Imam Ghazaly telah menegaskan bahwa setiap orang
yang alim (cerdik cendekia/sarjana) belum tentu pantas untuk menjadi guru.
Kepantasan menjadi guru bukan hanya diukur dari ilmu atau wawasan yang
dimiliki, akan tetapi ada beberapa karakter yang mesti melekat. Di antaranya orang
yang mampu memalingkan diri dari kecintaan terhadap duniawi dan prestise atau
popularitas dunia, selanjutnya selalu melatif diri (riyadhoh nafsi) dengan menyedikitkan makan, bicara, tidur dan
selalu memperbanyak dzikir, bersedekah, serta puasa.
sabar, syukur, tawakkal, yakin (optimis), qanaah, berjiwa tenang, dermawan,
bertawadhu’, berilmu, jujur, dan sifat-sifat lainnya yang melekat pada para
rasul-rasul. Apabila sudah menemukan guru yang seperti ini, nasehat al Ghazaly
ikutilah, jangan membatahnya, muliakanlah secara lahir dan batin (Ghazaly, 2011:169–70). Berikutnya yang perlu dibahas selain
kualifikasi guru menurut pandangan sufi, yakni terkait dengan relasi antara
guru dan murid.


























