. Chaniago
wajib untuk mengakui bahwa dirinya adalah fakir, lemah dan hakikatnya tidak memiliki apa apa kecuali yang
dianugerahkan Allah kepada mereka untuk dipakai dan dimanfaatkan sementara. Bahkan
semua yang dianugerahkan Allah haruslah digunakan dalam rangka pengabdian
kepada-Nya.
demikian di zaman ini ada sebagian manusia yang sangat percaya diri, merasa
kuat dan merasa mampu melakukan apa yang diinginkannya. Mereka merasa mampu
melakukan segala sesuatu yang mereka rencanakan saat ini dan pada waktu yang
akan datang. Perasaan percaya diri yang demikian besar ini bisa timbul tersebab
mereka merasa : (1) Memiliki ilmu dan berbagai keahlian. (2) Memiliki
harta yang banyak. (3) Memiliki pangkat, jabatan atau kedudukan penting dan
strategis. (4) Memiliki pengikut,
asisten, banyak pengawal dan yang lainnya.
bahwa rasa percaya diri yang tinggi ini, bisa jadi pada suatu waktu mendatangkan
bahaya besar. Seolah olah mereka merasa mampu melakukan apapun kapan dia mau
dengan modal kelebihan kelebihan yang ada pada dirinya.
mereka lupa akan hak prerogatif Allah
Ta’ala sebagai pemilik langit dan bumi beserta segala apa yang ada di dalamnya.
Ketahuilah bahwa segala sesuatu berada pada ketetapan, keputusan serta idzin
Allah semata. Manusia hanya bisa berusaha bahkan dianjurkan untuk berusaha
untuk memperoleh kebaikan bagi dirinya. Lalu hasilnya adalah kembali kepada
ketetapan Allah seratus persen.
bahwa Allah Ta’ala telah memberikan bimbingan kepada Rasulullah Salallahu
‘alaihi Wasallam yaitu setiap kali akan melaksanakan sesuatu pada waktu yang
akan datang agar mengucapkan satu kalimat penting yaitu : INSYA ALLAH yang
bermakna : JIKA ALLAH MENGHENDAKI.
ini telah dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya : “Dan jangan sekali kali engkau mengatakan terhadap sesuatu : Aku pasti
melakukan itu besok pagi. Kecuali (dengan mengatakan) : Insya Allah. Dan
ingatlah kepada Rabb-mu apabila engkau lupa dan katakanlah : Mudah mudahan
Rabb-ku akan memberi petunjuk kepadaku agar aku lebih dekat (kebenarannya)
daripada ini” (Q.S al Kahfi 23-24).
Ibn Jarir At Thabari berkata : Ayat ini berisi bimbingan adab untuk Nabi
Salallahu ‘alaihi Wasallam. Beliau dilarang untuk memastikan apa yang akan
terjadi di masa yang akan datang, melainkan dengan menyandarkannya kepada
kehendak Allah. Sebab segala sesuatu hanya bisa terjadi apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala menghedaki.
mengatakan : Ini adalah petunjuk dari Allah kepada Rasul-Nya kepada adab. Yaitu jika beliau telah memiliki
tekad untuk mengerjakan sesuatu di masa yang akan datang, hendaknya
mengembalikan hal itu kepada Masyi-ah (Kehendak) Allah Azza Wa Jalla, Yang Maha
Mengetahui perkara yang ghaib. Yang Maha Mengetahui apa yang telah terjadi, apa
yang sedang terjadi dan akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi serta
bagaimana kalau terjadi (Tafsir Ibn Katsir).
ketika berencana untuk melakukan suatu
perbuatan baik, diwaktu yang akan datang, memiliki banyak faedah :
kesadaran diri bahwa segala sesuatu hanya akan terjadi dengan kehendak Allah
Ta’ala.
karenanya seorang hamba pasti membutuhkan pertolongan Allah Ta’ala. Dengan
demikian bisa jauh dari sifat sombong.
isti’anah (minta pertolongan) kepada Allah agar dimudahkan mengerjakan apa yang
direncanakan oleh seorang hamba.
Barangsiapa yang mengucapkan Insya Allah, sambil
menyadari kelemahan dirinya dan meminta bantuan dari Allah Ta’ala, maka besar kemungkinan ia akan memperoleh apa
yang diharapkannya.
dirinya mengucapkan kalimat ini ketika berjanji atau berencana mengerjakan
suatu keperluan di waktu yang akan datang. Orang
beriman sangatlah butuh mengucapkan kalimat Insya Allah ini karena ia
tidak tahu apakah perkara yang akan dikerjakannya itu akan benar-benar bisa
terjadi atau tidak.
semua. Wallahu A’lam (957)





































