tidak diharapkan oleh ustdaz atau juru dakwah. Diantaranya adalah :
Barangkali ada orang orang merasa
ilmunya sudah cukup sehingga tak perlu lagi hadir di majlis ilmu. Saat ini
memang pasar yang menawarkan kenikmatan dunia akan selalu ramai bahkan berdesak
desak, tapi pasar yang menawarkan kenikmatan akhirat sangat sering sepi
pengunjung.
banyak diantara jamaah yang tidak dengan sungguh sungguh mengikuti kajian yang
disampaikan. Misalnya ada yang sambil bersandar dan cenderung mengantuk. Ada
lagi yang sambil mengobrol dengan jamaah yang lain, sambil SMS-an atau BBM-an
bahkan ada pula yang sambil makan makanan kecil dan sambil minum.
ribuan orang. Alhamdulillah.
memang banyak orang sangat perhatian terhadap apa apa yang ditawarkan untuk
kebutuhan dunia tapi ada banyak orang
merasa tidak perlu memperhatikan apa yang ditawarkan untuk kebutuhan akhirat. Dengan
kata lain disebut terlalu cinta dunia.
Allah meridhai kita semua. Janganlah bersedih dengan keadaan ini. Ketahuilah
bahwa itu adalah ujian dalam berdakwah di akhir zaman. Kalau zaman dahulu orang
orang memang sangat haus dalam mencari ilmu. Bahkan ada yang rela melakukan
perjalanan berhari hari untuk mendapatkan sebuah hadits tapi sungguh pada akhir
zaman ini keadaan sudah banyak berobah.
Andaikata saat ini kita mendatangi rumah seseorang dan
kita berkata : Ya akhi saya hafal sebuah hadits shahih. Apakah engkau mau kalau
aku ajarkan kepada engkau hadits tersebut. Kemungkinan besar tawaran ini tidak
akan diperhatikan atau mungkin juga dianggap aneh. Mungkin dalam hatinya dia
berkata : Itu orang, datang datang menawarkan hadits. Saya pikir tadi mau
menawarkan barang elektronik atau handphone tipe terbaru.
keadaan ini namun bukan dijadikan alasan untuk bersedih dalam dakwah. Justru
ini adalah tantangan yang seharusnya menjadi tambahan dorongan dan semangat
untuk berdakwah.
juru dakwah agar tidak bersedih dan
tetap tegar dalam menyampaikan dakwahnya. Insya Allah ini akan bermanfaat terutama bagi
saudara saudara kami yang baru mulai melangkah untuk berdakwah. Diantaranya adalah :
dalam semua jenis ibadah termasuk dalam berdakwah. Sampaikanlah kebenaran dari
Kalamullah dan as Sunnah. Jika keikhlasan telah dipegang dengan kuat dan
kebenaran telah disampaikan maka semua hambatan apalagi kesedihan, insya Allah
akan sirna.
kesempatan yang sangat mulia untuk berdakwah yaitu : “Mengajak manusia agar
beriman kepada Allah dan segala yang dibawa oleh Rasul-Nya dengan membenarkan
apa yang diberitakan dan mengikuti apa yang diperintahkan”. (Makna dakwah
menurut Imam Ibnul Qayyim, Madarijus Saalikin).
agung dari Allah Ta’ala untuk berdakwah. Sungguh sangatlah banyak perintah Allah dalam al Qur-an, kepada orang
yang beriman untuk berdakwah dan Allah menyifatinya sebagai orang orang yang
beruntung.
yad’uuna ilal khairi wa ya’muruuna bil ma’ruufi wa yanhauna ‘anil munkar, wa
ulaaika humul muflihuun” Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang
yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari
yang mungkar. Dan mereka itulah orang orang yang beruntung. (Q.S Ali
Imran 104)
yang telah memberikan pujian tentulah tidak ada lagi alasan bagi kita untuk
bersedih dalam berdakwah betapapun besar tantangannya.
innanii minal muslimiin” Dan siapakah yang yang lebih baik perkataannya
daripada orang orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan amal shalih dan
berkata, sungguh aku termasuk orang orang muslim. (Q.S Fussilat 33).
memperhatikan maka ketahuilah bahwa antum telah melaksanakan suatu kewajiban.
Adapun hisabnya adalah kelak di akhirat. Allah berfirman : “Lasta ‘alaihim
bi mushaithir” Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka (Q.S al
Ghasyiyah 22).
pengikut tapi sungguh tidaklah berkurang
kedudukannya disisi Allah karena dia telah menyampaikan dakwahnya.
lalu aku melihat ada seorang Nabi bersama tiga pengikutnya, ada Nabi bersama
satu atau dua pengikut dan ada seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut satu
pun” (Lihat Silsilah ash Shahihah).
yang sangat jelas bahwa banyak dan sedikitnya pengikut bukan timbangan benar
atau salahnya seorang juru dakwah. Didalam hadits ini juga terdapat pelajaran
bagi para juru dakwah untuk terus berdakwah tanpa perlu menghiraukan sedikitnya
orang yang menerima dakwahnya karena kewajibannya hanyalah menyampaikan.
sedikit orang yang mau belajar ilmu syar’i. Tetaplah menjaga semangat untuk
mengajar mereka kepada jalan kebaikan. Ulama ulama terdahulu yang jauh lebih
berilmu dari pada kita, terkadang juga
memiliki sedikit orang yang hadir di majlisnya. Diantaranya adalah disebutkan
dalam Siyar A’lam an Nubala’ :
Imam Malik bin Anas berkata : (Pada suatu waktu) Aku mendatangi
Nafi’ (seorang ulama besar) ketika usiaku masih kecil bersama seorang temanku,
beliaupun turun untuk mengajariku. Beliau duduk setelah shalat shubuh di masjid
namun tidak ada seorangpun yang datang kepadanya (untuk belajar)
Al Imam Atha’ bin Rabbah (seorang ulama besar
dizamannya) yang dicintai manusia di zamannya, namun yang hadir di majlisnya (terkadang)
hanyalah delapan atau sembilan orang saja.





































