![]() |
| Setelah selama 20 tahun sholat berjamaah di garasi, muslim di Horn, Hamburg, ahirnya memiliki sebuah masjid yang layak dari sebuah bangunan gereja yang sudah tidak digunakan lagi karena sepi Jema’ah. |
Hamburg Jerman, pada awalnya adalah Gereja Lutheran Capernaum (Kapernaumkirche)
yang berada di distrik Horn pusat kota Hamburg, Jerman. Bangunan yang merupakan
salah satu situs budaya kota Hamburg sudah terbengkalai sejak tahun 2002
dikarenakan masalah finansial karena merosotnya jumlah jema’ah. Piano serta
lonceng Gereja sudah diserahkan ke komunitas lain. Di tahun 2004 bangunan
gereja tersebut kemudian dibeli oleh komunitas muslim Harmburg yang tergabung
dalam Al-Nour Islamic Center dan di konversi menjadi masjid.
bangunan Gereja menjadi Masjid memang bukan hal yang mudah terlebih lagi
bangunan tersebut merupakan salah satu cagar budaya, Konsultasi dengan otoritas
cagar budaya senantiasa dilakukan sebelum dan selama proses rekonstruksi
bangunan. Perubahan mendasar mau tidak mau dilakukan di bagian dalam bangunan,
altar serta ornamen lainnya dibongkar diganti dengan kaligrafi Islam, orientasi
bagian dalam pun berubah menghadap ke arah kiblat setelah sebelumnya
ber-orientasi ke arah utara. Pembangunan area mihrab dan mimbar, perubahan
sistem pemanas ruangan, tata cahaya dan tata suara, pembuatan tempat wudhu, pemasangan
karpet dan sebagainya. Ditambahkan juga area mezanin sebagai tempat khusus
untuk jemaah akhwat untuk memisahkannya dari jemaah Ikhwan.
![]() |
| Sekeliling dinding bangunan ini dilengkapi dengan jendela jendela kecil dengan hiasan mozaik kaca patri, |
tetap dipertahankan seperti mozaik abstrak kaca patri karya seniman Claus
Wallner (1926 – 1979 suami dari Ursula Querner) tetap dipertahankan di bagian
celah lobang angin bebentuk sarang lebah di hampir sekeliling tembok bangunan,
yang juga berfungsi sebagai jendela jendela kecil. Namun demikian simbol Salib
di puncak menara setinggi 44 meter di izinkan untuk diganti dengan simbol Allah. Keseluruhan proses
rekonstruksi bangunan tersebut menghabiskan dana hingga 1,5 juta Euro yang di
berasal dari sumbangan para jema’ah.
kepemilikan sejak tahun 2004, baru pada pertengahan Agustus 2014 proses
rekonstruksi besar besaran terhadap bangunan ini dilakukan. Setelah persetujuan
dari pihak berwenang keluar pada bulan Januari 2014. Beberapa kendala terjadi
termasuk penolakan dari sekelompok masayarakat setempat.
Center Al-Nour
Center Al-Nour eV
Al-Nour
sebuah Organisasi berbadan hukum, juga dikenal luas sebagai Masjid Al-Nour
didirikan pada tahun 1993 di St. George kota Hamburg, Jerman. Sebagaimana pusat
ke-Islaman lainnya masjid Al-Nour ini
pun terbuka untuk jemaah dari kalangan manapun, hingga kini jemaah masjid ini berasal
dari tak kurang 30 kebangsaan yang berbeda yang tinggal di kota Hamburg.
Diantara para jemaah-nya merupakan orang Arab dari Timur Tengah dan Afrika
utara, muslim kulit hitam Afrika, muslim dari Asia termasuk dari Afganistan dan
Indonesia serta tentu saja warga Jerman.
di masjid menggunakan bahasa Jerman atau diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman
termasuk Khutbah Jum’at, pengajian, proses belajar mengajar hingga festival
yang diselenggarakan oleh masjid. Selain jemaah yang berasal dari suku bangsa
yang berbeda beda, latar belakang propesi jemaah masjid ini pun beragam mulai
dari mahasiswa, buruh, dokter, pengacara, insinyur hingga para pengusaha.
bagi aktivitas non peribadatan termasuk menerima kunjungan dari para murid
sekolah, mahasiswa, kelompok masyarakat yang berminat, hingga kunjungan dari
instansi pemerintah. Sekali setahun masjid ini menyelenggarakan Open Mosque
Day, semacam acara open house di setiap tanggal 3 Oktober dengan
menyelenggarakan beragam acara acara menarik termasuk kunjungan masjid dan kuliah
umum.
Centre Al-Nour merupakan anggota dari SCHURA – Dewan Komunitas Islam di
Hamburg, dan salah satu Chief Executive Officer (CEO) SCHURA adalah Daniel
Abdin yang merupakan CEO dari Islamic Center Al-Nour. Beliau mendapatkan
kehormatan atas nama SCHURA untuk menandatangai fakta antara the Free and
Hanseatic City of Hamburg dan the Islamic religious communities SCHURA, DİTİB
dan VIKZ.
tujuh tahun perjuangan dengan begitu banyak penolakan untuk pembelian bangunan
untuk masjid. Januari 2014 pemerintah setempat ahirnya mengeluarkan persetujuan
untuk alih fungsi bekas bangunan Gereja Capernaum Church menjadi masjid.
El-Rajab. Beliau sudah menikah dan sudah dikaruniai 3 anak. Sosok yang memiliki
kepribadian terbuka dan bersahabat. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana di
tahun 1992 di Universitas Al-Azhar di Beirut, Lebanon. Di Universitas yang sama
beliau juga memperoleh gelar master di bidang syariah.
AL-Nour
Center A-Nour sangat aktif dengan berbagai aktivitas termasuk di dalamnya
adalah:
- Pelaksanaan sholat berjamaah lima waktu termasuk sholat
Jum’at - Islamic festival untuk anak anak dan keluarga
- Konseling pernikahan dan keluarga termasuk penyelesaian
perselisihan rumah tangga - Pelaksanaan prosesi pernikahan dan perceraian
- Pengurusan kematian dan pemakaman
- Membuka dialog dengan pihak otoritas dan institusi terkait
- Panduan masjid untuk sekolah
- Open Mosque Day
- Acara traveling untuk anak muda
- Pelajaran bahasa Arab untuk anak anak
- Pelajaran Islam untuk anak anak, pemuda dan dewasa
- Pelaran Al-Qur’an
- Ceramah umum oleh tokoh tokoh Islam
![]() |
| Interior Islamic Center Al-Nour, sebelum di rombak menjadi ruangan masjid |
kegiatan pertama yang dilakukan di Masjid ini diselenggarakan untuk
memperkenalkan masjid baru kepada masayarakat luas lintas agama. Acara yang
cukup menarik perhatian masyarakat sekitar termasuk dari kalangan non muslim
yang turut hadir memberikan apresiasi. Panitia penyelenggara dengan telaten
memberikan penjelasan terhadap pertanyaan pertanyaan dari para tamu termasuk
pertanyaan mendasar seperti ; kenapa lambang salibnya kok diganti dengan
lambang bulan sabit, mengapa masuk ke masjid harus membuka alas kaki dan lain
lain.
Al-Nour di bekas Gereja ini, tentu saja memberikan nuansa baru bagi muslim dan
perkembangan islam di Hamburg. Sebelumnya, selama 20 tahunan muslim disana
beraktivitas termasuk melakukan sholat berjamaah Jum’at di bekas bangunan
garasi dengan atap yang rendah bersebelahan dengan pintu masuk tempat
pembuangan sampah. Lebih dari 600 muslim dari 30 negara secara reguler
berkumpul disana untuk sholat Jum’at berjamaah. Tempat yang tidak terlalu buruk
untuk melaksanakan sholat berjamaah, hanya saja masyarakat sekitar meminta kaum
muslim disana untuk terbuka namun memang agak sulit untuk terbuka sementara
untuk sholat berjamaah saja terpaksa dilakukan di garasi.
menjadi masjid memang harus berkompromi dengan dengan beberapa hal penting, termasuk
bahwa bangunan tersebut sudah masuk dalam cagar budaya sehingga keseluruhan
bentuk bangunan tampak luar tetap dipertahankan sebagaimana aslinya, perubahan
yang terjadi dari bentuk bangunan hanya mengganti simbol salib di ujung menara
lonceng dengan simbol Asma
Allah. Sedangkan bagian dalam bangunan memang mau tidak mau harus di
rombak total sesuai dengan fungsi sebagai masjid seperti yang sudah di uraikan
sebelumnya. Seperti yang jelaskan oleh Imam masjid bahwa pembelian bangunan
Gereja untuk dijadikan masjid bukanlah sesuatu yang direncanakan namun memang
terjadi begitu saja, Hadir pada saat benar benar dibutuhkan. Alhamdulillah.***








































