tabiat. Salah satu sifat atau tabiat yang ada pada diri setiap orang adalah tabiat
tergesa gesa. Tergesa gesa untuk mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan
ataupun tergesa gesa untuk melihat hasil usahanya.
(itu) bersifat tergesa gesa. (Q.S al Isra’ 11)
diciptakan (bersifat) tergesa gesa. (Q.S al Anbiyaa’ 37)
dianjurkan, sering merugikan dan mendatangkan penyesalan dikemudian hari.
Rasulullah mengingatkan bahwa tergesa gesa itu dari syaithan. Rasulullah
bersabda : “Atta’anni minallah wa ‘ajaltu minasy syaithan. Ketenangan
adalah dari Allah sedangkan tergesa gesa itu datangnya dari syaithan. (H.R Abu
Ya’la dan al Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh al Albani).
dikemudian hari. Orang yang memiliki sikap tergesa gesa sering mengabaikan
akibat buruk dari perkataan atau pun perbuatannya. Biasanya dia belum sempat
berfikir jernih lalu dengan tergesa gesa, langsung berkata ataupun berbuat.
Setelah itu baru merasa ada penyesalan. Akhirnya dia berkata kenapa tadi saya mengatakan itu atau
kenapa saya berbuat begini.
disebutkan bahwa seorang ‘alim yaitu Dzun
Nun Tsamban bin Ibrahim, seorang murid Imam Malik pernah berkata : Ada empat
hal yang memiliki buah yaitu :
buahnya adalah dibenci manusia.
Harun al Rasyid ingin mengangkat seorang qadhi atau hakim. Orang yang akan
diangkat itu berkata : Ya Khalifah, saya tidak layak menjadi qadhi. Saya tidak
banyak memahami ilmu fiqih.
keutamaan :
menghindarkan seseorang dari kerendahan.
menghindarkan seseorang dari ketergesa gesaan. Barangsiapa yang tidak
tergesa gesa maka akan sedikit kesalahannya.
bermusyawarah maka akan banyak benarnya.
akan mengumpulkan ahlinya untuk membantumu. Kemudian orang itu diangkat sebagai
qadhi. Selama menjalani tugasnya sebagai
qadhi dia tidak mendapat celaan terhadap dirinya.
sikap tidak tergesa gesa akan mendatangkan
manfaat, jauh dari penyesalan dan
sedikit kesalahan.
huluma bit tahallum. Waman yatahararal kahira yu’tihi waman yatawaqqay syarra
yuuqah” Sesungguhnya ilmu didapat dengan belajar dan sesungguhnya hilm
(ketenangan, kesabaran) didapat dengan melatihnya. Barangsiapa yang berusaha
untuk mendapatkan kebaikan maka Allah akan memberikannya. Barang siapa yang
berusaha untuk menghindari keburukan niscaya akan terhindar darinya (H.R ath
Thabrani, dihasankan oleh Syaikh al Albani).
cenderung mendatangkan keburukan, diantaranya adalah :
minta segera dikabulkan. Bahkan ada diantara manusia yang putus asa dalam
berdoa karena dia merasa Allah belum juga mengabulkan doanya. Ada yang berkata : Aku sudah capek berdoa tapi
belum juga dikabulkan. Akhirnya dia berhenti berdoa. Pada hal Allah telah
menjanjikan pengabulan doa bagi hamba hamba-Nya.
ya’jal, yaquulu : Qad da’autu falam yustajab lii” Senantiasa akan dikabulkan
doa salah seorang dari kamu selama ia tidak tergesa gesa
(untuk dikabulkan), yakni berkata : Aku sudah berdoa namun tidak dikabulkan
bagiku. (H.R Imam Bukhari dari Abu Hurairah).
perkataannya, jelas dan tidak tergesa gesa dalam berbicara. Dengan demikian
para sahabat mudah memahami dan mengerti apa yang beliau katakan dan apa yang
beliau nasehatkan.
pernah mengingatkan Abu Hurairah ketika pada suatu kali dia berbicara dengan
cepat, terburu buru.
dalam ibadah ataupun muamalah dan yang
lainnya, maka janganlah tergesa gesa dalam menyalahkan apalagi sampai
mencelanya. Pastikan dulu bahwa yang dia lakukan itu betul betul suatu
kesalahan yang pantas diingkari dalam timbangan syariat. Kalau sudah jelas bahwa yang dilakukan itu
adalah memang kesalahan maka beri
nasehat untuk perbaikan.
berilmu, ahli tafsir, murid Ibnu Abbas, jika pada suatu waktu beliau melihat
seseorang melakukan suatu ibadah berbeda dengan yang beliau ketahui dan yang
beliau amalkan maka beliau tidak langsung menyalahkan. Beliau mengambil sikap
baik sangka dulu. Beliau akan berkata dalam dirinya : (1) Orang ini mungkin belum tahu (2) Orang ini
mungkin lupa (3) Orang ini mungkin terpaksa atau (4) Orang ini lebih tahu
daripada saya.
demikian barulah beliau bertanya
kepada orang tersebut kenapa dia melakukan seperti itu. Tidak seperti yang
diketahui beliau. Pada hal beliau adalah orang yang sangat berilmu, sangat
‘alim, tapi tidak tergesa gesa dalam menyalahkan. Bandingkan dengan sebagian orang orang di
zaman sekarang. Begitu melihat saudaranya melakukan suatu ibadah yang berbeda
dengan yang dipahami dan yang diamalkannya maka langsung menyalahkan bahkan
sampai ada yang mencela. Padahal ilmunya, jika dibandingkan dengan Said bin
Jubair tentu masih sangat jauh.
hasilnya.
tahap pemula. Baru belajar beberapa waktu dan ilmu belum seberapa sudah ingin
segera naik mimbar memberi tausiah. Ini bisa berakibat banyak salahnya dari
benarnya karena tergesa gesa. Ketahuilah bahwa ilmu syar’i tidak dapat
diperoleh dalam waktu singkat, tapi butuh waktu, kesabaran dan ketekunan.
Imam asy Syafi’i kepada penuntut ilmu yang beliau tulis dalam bentuk syair.
Nasehat tersebut berisi enam perkara yaitu :
jelas
(2) KEMAUAN KERAS, (3) BERSUNGGUH
SUNGGUH, (4) BEKAL YANG CUKUP, (5) BIMBINGAN
GURU DAN (6) WAKTUNYA YANG LAMA.
oleh para Rasul-Nya serta ajakan kepada menta’atinya dengan sesuatu yang mereka
perintahkan (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah)
hasilnya dalam sekejap. Seorang da’i janganlah bersedih apalagi berputus asa,
jika dakwahnya belum memberikan hasil.
Sangat tidaklah mudah mengajak seseorang yang terbiasa dan dalam waktu yang
cukup lama berada dalam kubangan
kemaksiatan untuk bisa dalam sekejap berubah. Jangan lupa bahwa hidayah itu
adalah dari Allah dan para da’i hanya sebagai penyeru.
angsur. Tidaklah mungkin melihat hasil
dakwah dengan segera. Janganlah tergesa
gesa untuk bisa melihat hasil dakwahya. Tapi teruslah berdakwah dengan ikhlas
mencari ridha Allah semata.
khamer adalah juga secara bertahap sebelum larangan secara total sebagaimana
dimaksud dalam surat al Maidah 90.
di Makkah, dikampung halaman beliau sendiri selama 10 tahun, belum
memperlihatkan hasil yang banyak. Hasil dakwah beliau barulah sepenuhnya
berhasil pada saat beliau berada di Madinah selama 13 tahun.
dengan ilmu yang mumpuni yang disandarkan kepada al Qur an, as Sunnah. Tidaklah
pantas bagi seseorang ketika ditanya
sesuatu tentang agama ini, serta merta menjawab dan berfatwa tanpa mengetahui
lebih dahulu dalilnya yang shahih. Jika seseorang menjawab pertanyaan atau
berfatwa atas dasar kejahilan atau atas dasar akalnya maka ia akan menyelesihi
kebenaran dan bisa menyesatkan orang lain.
kemudian berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat lagi menyesatkan (H.R
Imam Bukhari dan Imam Muslim).
menjawab semua pertanyaan tentang agama yang diajukan kepadanya. Hampir tidak
pernah kedengaran darinya kata kata laa adri, aku tidak tahu, kecuali dai yang
betul betul mumpuni ilmunya. Ketahuilah
bahwa menjawab tidak tahu atas suatu pertanyaan tentang agama adalah bagian
dari menghormati ilmu agama.
pertanyaan yang diajukan kepadanya. Khawatir kalau salah karena semuanya akan
dipertanggung jawabkan kelak. Mereka lebih senang jika yang menjawab pertanyaan
adalah orang lain bukan dirinya.
dari kalian telah berani berfatwa pada suatu permasalahan. Pada hal jika
permasalahan itu diajukan kepada Kahlifah Umar bin Khaththab, maka beliau akan
mengumpulkan ahli Badr (orang yang ikut perang Badr dan dalam ilmunya) untuk
meminta pendapatnya.
iqamah.
tergesa gesa bahkan setengah berlari jika sudah mendengar iqamah sudah dikumandangkan.
Ketahuilah bahwa kita memang sangat dianjurkan agar bersegera menuju masjid
untuk shalat berjamaah tapi bukan dengan tergesa gesa ataupun terburu buru.
Tidaklah dianjurkan mendatangi masjid dengan tergesa gesa tapi yang dianjurkan
adalah bersegera dan berjalan dengan tenang. Rasulullah telah mengingatkan kita
semua tentang hal ini.
“Idza sami’tumul iqaamata famsyuu ilash shalaati wa ‘alaikum
bissakiinati wal waqaari walaa turi’uu famaa adraktum fashalluu, wamaa faatakum
fa-atimmuu” . Jika kalian mendengar iqamat, maka bersegeralah
berjalan menuju shalat. Hendaklah kalian menjaga ketenangan, janganlah tergesa
gesa. Gerakan apapun yang
kamu dapati, kerjakanlah dan yang terluput sempurnakanlah. (H.R Imam Bukhari
dan Imam Muslim).
dianjurkan karena cenderung kepada keburukan tapi bersegera dalam
melakukan kebaikan adalah sangat ditekankan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Fastabiqul khairaat” Maka
berlomba lombalah kamu dalam kebaikan (Q.S al Baqarah 148).





































