Aku pernah mengisi workshop tentang Branding Yourself in Social Media di sebuah yayasan sekolah Islam. Aku jadi berkaca pada diri sendiri, bagaimana selama ini aku meniti karier sebagai penggiat social media dan content creator. Apakah sudah bisa meng-influence orang lain dengan kisah-kisahku? Atau hanya sekadar pamer tanpa punya value? Tapi aku yakin dan percaya diri bahwa apa yang kupasang di media sosial intinya adalah berbagi. Karena yang menilai image kita itu adalah orang lain. Di balik itu semua, ternyata branding diri sendiri di social media itu ada ilmunya. Aku juga sambil belajar, sambil berbagi dengan teman-teman di sekolah itu.
Branding Yourself in Social Media. Ini tema simple tapi tanggung jawabnya besar sekali ya. Mengapa? Kamu sendiri dengar kan banyak influencer yang akhirnya kesandung kasus karena salah strategi atau kurang filter di social media. Isu-isu seperti ini juga jadi bahan pikiranku ketika sekarang memutuskan aktif sebagai content creator. Bagaimana kita membangun image yang baik di social media. Tugas kita hanya bekerja sebaik mungkin dan berangkat dari hati, sisanya biarkan orang lain yang menilai.

Aku jadi ingat saat memulai berkecimpung di social media dan blog sejak bekerja di media hiburan remaja. Aku belajar banyak sekali tentang ilmu komunikasi dan jurnalistik. Akhirnya improve sendiri dan membangun blog ini sejak tahun 2012. Lalu aku seriusi tahun 2015 ketika social media Instagram telah beralih fungsi sebagai alat untuk eksistensi dan personal branding. Kalau aku, sudah dari awal membangun image sebagai travel blogger, bahkan di profil Instagram-ku aku tetap mencantumkan diri sebagai travel blogger. Dari blog-lah aku memulai. Bahkan setiap postingan di Instagram, aku selalu bercerita. Sebut saja itu bagian dari proses micro blogging. Karena kan sekarang caption di Instagram bisa memuat tulisan panjang.
Sejak belajar personal branding di social media dan perangkat algoritmanya, aku pun mulai mengatur jadwal posting di Instagram. Kegiatannya mulai rutin dan konsisten sesuai dengan passion yang sedang kutekuni. Aku juga belajar editing foto dan video, ikut kelas kecil-kecilan, dan rajin kumpul dengan teman-teman yang punya passion yang sama. Skill fotografi bisa terus di-upgrade, jadi setiap traveling aku bisa eksplorasi berbagai angle foto dan video agar kontennya tetap fresh. Aku percaya, semua orang bisa dan mampu apalagi smartphone sekarang sudah punya banyak sekali fitur dan aplikasi yang mendukung profesi content creator. Begitulah lika-liku dunia content creator yang panjang sekali.
Orang kini menyebutnya influencer terutama diperuntukkan bagi orang yang aktif di social media. Aku pun sudah bekerja sama dengan berbagai brand, mulai dari brand yang kecil, yang sebatas UMKM hingga yang besar. Alhamdulillah. Inilah yang disebut orang rezeki itu selalu terbuka bagi orang yang pantang menyerah. Niche traveling di blog, Youtube, dan social media yang kuangkat juga tidak hanya terpaku dengan destinasi saja. Akhirnya aku tahu makna dari sebutan influencer. Influencer itu adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain untuk hal tertentu. Bagiku, menjadi travel influencer adalah suatu jalan yang luas. Aku nggak hanya berbagi tentang destinasi, aku bisa berbagi tentang transportasi, kuliner, budaya, kesenian, lifestyle, gadget yang selalu dibawa, skincare yang ringkas untuk pejalan, camilan, kesehatan, hingga fashion dan inspirasi lainnya. Luas sekali bukan? Karena itu, aku tidak mau membelenggu diri hanya di satu bidang.

Sejak pandemi, aku sempat kelabakan. Bagaimana dengan konten-konten travelingku? Apakah menguap begitu saja? Tentu tidak. Aku mulai belajar untuk menyiapkan konten-konten menarik dari rumah. Mungkin branding-ku di social media adalah seorang travel blogger, tetapi ketika pandemi, aku harus membuat variasi dan inovasi. Jadilah aku mulai membuat konten seputar lifestyle, a day in my life, masak-memasak, review makanan, styling diri sendiri untuk tetap eksis di rumah, review skincare, dan segala macam hal produktif lainnya. Kebayang ya, kalau selama hampir 2 tahun ini, bekerja dari rumah sudah menjadi kebiasaan baru.
Menjadi travel blogger dan influencer itu nggak semudah yang orang-orang pikirkan. Tinggal jalan, dapat endorsement, berangkat, jalan-jalan gratis, foto-foto, cuap-cuap di depan kamera, edit foto, atau video, lalu upload, invoice cair. Nggak semudah itu. Karena ada value yang kita angkat di balik itu. Ada personal branding yang kita sisipkan di sana, entah prinsip hidup, pemikiran, idealisme, bahkan kisah pribadi. Karena seorang influencer baru bernilai ketika ia menyisipkan kisah-kisah personal di dalam setiap postingannya. Dan yang terpenting adalah menjadi diri sendiri. Nggak perlu membangun branding image yang bukan diri kita di social media hanya karena ingin mengejar eksistensi. Dari sanalah kita bisa lebih dekat menyentuh teman-teman dan followers. Dari sana pula engangement terjalin. Menurutku itu yang membedakan seorang influencer dan blogger dengan media-media konvensional. Personality menjadi value membangun personal branding di social media.

Kini, sudah banyak platform yang membantu kita untuk bertemu dengan banyak brand, bisa aktif di komunitas, dan bisa berkarya lebih banyak hanya dari rumah. Aku berkenalan dengan IbuSibuk yang ada di aplikasi Orami. Sebenarnya aplikasi Orami adalah paltform e-commerce khusus untuk ibu dan anak. Fitur Ibusibuk Influencer adalah bagian dari program Orami untuk memotivasi para ibu dan perempuan umumnya dapat berkarya di rumah. Berkarya di sini juga tentu berujung pada penghasilan tambahan.
Aku senang sih bisa kenal dengan IbuSibuk Influencer. Meski aku sendiri belum jadi ibu, campaign yang tersedia di platform IbuSibuk sangat beragam. Mulai dari kebutuhan ibu dan anak, produk makanan, pakaian, skincare, hingga produk rumah tangga. IbuSibuk membuka peluang buat semua influencer cewek atau yang berminat menjadi influencer buat join di campaign-campaign yang mereka sediakan.

Jadi, cara gabung di IbuSibuk Influencer:
1. Silakan unduh aplikasi Orami dari Playstore atau Appstore
2. Setelah registrasi, ada fitur IbuSibuk. Langsung klik saja dan registrasi untuk IbuSibuk
3. Gunakan data pribadi yang benar ya, karena ini menyangkut kerja sama dengan brand yang ditawarkan oleh IbuSibuk
4. Scroll berbagai campaign produk yang tersedia. Sesuaikan saja dengan produk yang sesuai dengan image-mu di social media.
5. Pilih salah satu campaign, masuk, dan baca brief serta benefitnya. Lalu tunggu konfirmasi dari Orami via email, apakah kita layak untuk ikut dalam campaign tersebut.
Kerja sama campaign yang ditawarkan dari IbuSibuk terdiri dari product review, giveaway, dan survey. Nggak harus semua campaign diikuti. Pilih campaign yang benar-benar kamu banget. Atau campaign yang memang cocok dengan kita. Seperti aku, memilih produk hijab dan sekaligus aku bisa cerita tentang pemakaian hijab casual yang simple. Dari pemilihan campaign ini, kita juga bisa mencatat tanggal posting agar tidak tumpang tindih. Program-program yang IbuSibuk benar-benar akan membuat kita sibuk. Kalau nggak diagendakan dengan rapi, bisa-bisa kita kewalahan sendiri.


IbuSibuk Influencer nggak sekadar menawarkan kerja sama product review, tetapi juga membangun komunitas. Ada grup chat sendiri bagi IbuSibuk Influencer yang sudah bergabung. Jadi sesama influencer di IbuSibuk bisa saling kenal, diskusi, dan berkolaborasi. Kalau ada komunitasnya begini, kita juga jadi makin semangat berkarya dan membagikan hal-hal positif di social media bukan?
Menjadi influencer itu susah-susah gampang. Kita banyak bekerja sama dengan brand, tapi juga harus bisa memilah produk-produk yang akan kita pajang di social media. Kontennya juga bisa berbentuk soft selling dan hard selling. Melalui #IbuSibukInfluencer ini yang sudah memfilter campaign-campaig-nya, tentu akan sangat memudahkan para ibu-ibu muda untuk eksplorasi diri sebagai influencer. Jika kita sudah bisa membangun personal branding yang baik di social media, membagikan hal-hal menarik menjadi suatu bentuk keharusan karena sudah ada followers yang menanti kisah kita selanjutnya. Siapa yang setuju?
ย






























