Selepas dari Venezia spa, jam makan siang sudah lama berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dan perut kami sudah kelaparan berat. Ada satu resto ayam betutu terkenal yang direkomendasikan di TripAdvisor, yaitu ayam betutu Pak Sanur di jalan Arjuna. Walau mbak yang betugas di spa Venezia mengatakan resto itu kemungkinan sudah tutup karena terlalu siang, kami tetap meluncur kesana menggunakan motor. Tidak susah menemukannya, tapi apesnya restoran ini telah tutup.ย Kami pergi ke pasar Ubud, Lily memarkirkan motornya di tempat parkir didepan pasar yang padat. Waktu kemudian dihabiskan dengan berjalan menyusuri pasar, tidak terlalu berminat membeli aneka barang yang dijual disana karena terkenal dengan harganya yang mahal. Saya hanya melihat-lihat sambil sesekali mengambil foto. Haus yang menyengat akhirnya membawa saya dan Lily mencari kafe yang enak buat nongkrong. Terus terang, walau sepanjang jalan raya Ubud dipenuhi dengan aneka kafe tapi tidak ada satupun yang menarik minat saya. Makanan yang disajikan adalah menu internasional, atau makanan biasa seperti seperti sapi lada hitam, mi goreng, atau nasi goreng. Susah menemukan masakan Bali lokal di kafe-kafe sepanjang jalanan ini.
Kami akhirnya masuk ke satu kafe yang terletak di sebelah restoran Italia, berseberangan dengan Starbucks, saya lupa dengan nama kafenya. Kebetulan meja yang diincarย tidak ada yang menduduki, letaknya pasย ditepian jalan sehingga mudah memandang turis berlalu lalang. Memutuskan tidak makan – tidak ada menu menarik yang membuat saya ingin mencoba dan harga makanannya tobat mahalnya – jadi kami hanya memesan dua gelas es kopi. Pelayannya luar biasa ramah, menawarkan promo diskon untuk pembelian tertentu, danย memberikan kartu namanya. Saya impressed dengan gayanya yang menghargai turis domestik seperti kami, walau hanya hanya membeli dua gelas es kopi saja. Di Bali, es kopi yang disajikan umumnya berbentuk milk shake dengan es krim sebagai toppingnya. Lumayan berat kalorinya jadi makanan sama sekali tidak diperlukan. Selama di Bali, jalan kaki, aktifitas yang padat, makan yang tidak berlebihan membuat berat badan saya turun sebanyak 3 kg dengan cepat. Luar biasa!
Dudukย di kafe memandang turis-turis asing berlalu-lalang dengan aneka busana dan gaya mereka menjadi cara membunuh waktu yang menyenangkan. Turis Western biasanya mengenakan pakaian musim panas dengan bahan sesedikit mungkin menempel di badan, kaki beralaskan sepatu kets atau sandal tipis, dengan tas punggung atau tas selempang simple. Turis Korea dan China biasanya kebalikannya, mereka justru mengenakan pakaian berenda-renda yang panjang hingga menyentuh mata kaki, sepatu berhak tinggi, full make up dengan topi lebar ala-ala Little Missy. Turis domestik seperti saya biasanya mengenakan pakaian full tertutup, mulai dari celana jeans panjang, kemeja lengan panjang atau jaket untuk menghalau sinar matahariย





































