 |
| Air sungai terlihat coklat tapi dasarnya terlihat |
Perjalanan dimulai dengan menyusuri sungai dan menikmati beningnya air sungai. Kiri dan kanan sungai yang tidak terlalu lebar ini ditumbuhi vegetasi yang cukup lebat dan rindang, beberapa burung seperti enggang beterbangan dari dahan satu ke yang lain, termasuk monyet-monyet yang mencari makan di tepi sungai. 10 menit berlalu, kami diajak singgah sebentar melihat-lihat perkampungan suku Punan di kampung Batu Bungan. Disini ada pasar yang menjual pernak-pernik hasil buatan warga lokal. Gelang, kalung dan gantungan kunci dari hasil hutan berupa manik-manik dan rotan bisa dibeli sebagai oleh-oleh. Harganya tidak terlalu mahal RM 5-20 saja.
 |
| Vegetasi hutan di tepi sungai |
 |
| Kapal merupakan transportasi di Mulu |
 |
| Lubang gua Lagang di langit langit |
Lepas dari sini kami menyusuri sungai lagi kurang lebih 20 menit dan sampai di lanting untuk masuk kedalam hutan.ย Gary mendahului masuk menyusuri rute yang ada, terdapat beberapa penunjuk dari kayu, beberapa pohon besar tertulis nama dan informasi sehingga mempermudah petualang mendapat informasi. 30 menit berjalan kami mulai menapaki tangga menuju mulut gua. Melewati sebuah pintu yang akan akan ditutup setiap pukul 5 sore. Jalan masuknya sudah tersusun seperti jembatan dengan pinggiran yang dipasang tali. Sengaja dibuat jauh dari dinding gua agar tidak ada tangan jahil yang menyentuh. Bagian gua termasuk stalagtit dan stalagmit bisa rusak terkena keringat manusia.
 |
| Bagian dalam gua Lagang yang gelap |
 |
| Stalagtit dan stalagnit Gua Lagang |