sempat hype ya, scroll dikit ketemunya Marie Kondo lagi Marie Kondo lagi *eh
tergantung apa yang di follow sih 😉 Setelah berbulan-bulan gamang memikirkan “perlu beli bukunya apa nggak?” akhirnya aku malah
membelinya sebab bukunya di-display
di samping jalur antrian meja kasir 😝
mengantri memang cenderung menjadi impulshopper 😏.
ini, ironisnya bukan karena bukunya terlalu tebal atau karena bukunya belum
diterjemahkan ke Bahasa Indonesia ya namun karena terlanjur bosan 😂😂😂. Style penceritaan Marie Kondo yang
naratif deskriptif tanpa ada ilustrasi atau footage
picture membuatku mudah mengantuk saat membacanya, makanya agak sulit untuk
menyelesaikannya.
Marie Kondo ini agak kaku …
minimalis, hal yang cukup sulit menurutku, sebab kultur horror vacui
sudah mendarah daging di keseharian orang Indonesia (atau Asia secara garis
besar). Kalau gaya hidup minimalis adalah menggunakan barang-barang yang
diperlukan (seperlunya) maka horror vacui adalah ketakutan akan bidang (space) kosong. Nah lo … gimana? Puyeng
kan? 😏
kita bisa hidup minimalis tanpa harus merasa hampa?
ini 😋
klien-kliennya, yang menurutku levelnya masih byasa-byasa dibandingkan dengan
kita (Indo) yang meskipun rumahnya berkonsep minimalis printilannya banyak
banget. FYI. Saking tenarnya, kelas Marie Kondo ini selalu full booked bahkan untuk waiting list-nya mesti waiting list. Eddins … sekali bukan? 💃
tidying up ini terdiri dari 5 bab, yakni:
- Kenapa kita tidak bisa menjaga kerapian rumah
- Membuang sampai tuntas terlebih dahulu
- Berbenah berdasarkan katagori
- Mencerahkan hidup dan menyimpannya secara apik
- Keajaiban berbenah mengubah hidup anda secara dramatis
serba teratur dan teroganisir, namun masih belum punya cukup nyali untuk
menyingkirkan barang-barang atas dasar ‘masih sayang’ 💋. Saat membaca the life changing magic of tidying up ini
aku merasa agak tercerahkan sebab Marie Kondo berhasil memetakan permasalahan
berbenahku.
berbenah yang (ternyata sering) muncul di kehidupan nyata(ku):
disimpan nggak mau
biasanya berupa barang-barang kurang penting namun memorable yang masih tetap disimpan hanya demi mengamankan memory (yakeles memory card) Haha 😂
nggak butuh adalah hangtag, jurnal,
catatan-catatan kecil, struk belanjaan, booklet
dan brosur tempat wisata, stationary,
tiket dan printilan kiyut lainnya. Pokoknya hal-hal nggak penting semua deh
ini.
sih?
sebab membuang barang tanpa izin, yagimana dong beres-beres (barang) sendiri
nggak pada mau tapinya menuntut rumah selalu rapi. Piye? 😪
menyingkirkan barang-barang nirfaedah bukan milikku saat yang empunya nggak ada
haha Kupikir ini adalah langkah tertepat sebab (bagiku) yang empunya nggak
bertanggung jawab dengan barang miliknya, kalau bertanggung jawab tentunya akan
dirawat. So … bukan sepenuhnya
salahku kan? Ehehe 😏
nggak mau menyingkirkan oleh-oleh (selain makanan) sebab nggak enak kalau
ketahuan sama yang ngasih, ntarnya takut nggak dikasih lagi … elahh … haha 😂😂😂
‘kurang sopan’, eym … bukannya nggak menghargai, namun aku memang nggak
terlalu suka memajang souvenir atau
dekorasi jadi biasanya oleh-oleh tersebut mangkrak di dalam kotak atau laci
bertahun-tahun
nanti butuh?
sampai kapan pun gaya hidup minimalis hanyalah angan-angan belaka 😭. Kita boleh
berfikir jauh ke depan namun mesti diingat juga nggak semua barang layak disimpan,
entah itu karena penurunan kualitas atau trend
yang akan berubah.
rumah tangga macem cangkir atau piring yang sebenarnya nyebelin karena udah
pada nggak matching. Bukannya nggak
mau menyingkirkan ya … hanya saja kadang merasa khawatir mendadak butuh.
mau kehilangan … maruk banget laini yhaha … 😊 Aku sering merasa begini,
makanya aku (sebenarnya) lebih suka melungsurkan barang ketimbang menyingkirkannya.
kotak atau lemari khusus, siapapun yang menginginkannya boleh mengambilnya (semuanya
kalau bisa) barulah sisanya aku singkirkan. Satu hal yang nggak aku sadari
adalah apakah barang lungsuran tersebut berfaedah atau malah menambah masalah bagi
empu barunya mwehehe 😏
tanpa welas asih yha~ 😏 Awalnya aku juga merasa nggak tega berpisah dengan barang
yang sudah melekat di keseharian, tapi Marie Kondo memang membuatku memilih …
Kupikir ‘seni menyingkirkan’ lebih cocok ketimbang ‘seni berbenah’ yang menjadi
trade mark-nya Marie Kondo ini haha 😂😂😂
… Hampa! 💤
kehampaan, pada akhirnya ia pun mengakui bahwa metodenya nggak selalu berhasil
dan memperbaharuinya. Marie Kondo menyadari bahwa setiap barang memiliki nyawa,
sehingga setiap barang yang disimpan haruslah memberikan kebahagiaan bagi
pemiliknya. Makanya kemudian doi menulis buku berjudul The Sparks of Joy (*yang
masih dipertimbangkan mau beli apa nggak).
ini aku merasa lebih fresh dan ringan
… haha 😁 Pantesan ya di film-film kalau putus dengan pacar pasti pada langsung lari
ke kamar, menangis semalam suntuk sambil menyobek-nyobek photobox, meng-unfollow
akunnya dan membuang barang-barang peninggalannya, ternyata memang lebih melegakan
dan mempermudah move on … 💗
yang penting kita faham dulu apa intisari dari berbenah ini. Kalau sudah faham
barulah diaplikasikan, sebab nggak semua orang memiliki kemampuan dan kondisi psikologis
yang sama dalam hal berbenah. Dan yang terpenting, jangan mudah tergoda untuk
kembali mengisi ruang yang sudah berhasil dibenahi dengan printilan-printilan
nggak penting lainnya hehe
magic of tidying up aku merasa ‘dekat’ dengan sosok Marie Kondo, mungkin
karena sama-sama senang berbenah. Track
record berbenahku pun nggak jauh berbeda.
Yaps! Aku melakukan apa yang Marie Kondo lakukan sedari belia, makanya urusan
melipat baju, mengorganisir barang atau menata ruangan bukanlah hal yang sulit
untukku. Yang sulit justru mengikhlaskan barang-barang tersebut untuk disingkirkan.
life changing magic of tidying up ini sebab penasaran dengan metode
berbenah ala Kon-Mari, aku malah penasaran dengan cara Marie Kondo menyeleleksi
barang yang akan disingkirkan sekaligus ingin mengecek: sudah benarkah berbenahku ini?
buku the life changing magic of tidying
up ini adalah salah buku terbaik tentang berbenah. So, bagi kalyan-kalyan sekalyan yang senang atau berminat dengan
berbenah serta tertarik dengan konsep gaya hidup minimalis bukunya Marie Kondo
ini highly recommend yaw!





































